Monday, August 20, 2007

Budi Setiyono Memberi Referensi Lekra


Dh,

Saya menegaskan bahwa saya bukan pendukung siapa-siapa. Sama seperti Bung Arya, saya menghormati Pram sebagai sastrawan. Tindakannya di masa lalu mesti dikaji secara serius. Tidak semata bersandar pada buku "Prahara Budaya" yang bias.

Kalau Bung Arya ingin minta buku lain selain "Prahara Budaya", saya bisa sebut sederet lainnya. Ada karya Keith Foulcher yang sampai saat ini dinilai paling objektif. Ada sejumlah sejarawan yang sedang menggarap soal Lekra juga, tapi kita masih menunggu hasilnya. Alex Supartono juga pernah mengulas soal sejumlah bahan "polemik" ini dalam (saya rasa masih bisa dibaca atau didownload di situs Edi Cahyono atau lewat Google) --di dalamnya juga diulas "Prahara Budaya" tapi dalam konteks "polemik" kebudayaan.

Kalau ingin dari sisi lainnya, dari kelompok Lekra, ada JJ Kusni "Turba di Klaten", Joebar Ajoeb (sekjen Lekra II) "Sebuah Mocopat Kebudayaan Indonesia" atau Besuki Resobowo "Bercermin Di Muka Kaca [Seniman, Seni, dan Masyarakat]". Sebagian buku itu masih bisa ditemukan di toko buku atau penerbitnya. Maaf, saya tak hendak menjejalkan data-data saja. Saya sendiri belum mencari data tentang pembakaran buku, karena fokus saya bukan ke sana (tapi nanti saya coba sempatkan menelisiknya kembali).

Saya ingin lebih kritis melihat masalah ini. Pram memang sosok unik, juga dalam Lekra. Dia jadi juru bicara Lekra, padalah ada Joebar Ajoeb, sekjennya. Tapi Pram sudah besar ketika masuk Lekra, juga sastrawan lainnya. Orang semacam Pram dibutuhkan Lekra. Ini sama seperti orang macam Rosihan Anwar dibutuhkan oleh PSI. Masa itu bukan hal aneh intelektual atau sastrawan "bergabung" dengan suatu partai atau lembaga tanpa terikat olehnya, tak bisa diatur-atur. Kekurangan Pram adalah dia "single fighter," kata AS Dharta, senior sekaligus tutor Pram. Akibatnya, seringkali pernyataannya tidak sesuai
dengan garis Lekra. Artinya, mungkin saja Pram melakukan pemberangusan itu. Dan kalau memang terjadi, berdasarkan penelitian yang serius, kenapa kita tidak mengakuinya. Paling kita kaget, sama seperti kekagetan orang ketika tahu sastrawan Gunter Grass pernah menjadi anggota SS NAZI, tapi tak mengurangi kekaguman kita pada karya-karyanya. Masalahnya, belum ada penelitian macam ini.

Saya tidak yakin forum pertemuan dengan pelaku sejarah akan menyelesaikannya --hal yang dari dulu diinginkan tapi tak terwujud. Kalau kita bisa mendatangkan Keith Foulcher atau Stephen Miller, hm saya senang sekali. Bolehlah yang tua-tua juga datang.

Senantiasa,

Budi Setiyono

No comments: