Tuesday, August 28, 2007

Kemerdekaan adalah nasi
Dimakan jadi tai

-- Puisi "Kemerdekaan" pada Agustus 1982
Wiji Thukul (1963 - hilang 1998),


Norman Harsono dengan hati-hati menunjukkan seekor kepiting, yang dipegangnya di pantai Pulau Tomea. Kepiting ini dibebaskan sesudah dipamerkan Norman ke papanya.


Norman Akhirnya Dipindah ke Bintaro
Retno Wardani, tanpa menghiraukan protes soal caranya mengasuh anak, memindahkan Norman, dari Pondok Indah ke Bintaro. Jarak tempuh ke sekolah makin panjang.

Iqbal Athas Intimidated in Colombo
One top journalist in Colombo had his police guards withdrawn from his house amid concern that he had probably upset some powerful figures in Sri Lanka.

Apresiasi Jurnalis Jakarta 2007
Siapa wartawan yang mendapat penghargaan dari Aliansi Jurnalis Independen? Dari media cetak? radio? televisi? Bagaimana rata-rata mutu peserta lomba ini?

Kursus Narasi Angkatan III
Yayasan Pantau membuka kursus penulisan panjang, untuk kelas November hingga Maret, buat mereka yang ingin belajar bertutur. Ada materi baru soal Pham Xuan An dari Saigon.

Protes Melawan Pembakaran Buku
Indonesia membakar ratusan ribu buku-buku pelajaran sekolah. Ini pertama kali dalam sejarah Indonesia, maupun Hindia Belanda, dimana buku sekolah disita dan dibakar.

Lampung, Lampung, Lampung
Bagaimana mengembangkan suratkabar daerah dari serbuan televisi? Apakah suratkabar Lampung punya kemungkinan mendobrak jurnalisme Majapahit ala Jakarta?

Aboeprijadi Santoso Pensiun
Wartawan terhormat dari radio Hilversum, membongkar kepalsuan Deklarasi Balibo, ketika beberapa tokoh Timor Timur pada November 1975, diminta teken dokumen minta integrasi dengan Indonesia.

Indonesia: A Lobbying Bonanza
Taufik Kiemas, when his wife Megawati Sukarnoputri was still president, collected political money to hire a Washington firm to lobby for Indonesian weapons. This story is a part of a project called Collateral Damage: Human Rights and US Military Aid

Dari Sabang Sampai Merauke
Sejak Juli 2003, saya berkelana dari Sabang ke Merauke, guna wawancara dan riset buku. Intinya, saya pergi ke tujuh pulau besar, dari Sumatra hingga Papua, plus puluhan pulau kecil macam Miangas, Salibabu, Ternate dan Ndana. Inilah catatan kecil perjalanan tersebut.

Hoakiao dari Jember
Ong Tjie Liang, satu travel writer kelahiran Jember, malang melintang di Asia Tenggara. Dia ada di kamp gerilya Aceh namun juga muncul di Rangoon, bertemu Nobel laureate Aung San Suu Kyi maupun Jose Ramos-Horta.

State Intelligence Agency hired Washington firm
Indonesia's intelligence body used Abdurrahman Wahid’s charitable foundation to hire a Washington lobbying firm to press the U.S. Congress for a full resumption of military assistance to Indonesia. Press Release and Malay version

From the Thames to the Ciliwung
Giant water conglomerates, RWE Thames Water and Suez, took over Jakarta's water company in February 1998. It turns out to be the dirty business of selling clean water.

Media dan Jurnalisme
Saya suka menulis soal media dan jurnalisme. Pernah juga belajar dengan asuhan Bill Kovach dari Universitas Harvard. Ini makin sering sesudah diminta menyunting majalah Pantau.

Bagaimana Cara Belajar Menulis Bahasa Inggris
Bahasa punya punya empat komponen: kosakata, tata bahasa, bunyi dan makna. Belajar bahasa bukan sekedar teknik menterjemahkan kata dan makna. Ini juga terkait soal alih pikiran.

Dewa dari Leuwinanggung
Saya meliput Iwan Fals sejak 1990 ketika dia meluncurkan album Swami. Waktu itu Iwan gelisah dengan rezim Soeharto. Dia membaca selebaran gelap dan buku terlarang. Dia belajar dari W.S. Rendra dan Arief Budiman. Karir Iwan naik terus. Iwan Fals jadi salah satu penyanyi terbesar yang pernah lahir di Pulau Jawa. Lalu anak sulungnya meninggal dunia. Dia terpukul. Bagaimana Iwan Fals bangkit dari kerusuhan jiwa dan menjadi saksi?

Norman Akhirnya Dipindah ke Bintaro


Pagi ini, ketika mengantar Norman ke sekolah, dia cerita bahwa dia sudah tidur di rumah neneknya di Bintaro tadi malam.

Aku mengikuti terus proses perpindahan ini. Kesannya, perpindahan ini dilakukan bertahap. Mulanya, hari Minggu, Retno Wardani, ibunya Norman, mengangkut semua barang-barang Norman, dari meja belajar hingga pakaian, dengan mobil barang sewaan ke Bintaro. Minggu malam, mereka kembali ke rumah Pondok Indah.

Senin pagi, aku menjemput Norman di rumah Pondok Indah. Senin siang, ketika mengantar Norman pulang ke rumahnya di Pondok Indah, Retno sudah menunggu. Norman langsung dibawa ke Bintaro.

Senin malam, mereka sudah tidur di Bintaro. Namun Retno Selasa subuh membawa Norman ke Pondok Indah. Aku menjemput Norman untuk pergi ke sekolah di Kemayoran masih di Pondok Indah.

Selasa siang ini, Norman bilang dia diminta pergi ke Bintaro. Aku lewat jalan tol dari Ancol hingga Ulujami. Aku antar Norman ke rumah neneknya, M.Th. Koesmiharti, di Jalan Camar III, Bintaro Sektor III. Kami sama-sama tertekan dengan perpindahan ini. Norman harus bangun lebih pagi. Aku juga harus menghabiskan waktu hingga lima jam sehari di jalanan untuk jemput antar anakku sekolah.

Aku minta Norman tabah. Anggap ini sebagai latihan untuk menghadapi kesulitan serta kebodohan (ignorance). Kelak ketika dia dewasa, kesulitan dan tekanan macam ini akan makin banyak dan makin besar.

Hari ini, Sri Maryani, pengasuh Norman, ikut pergi ke sekolah. Maryani bertugas membayar uang sekolah Norman di Gandhi Memorial International School. Maryani juga cerita banyak soal perpindahan ini. Dia mengatakan "Bu Retno keras kepala" dan tak mau memperhatikan kepentingan anaknya sendiri.

Waktu istirahat dan waktu belajar Norman berkurang. Jarak Bintaro-Kemayoran bukan tak jauh. Aku harus keluar biaya lebih besar untuk bensin dan karcis tol. Retno mengambil keputusan secara sepihak tanpa mau berunding dengan aku.

Pagi ini, Norman mengulangi harapannya kepada Komisi Perlindungan Anak Indonesia. Dia bilang seseorang dari Komisi tampaknya menelepon ibunya. Norman juga menyatakan keinginan agar dia bisa tinggal di Senayan bersama aku dari Senin hingga Sabtu.

Aku tanya mengapa berubah? Maryani menjawab, "Dek Norman tadi juga bilang gitu ke aku, Pak. Katanya, dia sekarang mau pindah ke Senayan dari Senin sampai Sabtu."

Maryani juga mengulangi ucapannya beberapa bulan lalu bahwa dia ingin berhenti bekerja. Dia merasa tak nyaman bekerja dengan Retno. Maryani bekerja sejak Desember 2002. Dia mengasuh Norman sejak Norman masih kelas satu. Maryani juga bilang Retno sudah tak bekerja lagi sejak banjir awal tahun ini. "Kerjanya setiap hari di rumah," katanya.

Retno dulu bekerja untuk Indonesian Forum of Parliamentarians on Population and Development. Dua tahun lalu, dia pernah tanya bagaimana cara mendirikan sebuah lembaga swadaya masyarakat. Dia minta diberi contoh anggaran dasar. Dia bilang akan keluar dari IFPPD dan bikin kantor sendiri. Retno tak pernah memberitahu perkembangan pekerjaannya.

Norman sebelumnya mengatakan kepada Komisi hari Sabtu bahwa dia ingin tinggal lima hari di Senayan, Selasa hingga Sabtu. Artinya, 5x24 jam bersama aku dan 2x24 jam dengan ibunya. Perpindahan ke Bintaro tampaknya membuat Norman makin gerah dengan kesulitan-kesulitan ini. Dia mengatakan dia rasa kasihan dengan aku, kecapekan tiap hari antar-jemput. Aku bilang orang tua harus bertanggungjawab terhadap anaknya.

Ketika tiba di Bintaro, neneknya membukakan pintu pagar. Koesmiharti menawari aku mampir. Aku mengucapkan terima kasih, "Saya lagi banyak kerja, Bu." Aku naik mobil lagi dan kembali ke Senayan, melanjutkan penulisan buku dan pekerjaan Yayasan Pantau, yang setiap siang berhenti dua jam lebih, untuk mengatasi "orang keras kepala" ini.

Previous Stories
Norman Menjelang Perceraian
Retno dan Asma
Kredit Kepemilikan Rumah BII
Asthma Cases on the Rise Among Children

"Jangan Seenak Jidatmu Sendiri!"
Norman Dipindah ke Bintaro
Surat untuk Komisi Perlindungan Anak Indonesia
Kronologi Hak Pengasuhan Norman Harsono

Dokter Andreas Liando di Siloam Gleneagles
20 Menit Senayan-Kemayoran
Norman Bertemu Komisi Perlindungan Anak
Transportasi Norman Rp 4.5 Juta Sebulan
Dunia Fantasi dan Pelajaran Sejarah

"Deadly" Climate for Reporters and Aid Workers


By Thalif Deen

UNITED NATIONS, Aug 28 (IPS) - Sri Lanka, which is fighting a longstanding insurgency against Tamil separatists, is fast gaining notoriety as "one of the world's worst places" both for journalists and humanitarian aid workers -- due primarily to a rising death toll and veiled threats from government and paramilitary forces in the country.

At least four international non-governmental organisations monitoring the media -- the Committee to Protect Journalists, the International Press Institute, Reporters Sans Frontieres (RSF) and the International Federation of Journalists -- have singled out Sri Lanka as "deadly" for journalists.

"Journalists have been victims of murders, threats, kidnappings and censorship," said RSF in a report released last week.

An RSF fact-finding team specifically zeroed in on "the isolated, Tamil-populated Jaffna peninsula" where there have been "grave press freedom violations".

In 2006, described as "the most savage year for journalists and news media workers", the most dangerous place was Iraq where 46 newsmen were killed, followed by the Philippines (10), Mexico (seven), Sri Lanka (five) and Pakistan (four).

Last week, the consulting editor at the Sri Lanka Sunday Times, Iqbal Athas, was threatened and harassed for a series of articles he wrote detailing a corruption-ridden multi-million-dollar government deal involving the purchase of fighter planes from Ukraine.

Recounting the latest incident, Athas told IPS that a person purporting to be a retired Air Force officer walked into the Wijeya Newspapers Ltd., the publishers of the Sunday Times and several other publications in the native language Sinhala, and threatened the staff.

The visitor met the English-to-Sinhala translator, W.D. Gunaratne, and warned him not to translate any of Athas's articles into the local language newspaper (which has a larger readership than English language newspapers in Sri Lanka).

"He warned Gunaratne he would have to face the consequences if that happened," said Athas, who is also a military correspondent for the London-based Jane's Defence Weekly.

The visitor also warned that if Athas "does not give up his job and leave Sri Lanka within three months", he would meet the same fate that befell Tamil journalists, most of whom were killed by "unknown gunmen".

The Committee to Protect Journalists' Abi Wright told IPS that her organisation "is alarmed by the grave threats facing veteran journalist Iqbal Athas, who has come under extraordinary pressures following his investigations into irregularities surrounding a 2006 deal to purchase MiG-27 fighter jets from Ukraine".

She said Athas has already told CPJ that over the past two weeks-- when his security detail was abruptly withdrawn by the government after the publication of his articles about the deal-- he has been harassed and followed by unknown persons. She said Athas fears for his life and for the safety of his family.

"CPJ calls on the Sri Lankan government to act immediately to provide adequate security and ensure the safety of Iqbal Athas," Wright added.

She said that Athas is well-known as the defence columnist for the Sunday Times of Sri Lanka and a frequent contributor to international media outlets, including Cable News Network, Jane's Defence Weekly and the Times of London. He also received CPJs International Press Freedom Award in 1994.

Wright said CPJ will be sending a letter of protest to Sri Lankan President Mahinda Rajapakse later this week.

The Colombo-based Free Media Movement (FMM) has already expressed its "grave concern regarding the safety and security of senior English language journalist Mr. Iqbal Athas."

"As senior Defence columnist for the Sunday Times, in the past months, Mr. Athas has been responsible for a series of articles on the irregularities in procurement of MIG aircraft for the security forces, from a company based in Ukraine," FMM said in a statement released Monday.

Referring to the continued threats to Athas and his family, FMM said: "In a context in which there have been repeated attacks and harassment of journalists and media persons in Sri Lanka in the past months, the Free Media Movement is convinced that there is a very real basis for Mr. Athas fears regarding his security."

"We call on the president, as minister of defence, to take all steps necessary to provide Mr. Athas with adequate security immediately. Failure to do so will only provide yet another indication of the lack of concern on the part of the government for the safety and security of media personnel in Sri Lanka."

Meanwhile, after a recent visit to Sri Lanka, the U.N. under-secretary-general for humanitarian affairs described the Indian Ocean island nation as "one of the most dangerous places" for aid workers, second only to Afghanistan.

Addressing a meeting of the Security Council in June, John Holmes said that in 2006, 24 aid workers were killed in Sri Lanka, including 17 from Action Contre Le Faim, "in a single horrifying act."

The perpetrators of these and similar attacks -- including the killing of two Red Cross workers in a Palestinian refugee camp in Lebanon and the murder of a Caritas International aid worker in Darfur, Sudan -- "are yet to be brought to account," Holmes said.

He said that civilians are too often deliberately targeted to create a climate of fear and to destabilise populations.

Holmes also pointed out that countries as far apart as Sri Lanka and Colombia were experiencing assassinations, disappearances and other violations of international humanitarian law and human rights law.

"In Sri Lanka, over 600,000 inhabitants of the Jaffna peninsula have faced shortages of basic necessities since August of last year when the government and the LTTE restricted access to the peninsula by road and by sea respectively," Holmes continued.

Implying Sri Lanka was virtually culpable of war crimes, he added: "Killing humanitarian staff and arbitrarily denying access violates international humanitarian law."

Ambassador John McNee of Canada placed Sri Lanka in the company of Sudan, Afghanistan, Iraq, northern Uganda, Lebanon and Somalia as countries that have failed to provide protection to civilians in war zones.

"Girls and boys are recruited as combatants; civilians become unwitting targets of suicide bombers; families are displaced from their homes; sexual violence is a deliberate weapon of war; and civilian infrastructure and economies are often shattered," McNee said.

The consequences of these actions play themselves out daily, he pointed out, in countries ranging from Sudan and Afghanistan to Somalia and Sri Lanka.

A Letter to Nanda Mallawaratchchi




Jakarta, 25 January 2007

Major General Nanda Mallawaratchchi
Sri Lankan Ambassador to Jakarta
Jl. Diponegoro No. 70 Menteng
Jakarta 10310
Tel (62-21) 314-1018, 316-1886, 3190-2389
Fax (62-21) 310-7962


Dear General Mallawaratchchi,

I am writing this letter to raise my concern about the safety of my dear friend, Iqbal Athas, the defense correspondent of the Sunday Times in Colombo. Last week, Athas sent an email to scores of journalists worldwide, saying that he feels intimidated and threatened after the publication of his report into an obscure arms deal between the Sri Lanka government, the government of Ukraine and a shady company in the UK. His security guards, who had been assigned earlier nearly ten years ago by the Sri Lankan government, were withdrawn without notice on Saturday 18 Aug. 2007. I am writing this letter to ask you asking Colombo to return the guards to Athas’ house. I think it wills a loss for both his newspapers, and more importantly, for the societies in Sri Lanka if something serious is to happen to Athas.

Athas and I have known each other since 1995 when meeting in a Hong Kong seminar. We frequently meet each other, as we are members of the International Consortium of Investigative Journalists since 1999. In March 2004, both of us joined a delegation organized by the New York-based Committee to Protect Journalists to visit Dhaka and to call upon the Bangladesh government to vigorously investigate and prosecute all those who murder, assault, or threaten the country’s journalists.

In December 2005, my son Norman and I had a one-week vacation in Colombo, staying at the Athas’ house. Norman befriended Jasmine, Iqbal’s only daughter. They told me the saga on 12 Feb. 1998, when five armed men raided their three-story house. At approximately 21:00, as Athas was watching television with his wife and then seven-year-old Jasmine, the five armed men forced their way into the house and assaulted a household watchman and the family cook at gunpoint. A man put an automatic pistol to Athas’ head and demanded that he go downstairs. Jasmine screamed and she very probably saved her father’s life. Norman and I witnessed how policemen guarded their residence. The threat against Athas was very real.

That story reemerged again last week when I read Athas’ email. He told me that he had been evacuating his family. For more details about the story, you could click the Sunday Times. I sometimes also write stories for his newspaper. He is also the CPJ's 1994 International Press Freedom award winner.


Sincerely,


Andreas Harsono
Jalan Raya Kebayoran Lama 18 CD
Jakarta 12220
Tel. +62 21 7221031 Fax. +62 21 7221055
Weblog www.andreasharsono.blogspot.com

Sunday, August 26, 2007

Norman Bertemu Komisi Perlindungan Anak


Hari Sabtu ini, bersama isteri dan anak, saya pergi ke kantor Komisi Perlindungan Anak Indonesia di Jl. Teuku Umar 10, untuk bertemu dengan Susilahati, ketua Kelompok Kerja Pengaduan, guna membicarakan rencana ibunya Norman, Retno Wardani, memindahkan Norman dari Pondok Indah ke Bintaro.

Kami diterima di ruang kerja Susilahati. Dia ditemani dua staf KPAI: Maya Nur Elisa, lulusan magister hukum pidana dari Universitas Trisakti, serta Hendra Kusumah Jaya, seorang lawyer lulusan Fakultas Hukum Universitas Pancasila. "Ibu Susi" sendiri berasal dari organisasi perempuan Aisyiyah. Dia pernah jadi salah seorang ketua Aisyiyah.

Saya tahu "Ibu Susi" menangani mediasi ini sejak Rabu, ketika ketua KPAI Giwo Rubianto Wiyogo mengirim SMS, "Saya sdh baca surat pengaduan KPAI dan Pokja Pengaduan n Fasilitas segera menindaklanjuti, dan pak Harsono dpt koord dng ka pengaduan Ibu Susi. Tk. Smg ada solusi yg tbaik bg Norman."

Mereka minta saya menjelaskan mengapa saya mengadukan ibunya Norman, atau mantan isteri saya. Saya bilang ada dua prinsip yang saya pakai dalam melihat pengasuhan Norman. Pertama, semua keputusan soal pengasuhan Norman harus memperhatikan kepentingan Norman. Kepentingan Retno, kepentingan saya atau Sapariah, seharusnya tak melangkahi kepentingan Norman.

Kedua, Norman harus dilibatkan dalam mengambil keputusan. Dia memang baru 10 tahun. Dia belum bisa diminta bertanggungjawab. Namun banyak soal dimana ide-ide seorang anak justru sangat masuk akal. Mereka mengenal lingkungan mereka lebih baik dari kita. Norman juga terbiasa berpikir kritis dan bikin analisis sendiri. Dia memulai sekolahnya di sebuah tempat penitipan anak yang dikelola Universitas Harvard di Cambridge. Dia lalu ikut taman kanak-kanak di Montessori Kemang. Kini sekolah di Gandhi Memorial International School di Kemayoran. Sekolah-sekolah ini melatihnya berpikir terbuka. Norman bisa memberi masukan yang baik.

Pada 2004, saya bersedia menuruti kehendak Retno dengan melepaskan hak gono-gini kepemilikan rumah Pondok Indah. Pertimbangannya, Norman memerlukan rumah. It was the best interest of Norman. Ketika Norman ingin tak datang ke Senayan --"I want to play with my (visting) cousins," katanya-- saya dengan senang hati menerima argumentasi itu. Sebaliknya, Retno justru sering minta Norman menuruti kehendak Retno. Sering kehendak itu dipaksakan.

Belakangan saya kuatir dengan cara Retno mengasuh Norman. Retno menolak merawat asma Norman sesuai nasehat klinik asma Indrajana. Retno menolak memasang terpal untuk alas tidur Norman. Terpal ini gunanya melindungi saluran pernafasan Norman dari tungau debu. Retno juga memutuskan pindah ke rumah ibunya, M.Th. Koesmiharti, di Bintaro. Rumah Pondok Indah, dengan alasan kesulitan keuangan, hendak dikontrakkan. Jarak Bintaro-Kemayoran sangat jauh. Norman akan kekurangan waktu istirahat dan belajar (bangun pagi sekali dan pulang sore).

Maya Nur Elisa mengatakan dia sudah bicara via telepon dengan Retno. Ini komunikasi awal antara KPAI dan Retno. Maya menyampaikan pada Retno bahwa aku menghubungi KPAI soal urusan asma Norman. Mereka bicara selama hampir satu jam. Maya tak menyinggung soal kepindahan ke Bintaro. Retno bilang terpal bikin tempat tidur jadi panas dan Norman berkeringat. Retno bersedia diperiksa silang dengan dokternya sendiri.

Dalam bahasa Inggris, Norman menjawab pertanyaan Maya. Norman bilang hampir setiap malam ibunya melarang dia pakai terpal. Norman juga keberatan dengan rencana pindah ke Bintaro. Jarak ke sekolah Kemayoran lebih jauh dan lalu lintas macet. Dia bilang ingin tinggal di Senayan, setiap minggu, dari Selasa hingga Sabtu. Dia ingin bersama Retno Minggu dan Senin. Ini proposal Norman.

Pertemuan berjalan baik. Mula-mula Norman gelisah. Dia terlihat emosional ketika ditanya Maya apa opini terhadap ibunya sendiri. "Closed minded," jawab Norman. Kalau punya kemauan, ibunya takkan mau mendengar alasan lain.

Susilahati mengusulkan ditunjuk satu lembaga psikologi guna memberikan penilaian terhadap masalah Norman. Mereka juga akan menghubungi Retno. Sapariah menilai Norman anak yang kritis. Norman dididik secara demokratis dan terbuka. Susilawati bilang ada beda budaya antara papa dan mamanya Norman. Papanya mendidik Norman dengan demokratis sedang mamanya "timur." Susilahati bilang anaknya sendiri juga penderita asma. Mereka juga memakai klinik Indrajana.

Ketika keluar dari kantor KPAI, Norman dan Sapariah sempat mengagumi sejenis tawon cukup besar di halaman depan KPAI. Gedung ini sebenarnya lagi mengalami renovasi sehingga banyak debu. Namun daerah Menteng, salah satu daerah elite Jakarta, memiliki banyak pohon. Tawon tersebut mendengung-dengung. Norman dan Sapariah juga beli es krim Campina, yang kebetulan lewat depan KPAI. Dari sana, karena sudah siang, kami memutuskan makan Soto Madura, depan Bina Graha. Ini tempat langganan kami.

Belakangan Norman bilang dia merasa lega bisa bicara dengan orang-orang KPAI. Saya rasa ini memang melegakan Norman. Dia setidaknya merasa ada yang mau mendengarkannya. Sudah cukup lama Norman merasa tertekan. Mudah-mudahan kami bisa menemukan jalan untuk memakai proposal Norman.

Norman Menjelang Perceraian
Retno dan Asma
Asthma Cases on the Rise Among Children
"Jangan Seenak Jidatmu Sendiri!"

Norman Dipindah ke Bintaro
Surat untuk Komisi Perlindungan Anak Indonesia
Kronologi Hak Pengasuhan Norman Harsono

Dokter Andreas Liando di Siloam Gleneagles
20 Menit Senayan-Kemayoran
Norman Bertemu Komisi Perlindungan Anak

Friday, August 24, 2007

Top Lankan defence analyst silenced amid fears for life


COLOMBO (AFP) - A top Sri Lankan defence columnist stopped writing fearing for his life after he exposed alleged corruption in the purchase of second-hand supersonic jets, the Sunday Times weekly said.

The "Situation Report" by Iqbal Athas was not being published Sunday after the government withdrew police bodyguards who had been assigned to protect him for over nine years, the paper said.

"The Sunday Times regrets the Situation Report does not appear today in the light of serious constraints placed on the author, Consultant Editor and Defence Correspondent," the paper said.

"He fears for his life and that of his family," it said, adding that Athas was being followed.

In the space reserved for Athas' weekly column was a parliamentary investigation into state enterprises under the headline: "The stink of the state sector."

The indirect censorship of Athas comes as international media activists on Friday warned of worsening conditions in one of the world's most dangerous places for journalists.

The local Free Media Movement (FMM) said it was convinced there was a "very real basis" for Athas to fear for his life because of repeated attacks and harassment of journalists and media workers in Sri Lanka in recent months.

"We call on the President, as Minister of Defence, to take all steps necessary to provide Mr. Athas with adequate security immediately," the FMM said in a statement.

"Failure to do so will only provide yet another indication of the lack of concern on the part of the government for the safety and security of media personnel in Sri Lanka."

Rights groups have said the situation for journalists has worsened as Sri Lanka presses for a military victory over the rebels in a 35-year-old conflict that has claimed more than 60,000 lives.

Over 5,200 people have been killed since December 2005, according to official figures, while human rights groups have alleged that over 1,000 people have "disappeared" in the past year.

Letter to Nanda Mallawaratchchi
Deadly Climate for Reporters and Aid

Apresiasi Jurnalis Jakarta 2007

Pengumuman Dewan Juri


Beberapa waktu lalu,
Aliansi Jurnalis Independen cabang Jakarta, minta saya jadi juri penghargaan wartawan AJI. Tujuannya, merangsang peningkatan mutu jurnalisme di Jakarta. Ini penting karena Jakarta adalah ibukota media di Indonesia. Kalau mutu disini naik, ia juga akan mempengaruhi daerah lain. Ada dua orang orang lagi: Santoso dari kantor berita radio 68H serta Riza Primadi dari Astro TV. Kami bertiga menerima tawaran tersebut. Kami merasa ini suatu kehormatan.

Lomba ini terbuka untuk semua wartawan yang bekerja dari Jakarta. Peserta lomba mengajukan karya masing-masing untuk dinilai. Setiap peserta maksimal hanya bisa mengirimkan dua karya, yang terbit antara Januari 2006 hingga Juli 2007. Jadi, penghargaan ini membatasi diri hanya kepada wartawan yang ikut. Hasilnya, kami menerima 10 peserta dari media cetak (total 14 karya), dari radio 25 orang total (34 karya) serta tujuh orang dari tiga televisi (10 karya).

Kami memutuskan ada tiga macam penilaian: (1) mutu penggalian data (termasuk tembus sumber, wawancara, penelusuran dokumen, independensi, kelengkapan dan akurasi); (2) kualitas penyajian informasi dalam bentuk cetak, video atau audio; (3) dampak yang ditimbulkan cerita itu di masyarakat (perubahan opini publik, tindakan nyata dan lainnya). Masing-masing penilaian diberi bobot 40 persen, 40 persen dan 20 persen.

Ketiga juri juga memutuskan bahwa kami harus menghindar dari benturan kepentingan (conflict of interest). Kami sejak awal tak ikut memberi penilaian terhadap peserta yang kebetulan bekerja satu perusahaan dengan kami. Artinya, rekan saya, Santoso, tak terlibat penilaian terhadap peserta dari radio 68H. Riza Primadi juga tak ikut menilai peserta dari Astro TV. Kebetulan tak ada rekan saya dari sindikasi Pantau, yang ikut perlombaan ini, sehingga saya menilai semua karya, sekaligus ditunjuk sebagai jurubicara juri.

Cukup sulit menentukan siapa pemenangnya. Kami sangat senang melihat karya para peserta. Saya pribadi termasuk tukang kritik media Jakarta. Saya suka bergurau dengan mengatakan standar jurnalisme disini masih ketinggalan zaman. Masih pakai standar Majapahit! Para peserta membuat saya harus lebih hati-hati dengan gurauan itu.

Kami suka misalnya, laporan seorang peserta radio tentang upaya aktivis Negara Islam Indonesia menarik iuran dari kaum muda. Ada juga liputan menarik soal sebab-musabab banjir di Jakarta, yang dilengkapi footage video zaman Hindia Belanda. Batavia dulunya juga langganan banjir. Seorang insinyur Belanda lantas bikin kanal-kanal. Namun kanal-kanal itu tak cukup untuk kebutuhan Jakarta hari ini. Ada juga liputan bagus soal agama etnik Batak, Pamalin. Idenya unik, namun presentasinya harus ditingkatkan. Ada juga liputan deskriptif soal sengketa tanah di Meruya. Atau seorang perempuan pengidap virus HIV.

Lucunya, banyak juga peserta menulis soal pekerjan seks dan perdagangan perempuan. Ini isu klasik. Namun selalu saja ada sudut baru dari liputan ini. Kami juga berharap wartawan lebih banyak memberikan konteks dan background dalam liputannya. Secara umum, kami merasa ini salah satu kekurangan yang jamak dari peserta.

Namun secara umum, mereka sangat membesarkan hati. Saya tahu 42 peserta ini hanya minoritas dari lebih 10,000 wartawan di Jakarta. Kami juga tahu bahwa banyak media besar, belum mendorong wartawannya ikutan lomba ini. Kami berharap di tahun-tahun mendatang akan lebih banyak wartawan ikut.

Singkat kata, banyak laporan bagus, tapi setiap lomba hanya punya satu pemenang. Kami harus diskusi, membandingkan nilai, menonton ulang televisi, mendengarkan lagi rekaman radio. Akhirnya kami memutuskan tiga orang pemenang sebagai berikut:

• Pemenang untuk kategori televisi adalah Edwin Nazir dari Astro TV dengan karya “Jika Kekerasan Menjadi Pilihan” (23 Juni 2007). Kami menilai sudut cerita teror bom, baik di Bali maupun Jakarta, dengan mengangkat para korban adalah pilihan yang patut dipuji. Ini mengingatkan kita bahwa kampanye politik apapun, kalau pakai kekerasan, selalu menghasilkan korban-korban sipil, tak berdosa. Kami juga suka dengan mutu gambar, pengerjaan informasi dengan komputer dari tayangan ini. Kami suka hasilnya halus.

• Pemenang untuk kategori radio adalah Rebecca Henschke dari kantor berita radio 68H dengan dua serial, “Indonesia smokes out the lungs of the world” serta “Bio-diesel fuels conflict in Central Kalimantan.” Henschke mengerjakan laporan ini dari pedalaman Borneo dimana perkebunan kelapa sawit membabat habis hutan dan menggusur komunitas Dayak. Liputan Henschke penuh dengan deskripsi. Ada suara burung, ada orang Dayak. Pendengar dibawa seakan-akan ke pedalaman Borneo. Isunya juga penting sekali. Isu biofuel akan makin mendesak dengan meningkatnya penghancuran hutan serta digusurnya orang-orang Dayak dari lahan-lahan mereka. Henschke juga koresponden BBC dan NPR dari Jakarta.

• Pemenang untuk kategori cetak adalah Arif Adi Kuswardono dari majalah Tempo dengan lima serial (21 Januari hingga 25 Maret 2007). Kuswardono bercerita tentang upaya Kejaksaan Agung menarik uang Tommy Soeharto dari BNP Paribas Guernsey. Tommy ternyata bisa menarik uang tersebut dengan bantuan dua menteri, Yusril Ihsa Mahendra serta Hamid Awaluddin. Laporan-laporan Kuswardono, kami nilai, ikut mendorong Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membuat keputusan politik memberhentikan dua menteri itu dari kabinet.

Akhir kata, kami mengucapkan selamat kepada para pemenang: Edwin Nazir, Rebecca Henschke serta Arif Adi Kuswardono. Penghargaan ini adalah pengakuan terhadap kinerja Anda. Kami berharap penghargaan ini juga jadi pemicu untuk Anda, bekerja lebih baik lagi dalam bidang jurnalisme.

Dunia jurnalisme adalah dunia yang menuntut kerja keras. Dunia ini menuntut kejujuran dan peningkatan mutu. Selamat menempuh perjuangan lebih panjang lagi. Terima kasih.


Jakarta, 24 Agustus 2007

Dewan Juri Apresiasi Jurnalis Jakarta 2007
Andreas Harsono (jurubicara) - Riza Primadi - Santoso

20 Menit Senayan-Kemayoran

Pagi ini aku bangun pukul 6:00, menyalakan komputer, kencing di kamar mandi, membaca email masuk --Marina Walker dari Washington DC cerita wartawan Iqbal Athas di Colombo punya ancaman keamanan serta Alexander Asriyadi Mering dari Pontianak soal fact checking buku-- serta menyiapkan pikiran untuk mengantar Norman ke sekolah.

Norman bangun bersamaan. Dia tiduran di sofa, lalu mengecek satu bungkus martabak manis, yang dipesannya dari Sapariah tadi malam. Maka kami pun siap-siap bekerja. Norman ganti pakaian. Celana kanvas warna coklat muda. Kaos Harvard dengan pesan "Nieman Kid." Hari ini pakaian bebas. Norman minta aku mengisi botol airnya dengan Aqua. Kami pamit pada Sapariah. Tadi malam, Sapariah tampaknya tidur larut, nonton televisi.

Pukul 6:30, naik lift langsung turun ke Basement 2. Mobil kami memang jatah parkir, sesuai nomor urut unit apartemen, di Basement 2. Aku hidupkan mobil, menaruh tas, tunggu empat menit. Pukul 6:38, mobil bergerak. Pukul 6:40 keluar dari apartemen Senayan, langsung melaju ke Bunderan Slipi untuk naik tol.

"Norm, please help me fix the mirror," aku minta tolong.

Cermin spion kiri tadi malam tersenggol anak tetangga. Agak miring. Norman pun melewati bangku belakang, membuka jendela, membenarkan posisi spion. Kami menunggu di lampu merah Slipi. Aku merogoh tempat uang di dash board. Di pintu tol, Rp 5,000 aku sodorkan. Kembali Rp 500. Mobil pun melaju di jalan tol.

Norman, yang memang suka martabak manis, diam saja di belakang. Dari spion, aku lihat dia sibuk mengunyah martabak.

Minggu ini, Senin dan Selasa, Norman tak masuk sekolah. Senin pagi, ketika aku sudah menuju Pondok Indah (rumah ibunya), saat Norman tinggal disana, Sri Maryani, pengasuh Norman, miss call. Aku telepon balik. Yani bilang hari ini Norman tak enak badan. Selasa juga tak masuk sekolah. Batuk dan pilek serta pusing. Selasa malam, saat bicara via telepon, Norman bilang Rabu pagi dia akan kembali sekolah.

Kami bertemu pukul 5:55 Rabu pagi di Pondok Indah. "I miss you, Pa," katanya. We hugged each other. Dia cerita kepalanya pusing karena berpikir harus pindah ke Bintaro. "My head almost exploded," katanya. Rabu siang, aku jemput dia di sekolah, lalu diantar ke Pondok Indah.

Kamis pagi, aku jemput dia lagi di Pondok Indah, pukul 6:00. Kamis siang, Norman kembali ke Senayan. Kami sempat mampir ke gedung Dewan Perwakilan Rakyat, melihat-lihat pameran organisasi swadaya masyarakat. Eva Danayanti, Linda Christanty serta Norman dan aku, lalu bersama-sama pergi ke Hotel Sulthan dimana Janet Steele meluncurkan bukunya Wars Within: Pergulatan Tempo, Majalah Berita Sejak Zaman Orde Baru. Kami tak lama. Norman dan aku pergi duluan.

Sepanjang jalan, antara gerbang tol Slipi dan gerbang Kemayoran, aku cerita pada Norman soal beda truk. Ada truk yang mesin dan badannya jadi satu. Ini disebut truk saja. Ada juga yang tractor head dan trailer terpisah. "Itu disebut truk single," kataku, menunjuk sebuah truk kecil dengan poros belakang satu.

Truk paling besar adalah truk trailer dengan tiga poros roda di bagian belakang. "It can carry a weight up to 30 tonnes. Sometimes more," kataku, menunjuk sebuah truck Scania. Ada juga trailer dengan dua poros. Ada juga tronton, yang bisa muat peti container 20 feet. Kami ramai melihat truk-truk yang lalui. Trailer 40 feet, trailer tiga poros, trailer dua poros.

Tak terasa, pukul 6:58, kami sudah tiba di depan Gandhi Memorial International School. Agak antri sedikit. Ramai depan sekolah. Mungkin dua menit. Norman tak bawa bekal. Aku beri dia Rp 20,000 untuk sarapan saat istirahat pertama dan makan siang saat istirahat kedua. Norman pun bilang, "Thank you. Bye bye Pa." Kami saling berangkulan dan dia pun cepat bergabung dengan teman-temannya. Kami hanya butuh 18 menit, gate to gate, dari apartemen di Senayan menuju sekolah.

Aku lalu putar haluan, kembali naik tol Kemayoran menuju Slipi. Di jalan, aku berhitung bila dari Pondok Indah, waktu tempuh harus ditambah sekitar 30 menit (pagi hari) dan 45-50 menit saat pulang sekolah (siang hari). Retno Wardani, ibunya Norman, rencana memindahkan Norman ke Bintaro. Sedih sekali. Bintaro ke Kemayoran tidak mungkin ditempuh satu jam. Aku terkadang tak habis pikir, bagaimana mungkin Retno rela mengorbankan kepentingan Norman? Mengapa dia tak mau menempatkan kepentingan Norman lebih tinggi dari interest dia sendiri?

Pukul 7:10, Norman di sekolah pasti sudah mulai berkumpul untuk upacara pagi. Aku selalu ingat kejengkelannya bila mendegar pidato A.P. Singh, kepala sekolah GMIS, yang sering dianggapnya berkepanjangan. Namanya juga kepala sekolah! Bagaimana rasanya mendidik ribuan murid macam A.P. Singh?

Pukul 7:10, mobil sudah melewati rumah sakit kanker Dharmais. Aku jadi ingat Tien Soeharto, isteri Presiden Soeharto, yang bikin rumah sakit ini. Bagaimana ya rasanya jadi Soeharto? Apa pendapat Tien soal tuduhan suaminya terlibat berbagai macam pembunuhan, korupsi serta represi? Apa kata-kata Tien terhadap anak-anaknya?

Pukul 7:20, aku sudah tiba di rumah. Total dari waktu berangkat hingga pulang, aku menghabiskan waktu 50 menit.

***

Thursday, August 23, 2007

Kursus Narasi Angkatan III

Andreas Harsono dan Budi Setiyono
Pantau - Jl. Raya Kebayoran Lama 18 CD
Jakarta 12220
(Tel. 021-7221031)
6 November 2007 – 11 Maret 2008


Kursus “Narasi” angkatan ketiga ini dirancang untuk orang yang ingin belajar menulis panjang. Ia dirancang untuk mereka yang berminat menulis esai atau buku nonfiksi. Kursus diadakan selama 18 sesi dengan frekuensi mingguan, Selasa petang hari (pukul 19.00-21.00), kecuali pada sesi dengan pembicara tamu Daoed Joesoef.

Cara mingguan sengaja dibuat agar peserta punya waktu membaca dan mengerjakan pekerjaan rumah. Jumlah peserta 16-20 orang agar ada waktu diskusi. Kursus ini ditekankan pada banyak latihan. Tugasnya berupa penulisan deskripsi, feature dan interview. Bila ada yang berminat, bisa membuat sebuah narasi sekitar 5.000 kata. Peserta akan membaca dan membicarakan karya-karya Truman Capote, John Hersey, Gay Talese, Ryszard Kapuscinski serta membaca cerita Pham Xuan An dari Saigon.

INSTRUKTUR

Andreas Harsono wartawan Jakarta, pernah bekerja di harian The Nation (Bangkok), The Star (Kuala Lumpur) dan majalah Pantau (Jakarta). Ia menang beberapa penghargaan internasional antara lain The Correspondent of the Year dari The American Reporter (1997) serta Nieman Fellowship dari Universitas Harvard (1999-2000). Dia co-editor buku Jurnalisme Sastrawi: Antologi Liputan Mendalam dan Memikat (2005). Kini ia sedang menyelesaikan buku From Sabang to Merauke: Debunking the Myth of Indonesian Nationalism.

Budi Setiyono wartawan Jakarta, pernah bekerja untuk Suara Merdeka (Semarang) dan majalah Pantau (Jakarta). Ia jadi co-editor buku Revolusi Belum Selesai yang berisi kumpulan pidato politik Presiden Soekarno serta Jurnalisme Sastrawi: Antologi Liputan Mendalam dan Memikat. Kini ia sedang menyelesaikan buku soal penyair A.S. Dharta dari Lembaga Kebudayaan Rakyat.

Siti Nurrofiqoh, administratur, juga aktivis Serikat Buruh Bangkit, Tangerang, membantu pelaksaan proses belajar.

SYARAT DAN BIAYA

Peserta terbiasa dengan dunia tulis-menulis. Entah menulis di blog, makalah, buku harian atau media. Mereka juga terbiasa melakukan riset dan akrab dengan internet. Latar belakang bisa dari berbagai disiplin ilmu, minat atau profesi. Angkatan pertama dan kedua terdiri dari aktivis, wartawan, dokter, pengacara, mahasiswa, dosen, manajer NGO dan sebagainya. Peserta juga lancar membaca naskah dalam bahasa Inggris karena banyak materi kursus dari bahasa Inggris. Biaya Rp 4 juta.

SILABUS

SESI PERTAMA (6 November 2007)
Perkenalan, pembicaraan silabus dan diskusi soal jurnalisme dasar, isu tentang “objektivitas” wartawan dengan membahas “Sembilan Elemen Jurnalisme” dari Bill Kovach dan Tom Rosenstiel serta membandingkannya dengan praktik jurnalisme di Jakarta a.l. byline, firewall, advertorial. [Andreas Harsono dan Budi Setiyono]

Bacaan: Sebelum kuliah dimulai, sebaiknya Anda membaca resensi buku “Sembilan Elemen Jurnalisme” oleh Andreas Harsono (kalau tertarik baca bukunya The Elements of Journalism atau versi Indonesia Sembilan Elemen Jurnalisme karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel). Silahkan menelusuri www.journalism.org.

SESI KEDUA (13 November 2007)
Diskusi soal jurnalisme sastrawi, bagaimana Tom Wolfe memulai gerakan ini di Amerika Serikat pada 1960-an dan bagaimana suratkabar-suratkabar Amerika mengambil elemen-elemen genre ini. Diskusi tentang prinsip-prinsip dasar dalam melakukan reportase, membedakan mana yang fakta dan mana yang fiksi, kriteria dari gerakan “literary journalism.” [Andreas Harsono]

Bacaan: “Kegusaran Tom Wolfe” oleh Septiawan Santana Kurnia; “Ibarat Kawan Lama Datang Bercerita” oleh Andreas Harsono; edisi jurnal Nieman Reports edisi Spring 2002 Volume 56 No. 1 tentang narrative journalism. Bacaan Nieman ini cukup tebal. Ini penting guna tahu sejarah dan perdebatan soal genre ini di Barat serta bagaimana genre ini masuk dalam cerita-cerita sehari-hari dalam suratkabar.

SESI KETIGA (20 November 2007)
Diskusi soal struktur karangan dengan contoh “Hiroshima” karya John Hersey. Ini sebuah karya klasik, dimuat majalah The New Yorker pada Agustus 1946, yang pernah dipilih sebuah panel wartawan dan akademisi Universitas Columbia sebagai naskah terbaik jurnalisme Amerika pada abad XX. [Andreas Harsono]

Bacaan: “Hiroshima” dalam majalah The New Yorker edisi 31 Agustus 1946 oleh John Hersey dan “Menyusuri Jejak John ‘Hiroshima’ Hersey”oleh Bimo Nugroho. Usahakan baca John Hersey hingga selesai. Bacaan dari Bimo Nugroho membantu memahami “Hiroshima.” Bacaan "Cermin Jakarta, Cermin New York" dari Andreas Harsono membantu memahami majalah The New Yorker.

SESI KEEMPAT (27 November 2007)
Diskusi soal deskripsi dan dialog dengan menggunakan ”Ngak Ngik Ngok” karya Budi Setiyono serta contoh-contoh lain dalam buku Jurnalisme Sastrawi: Antologi Liputan Mendalam dan Memikat. [Budi Setiyono]

Pekerjaan rumah: Rekamlah pembicaraan dengan seseorang lalu buatlah satu deskripsi pendek, sekitar 200-500 kata. Siti Maemunah dari angkatan kedua membuat deskripsi menarik tentang ”Mbah Ndut,” seorang dukun pijat, yang kawin beberapa kali. Kita akan membaca empat atau lima tugas ini pada pertemuan berikutnya. Kursus ini sifatnya sukarela. Kalau Anda lagi sibuk atau ada tugas kantor, tentu saja, Anda tak merasa harus mengerjakannya. Kalau mau tambahan, bacalah ”The Riverman” karya Joseph Mitchell. Karya ini terkenal dengan deskripsinya soal Sungai Hudson.

SESI KELIMA (4 Desember 2007)
Diskusi membahas deskripsi serta teori soal feature. Bagaimana mencari fokus, angle dan outline dalam menulis sebuah feature. Bacalah ”Seandainya Saya Wartawan Tempo” karya Goenawan Mohamad [Budi Setiyono]

Pekerjaan rumah: Buatlah sebuah feature pendek, yang terkait dengan kehidupan atau pekerjaan Anda sehari-hari. Ini penting agar pekerjaan rumah ini tak terlalu membebani Anda. Carilah isu yang menarik!

SESI KEENAM (11 Desember 2007)
Para peserta akan membacakan featurenya. Peserta lain menanggapi. Pekerjaan rumah akan difotokopi sesuai kebutuhan kelas agar setiap peserta mendapatkan selembar. [Budi Setiyono]

Pekerjaan rumah: Buatlah satu kumpulan profile para peserta kelas ini. Kelas akan bikin undian. Masing-masing peserta akan mewawancarai satu peserta lain. Kami memperkirakan dalam enam minggu, semua karya ini bisa selesai. Kalau bagus bisa dibukukan (penjilidan sederhana).

SESI KETUJUH (18 Desember 2007)
Diskusi dengan melihat karya-karya Ryszard Kapuscinski dari Warsawa. Kapuscinski seorang koresponden perang, meliput di Afrika, Asia dan Eropa. Perhatikan bagaimana dia memakai foto-foto lama untuk menerangkan karakter-karakternya [Andreas Harsono]

Bacaan: ”Shah of Shahs” dan ”The Soccer War” karya Ryszard Kapuscinski.

SESI KEDELAPAN (8 Januari 2008)
Diskusi struktur karangan dengan melihat lima tulisan tentang Aceh dikerjakan empat orang berbeda. Bagaimana sebuah isu sama dikerjakan dengan sudut pandang dan metode beda-beda? Apa masing-masing kelebihan dan kekurangan? [Andreas Harsono]

Bacaan: “Republik Indonesia Kilometer Nol” karya Andreas Harsono, ”Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan” karya Alfian Hamzah, ”Panglima, Cuak, dan RBT” dan ”Sebuah Kegilangan di Simpang Kraft” karya Chik Rini, dan ”Orang-orang Di Tiro” karya Linda Christanty.

SESI KESEMBILAN (15 Januari 2008)
Teknik wawancara dengan melihat teknik-teknik yang dikembangkan oleh International Center for Journalists. Peserta melakukan praktik wawancara di depan kelas. Sesudahnya menonton ”Black Hawk Down” karya Mark Bowden untuk lihat deskripsi yang berubah jadi film. [Andreas Harsono]

Bacaan: bacalah oleh ”Ten Tips For Better Interview” (www.ijnet.org) dan ”The Art of the Interview” oleh Eric Nalder. Kalau sempat bacalah dulu buku Black Hawk Down. Perhatikan beda buku dan film.

Pekerjaan rumah: Gunakan tape recorder atau handycam untuk interview seseorang, mungkin teman, keluarga atau lainnya. Dengarkan ulang dan catat kelebihan dan kekurangan interview tersebut. Buatlah deskripsi dari interview itu untuk kelas minggu depan. Bawa pula kaset rekaman untuk didengar atau ditonton bersama.

SESI TAMBAHAN (Sabtu, 19 Januari 2008 pukul 10:00-12:00)
Diskusi dengan Daoed Joesoef tentang penulisan buku di rumahnya, Jl. Bangka Dalam VII No. 15. Isterinya, Sri Soelastri Joesoef, akan menemani. Diskusi akan diakhiri dengan makan siang bersama di rumah asri keluarga Joesoef. They are a Dutch-educated couple, very strict, please don’t be late!

Bacaan: Karya Daoed Joesoef dalam buku Emak dan Aku dan Dia (hanya bab ”Monsieur Courazier dan Aku”). ”Orang-orang dari Salemba” karya Goenawan Mohamad dkk dalam buku ”Menyambut Indonesia” (h. 34-67). Joesoef seorang cendekiawan didikan Sorbonne, Paris. Dia pernah jadi dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan Menteri Pendidikan rezim Presiden Soeharto.

SESI KESEPULUH (22 Januari 2008)
Membahas deskripsi dari hasil interview [Budi Setiyono]

Pekerjaan rumah: Kalau Anda hendak membuat sebuah naskah panjang, isu apa yang menarik perhatian Anda? Buatlah outline serta argumentasi mengapa cerita itu menarik, tidak klise, bahal menyedot perhatian pembaca.

SESI KESEBELAS (29 Januari 2008)
Diskusi menggali, mengembangkan dan menajamkan ide laporan serta menemukan fokus dan angle. Bisa sharing soal bagaimana bikin biografi penyair A.S. Dharta, yang mendirikan Lembaga Kebudayaan Rakyat, serta hubungannya dengan Presiden Soekarno. [Budi Setiyono]

Bacaan: “Rangsang Detik” karya A.S. Dharta, “Selamat Jalan Sastrawan Sunda” karya Budi Setiyono.

SESI KEDUABELAS (5 Februari 2008)
Diskusi politik identitas dengan campuran agama, nasionalisme dan etnik dengan studi kasus etnik Tionghoa di Indonesia [Andreas Harsono]

Bacaan: ”Hoakiao dari Jember” oleh Andreas Harsono, ”The Culture of Chinese Minority in Indonesia” oleh Leo Suryadinata, ”The Encyclopedia of the Chinese Overseas” bagian Indonesia oleh Mary Somers Heidhues (h. 151-168).

SESI KETIGABELAS (12 Februari 2008)
Sekali lagi soal deskripsi. Kita akan diskusi hasil membuat profile sesama peserta kelas serta bicara soal editing. Nonton film “Capote” tentang Truman Capote, yang dibintangi Philip Seymour Hoffman. Situs web http://www.sonypictures.com/classics/capote/ [Budi Setiyono]

Bacaan: Kalau masih ada waktu, bacalah “In Cold Blood” karya Truman Capote. Ini karya klasik dari The New Yorker. Kalau ingin tahu bagaimana elemen-elemen narasi dipakai dalam straightnews pendek, bacalah “Ini sebuah Kehormatan” karya Jimmy Breslin.

SESI TAMBAHAN (19 Februari 2008)
Diskusi dengan Samuel Mulia, seorang kolumnis harian Kompas, serta konsultan majalah. Samuel kelahiran Denpasar, kuliah untuk jadi seorang dokter. Dia kolumnis yang dapat banyak komentar. Tahu banyak soal gaya hidup metropolitan, mulai dari model pakaian hingga kesehatan. [Budi Setiyono]

Bacaan: Beberapa kolom Samuel Mulia dari Kompas; “Aku Tak Biasa” (Mei 207, 99 komentar), “ATM” (April 2007, 98 komentar) dan “Juri” (Juni 2007, 85 komentar)

SESI KEEMPATBELAS (26 Februari 2008)
Diskusi soal sikap terhadap kebenaran dengan independensi seorang penulis. Diskusi soal sosok Pham Xuan An, seorang wartawan majalah Time merangkap intel di Saigon, yang berperan dalam kemenangan Hanoi terhadap Saigon pada 1975 [Andreas Harsono]

Bacaan: “Perfect Spy” karya Larry Berman, karya-karya Robert Shaplen dari The New Yorker soal Perang Vietnam, surat protes Zalin Grant terhadap majalah The New Yorker. “The Quiet Vietnamese: Journalist and Spy Pham Xuan An Led a Life of Ambiguity” oleh Devid deVoss, “My Friend the Spy” oleh H.D.S. Greenway, “The Journalist Who Spied” oleh Stanley Cloud, “Pham Xuan An: Vietnam War Journalist and Spy” oleh Bruce Palling.

SESI KELIMABELAS (4 Maret 2008)
”The Silent Season of A Hero” mengubah cara wartawan menulis sosok di Amerika. Bacalah juga ”Frank Sinatra Has a Cold” karya Gay Talese. Situs web resmi Gay Talese adalah www.randomhouse.com/kvpa/talese/index.html [Andreas Harsono]

SESI KEENAMBELAS (11 Maret 2008)
Warna sari, tanya jawab. Penutupan. [Andreas Harsono dan Budi Setiyono]

Tuesday, August 21, 2007

Norman Dipindah ke Bintaro


Hari Minggu ini, aku rasanya kena sambar petir ketika Retno Wardani, mantan isteri aku dan ibu kandungnya Norman, mengirim kabar bahwa dia akan mengontrakkan rumahnya di Pondok Indah dan tinggal bersama ibunya di Bintaro. Dia rencana pakai uang kontrak buat melunasi kredit rumah tersebut di Bank International Indonesia.

Retno mengatakan via SMS, “Mg dpn kami pindah Bintaro, PI akn aku benerin dikit n akn aku kontrakan buat nurunin utang bii yg berat. Bagus beli apartm n tinggal di kemayoran.

Aku mengingatkan Retno soal jarak Bintaro, yang jauh dari Kemayoran, tempat Norman sekolah. Norman bisa butuh dua jam pulang dari sekolah. Norman juga harus berangkat sekolah pagi sekali.

Retno mengatakan ada jalan tol. Retno juga minta aku membayari bensin dan uang tol agar dia bisa mengantar Norman sekolah. "Pagi Bintaro one way. Ada toll jg. Sgt lancar. Toh sekolah cuma 3.5 hr. Kamis siang udh di t4 mu. U pagi aku antar jg bisa, km byr bensin. Mau gugat? Silahkan."

Aku menawarkan Norman tinggal di tempatku, Senayan, pada hari-hari sekolah. Ini hanya butuh 30 menit ke sekolah lewat tol. Retno menolak. Dia tetap berpegang pada keputusan pengadilan bahwa lima hari seminggu Norman diasuh Retno.

"Bagus" yang dimaksud Retno adalah Bagus Kristianto, adik kandungnya, yang dulu tinggal di Bintaro dan kini membeli sebuah unit apartemen di daerah Kemayoran.

Aku sedih membayangkan kemacetan lalu lintas sekitar Bintaro. Daerah ini termasuk kawasan paling macet di Jakarta. Waktu belajar dan istirahat Norman akan berkurang. Sekarang saja, dari Kemayoran-Pondok Indah, Norman butuh waktu minimal 70 menit saat pulang. Pagi hari, dia butuh 50 menit untuk ke sekolah. Aku tahu pasti karena aku yang antar-jemput Norman. Rumah Bintaro milik M.Th. Koesmiharti, ibunya Retno.

Hak pengasuhan Norman, sesuai keputusan pengadilan, sebenarnya tak berada di tangan Retno melulu. Pada Desember 2003, ketika bercerai, pengadilan Jakarta Selatan memberikan hak mengasuh Norman pada kami berdua. Pengadilan juga mengharuskan aku membayar semua biaya pendidikan, kesehatan dan pertumbuhan Norman. Hak tinggal Norman 2x24 jam dengan aku, 5x24 jam dengan Retno. Kini Norman sekolah di Gandhi Memorial International School. Bagus Kristianto bekerja sebagai guru seni di sekolah Norman.

Secara sepihak, Retno memutuskan pindah rumah. Dampak keputusan tersebut, bukan saja mempengaruhi Norman, namun juga aku, yang bertanggungjawab atas masalah transportasi sekolah.

Minggu malam, aku tak bisa tidur. Senin pagi, Sapariah dan aku memutuskan melaporkan tindakan sepihak ini kepada Komisi Perlindungan Anak Indonesia, sebuah lembaga pemerintah, yang menerima pengaduan bila ada pelanggaran terhadap hak-hak anak-anak. Sapariah menemani aku ke kantor mereka di Jl. Teuku Umar 10.

Bulan lalu aku sempat bicara via telepon dengan Giwo Rubianto Wiyogo dari KPAI soal Retno kurang tepat menangani sakit asma Norman. Retno tak mau mentaati prosedur menjaga Norman dari kemungkinan terkena kotoran tungau debu.

Norman alergi terhadap tungau debu (dustmite), yang banyak terdapat di kasur dan sofa. Norman harus tidur dengan alas terpal. Di Senayan, kamar tidur Norman dibuat tanpa karpet, ranjangnya pakai terpal dari ujung ke ujung. Di Pondok Indah, Retno sering melarang Norman memakai terpal. Norman sering pilek dan batuk.

Hari Jumat lalu, Norman juga menelepon Magdalena Sitorus dari KPAI. Norman mengeluh soal perlakuan ibunya, suka marah-marah, dan disebut Norman closed minded. Norman menangis sedih ketika bicara dengan Sitorus.

Di KPAI, Sapariah dan aku diterima oleh Hendra Kusumah Jaya, seorang asisten Giwo Rubianto Wiyogo. Kami juga menyerahkan sepucuk surat dan kronologi hak pengasuhan Norman.

Hendra bilang KPAI tak punya wewenang mengubah hak pengasuhan. Ini harus lewat pengadilan. KPAI hanya menerima pengaduan dan mengusahakan mediasi. KPAI juga akan melakukan home visitation serta minta penilaian seorang psikolog independen.

Aku berharap KPAI bisa cepat turun tangan dan membantu mencari jalan keluar. Aku tak bisa membayangkan Norman tinggal di Bintaro dan sekolah di Kemayoran. Sekaligus aku berharap masalah kesehatan Norman jadi perhatian mereka.


Norman Menjelang Perceraian
Retno dan Asma
Asthma Cases on the Rise Among Children
"Jangan Seenak Jidatmu Sendiri!"

Surat untuk Komisi Perlindungan Anak Indonesia
Kronologi Hak Pengasuhan Norman Harsono
Dokter Andreas Liando di Siloam Gleneagles
20 Menit Senayan-Kemayoran
Norman Bertemu Komisi Perlindungan Anak

Monday, August 20, 2007

Surat Pengaduan Komisi Perlindungan Anak


Jakarta, 20 Agustus 2007

Kepada yang terhormat:
Ketua Pengaduan dan Fasilitas Pelayanan
Komisi Perlindungan Anak Indonesia
Jl. Teuku Umar 10-12
Jakarta


Dengan hormat,

Kami mengajukan surat ini untuk mohon bantuan Komisi Perlindungan Anak Indonesia membantu anak kami, Norman Harsono, mendapatkan masa pertumbuhan yang sehat dan bahagia. Intinya, kami ingin mendapatkan hak mengasuh Norman dari tangan ibu kandungnya, Retno Wardani.

Norman (10 tahun) lahir pada 25 Januari 1997 dari perkawinan Andreas Harsono dan Retno Wardani. Perkawinan ini berakhir dengan perceraian pada 15 Desember 2003 lewat pengadilan Jakarta. Hak pengasuhan anak disepakati 2x24 jam dengan kami dan 5x24 jam dalam seminggu dengan Retno. Pengadilan memutuskan kami bertanggungjawab atas biaya pendidikan, kesehatan dan pemeliharaan Norman. Norman kini sekolah kelas enam di Gandhi Memorial International School, Kemayoran. Semua tanggungjawab ini kami lakukan.

Namun Norman secara psikologis merasa tertekan. Ini sering tampak bila dia akan pindah dari rumah kami di Senayan, ke rumah Retno di Pondok Indah. Norman kerap marah sendiri. Ketika sampai di depan rumah Retno, diantar papanya, Norman seperti terburu-buru dan takut bicara dengan papanya. Retno sering mencabut kabel telepon agar Andreas tak bisa menelepon Norman. Retno juga mengunci teleponnya sesudah Norman ketahuan sering pakai telepon untuk bicara dengan papanya.

Retno seorang pemarah –Norman bilang, “closed minded”-- yang sering membuat Norman takut dan menangis. “It is like going to hell,” kata Norman, saat hendak ke Pondok Indah. Ketika usianya lebih muda, Norman sering sembunyi di bawah kolong tempat tidur di kamarnya di Senayan, bila waktu pindah tiba. Jadi, secara psikologis Norman merasa tertekan dan ketakutan. Jika tekanan psikologis berlangsung terus, kami khawatir ia akan menggangu pertumbuhan anak.

Jumat 17 Agustus lalu, misalnya, Retno memaksa Norman ke ke Pondok Indah, karena sesuai jadual. Norman, menangis dan ingin tinggal semalam lagi di Senayan. Retno menelepon Norman dan menyuruhnya “pulang.” Saat itu, Norman sempat menelepon ibu Magdalena Sitorus dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia. Norman juga sering mengeluh, “Why Mama likes to make things worse?

Masalah kedua adalah penanganan kesehatan. Sejak September 2005, Norman terbukti penderita asma. Dia alergi terutama terhadap tungau debu rumah (house dustmite). Bila tidur, dokter menyuruh pakai terpal, agar debu tak terhirup hidungnya. Kami di rumah punya alat-alat inhaling. Kamarnya di Senayan juga ganti karpet dengan keramik, tanpa buku tua, bersih total dan ranjang memakai terpal seratus persen.

Entah bagaimana, Retno tak percaya Norman kena asma. Dia sering menyembunyikan terpal di Pondok Indah. Norman jadi sering kumat asmanya. Dia bolak-balik ke klinik asma. Kami secara finansial yang menanggung keperluan Norman, dari uang makan sehari-hari, sekolah dan kesehatan. Ketidakpatuhan Retno membuat kami harus banyak keluar uang.

Minggu, 19 Agustus 2007, Retno memberi tahu via SMS bahwa rumah Pondok Indah akan dikontrakkan dan dia akan tinggal bersama ibunya di Bintaro. Retno mengatakan ini hanya pemberitahuan. Dia merasa tak perlu minta persetujuan Andreas. Bayangkan berapa waktu yang akan dipakai seorang anak untuk pergi ke sekolah, dari Bintaro, yang terkenal macet, ke Kemayoran?

Urusan mengantar dan menjemput Norman, tentu saja, jadi tanggungjawab Andreas. Kini setiap pagi, Andreas bangun pukul 5:00 dan menjemput Norman untuk sekolah di Kemayoran (bus sekolah berhenti operasi sejak Juli 2007). Siangnya, Andreas menjemput pukul 14:10 dan mengantar ke Pondok Indah. Bagaimana bila Norman pindah ke Bintaro? Bagaimana dengan waktu belajar dan istirahatnya?

Andreas punya hubungan hangat dengan Norman. Mereka sering bepergian bersama: melihat penyu di Sukamade, jalan-jalan di Colombo, Srilanka, tracking hutan Papua, berlayar dengan phinisi di kepulauan Wakatobi, berenang bersama. Andreas sering menulis cerita-cerita ini di blog. Ada juga beberapa rekannya, antara lain novelis Linda Christanty, menulis esai soal hubungan ayah-anak ini.

Parents Fear for Their Children Milk (1998)
Penyu, Sukamade dan Meru Betiri (2005)
Norman's First Text Message (2005)
Singapura dan Norman (2005)
Norman's Birthday Party (2006)
Kepulauan Wakatobi (2006)
Sebentuk Cinta yang Tak Tergantikan (2006)
Surat dari Ende (2007)
Norman's Birthday at School (2007)
Norman Operasi Mata (2007)

Kini sudah saatnya mengupayakan perbaikan. Kami mohon bantuan Komisi Perlindungan Anak Indonesia untuk melindungi Norman. Dia sendiri usul dia tinggal lima hari bersama kami dan dua malam dengan Retno (Sabtu siang hingga Senin pagi).

Kami mengucapkan terima kasih sebelumnya.


Hormat kami,


Andreas Harsono dan Sapariah Saturi-Harsono

Lampiran
Kronologi Pengasuhan Norman Harsono serta dokumen perceraian
Tembusan
Magdalena Sitorus, Ketua Pokja Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan

Kronologi Pengasuhan Norman Harsono



Norman Harsono berlayar dalam sebuah phinisi dekat Pulau Hoga, di Kepulauan Wakatobi, antara Sulawesi dan Maluku


30 Januari 1995 – Andreas Harsono dan Retno Wardani di Salatiga. Mereka kenal ketika kuliah di Universitas Kristen Satya Wacana. Andreas kini bekerja sebagai wartawan di Jakarta. Retno bekerja sebagai account executive sebuah bank.

Oktober 1995 – Retno menyusul Andreas ke Jakarta, tinggal di rumah kontrakan daerah Palmerah. Andreas bekerja untuk harian The Nation (Bangkok). Retno pindah kerja ke Jakarta. Mereka membeli sebuah rumah tipe 104 di Bumi Serpong Damai pada Juli 1997.

25 Januari 1997 - Retno melahirkan bayi laki-laki di rumah sakit MMC Kuningan, Jakarta, dengan berat 3.5 kg. Bayi ini diberi nama Norman Harsono. Retno berhenti kerja.

Sejak kecil, Norman sering sakit pilek dan batuk. Orang tuanya merasa mungkin dia masih kecil dan udara Jakarta jelek. Norman sehat, tak pernah sakit serius, saat berada di Cambridge, Boston, antara Agustus 1999 dan Juli 2000. Keluarga ini mengikuti Andreas ketika menjadi Nieman Fellow on Journalism di Universitas Harvard.

Januari 2001 – Retno membeli rumah di Pondok Indah. Andreas tak setuju. Alasannya, dia baru kembali ke Jakarta, gajinya belum cukup buat membayar cicilan rumah. Retno pinjam uang dari ibunya dan membeli rumah di Jl. Pinang Perang X/16, Pondok Indah.

Juli 2002 – Norman mulai sekolah di Gandhi Memorial International School di daerah Ancol. Belakangan sekolah ini pindah ke gedung baru di daerah Kemayoran, dekat lokasi Jakarta Fair.

Desember 2002 – Sri Maryani, seorang gadis petani asal Tawangmangu, mulai bekerja di rumah Pondok Indah. Tugas utamanya mengasuh Norman dan menjaga kebersihan rumah. Maryani ikut menemani Norman di sekolah. Hubungan Norman jadi sangat dekat dengan Maryani.

14 November 2003 - Andreas menggugat cerai Retno. Dia merasa perbedaan pendapat di antara mereka tak dapat direkonsiliasikan. Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan usul diupayakan perdamaian. Pengacara keduanya, masing-masing Heppy Sebayang (mewakili Andreas) dan Chaidir Arief (mewakili Retno) mengupayakan solusi perceraian dengan bantuan notaris Nelly Hutauruk (Jl. Veteran 110B, Bekasi 17141).

Dalam perjanjian yang disaksikan Nelly Hutauruk, Andreas dan Retno sepakat bercerai. Pengasuhan anak tetap jadi tanggungjawab berdua. Andreas akan menanggung “biaya kesehatan dan biaya pendidikan Norman yaitu uang sekolah, baju seragam, buku dan perlengkapan sekolah, transportasi dan lain-lain yang berkaitan dengan pendidikan formal” Norman hingga Norman mandiri. Andreas sepakat menyerahkan Rp 1 juta setiap bulan kepada Retno untuk pemeliharaan Norman, yang “dapat ditambah sewaktu-waktu bila diperlukan sesuai kebutuhan … dengan bukti yang cukup.”

Hak pengasuhan Norman diatur 5x24 jam selama hari sekolah bersama Retno dan 2x24 jam selama libur akhir pekan bersama Andreas. Hari liburan nasional dan liburan sekolah diatur separuh-separuh.

15 Desember 2003 – Andreas dan Retno resmi bercerai lewat Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Keputusan pengadilan, Andreas “membayar biaya pendidikan, kesehatan dan pemeliharaan” Norman sampai dewasa dan mandiri. Andreas kontrak di Apartemen Permata Senayan, Palmerah. Pengasuhan Norman jadi tanggungjawab kedua orang tua.

Setelah enam bulan, sesuai keputusan pengadilan, Retno menolak mentaati keputusan membagi harta gono-gini separuh-separuh. Dia berniat menempati rumah Pondok Indah. “Kalau perlu ditembok di tengahnya, kamu tinggal di sebelah, aku di sebelah,” kata Retno. Dia minta Andreas melepaskan hak kepemilikan rumah itu. Alasannya, Norman perlu rumah. Retno janji rumah itu takkan dijual dan kelak diwariskan ke Norman.

5 Mei 2004 – Andreas akhirnya setuju dan menandatangani perjanjian melepaskan hak kepemilikan rumah di hadapan notaris Ny. Toety Juniarto (Jl. Mampang Prapatan Raya 17, Jakarta). Andreas mendapatkan Rp 100 juta dari Retno dengan asumsi harga rumah Rp 450 juta (jauh di bawah harga pasar). Retno berjanji rumah ini dipakai Norman.

Sepanjang tahun 2005, kesepakatan dua hari di Senayan dan lima hari di Pondok Indah berjalan. Norman mulanya diantar Retno sekolah. Andreas membayar bensin dan uang tol. Belakangan, tanpa bilang Andreas, Retno menyewa bus sekolah guna jemput-antar Norman. Maryani menemani Norman di sekolah dan dalam bus. Norman tetap sering sakit.

19 September 2005 – Klinik Asma & Alergi Dr. Indrajana, Jakarta, mengadakan tes alergi terhadap Norman dengan 21 alergen makanan serta 12 alergen hirup. Hasilnya, Norman dinyatakan alergi terhadap tungau debu rumah, daging kepiting dan kotoran kecoak. Dokter L. Muliana menerangkan Norman tak boleh makan kepiting. Tempat sampah harus tertutup agar kecoak tak datang. Kepiting dan kecoak relatif mudah diatasi. Paling penting, sekaligus paling sulit, Norman harus terhindar dari tungau debu (dustmite).

Dia juga harus setiap pagi dan sore memakai obat hirup Seretide Inhaler. Asma tak bisa disembuhkan tapi bisa dikontrol. Tungau debu biasa tinggal di kasur, sofa, bantal dan guling. Norman harus tidur dengan alas terpal agar saat tidur dia tak menghirup kotoran dari tungau debu. Dokter Muliana merekam semua nasehat ini dalam sebuah video. Andreas merekamnya agar semua petunjuk bisa didengar dan dilihat Retno serta Maryani. Polusi udara juga tantangan untuk para penderita asma. Retno menolak melihat VCD tersebut.

Retno tak percaya pada keharusan tidur dengan terpal. Dia sering mengeluh terpal membuat kasur jadi panas. Dia sulit tidur. Norman sering tidur tanpa terpal. Norman bolak-balik kembali ke dokter. Asmanya sering kumat.

24 April 2006 – Andreas mengajak Retno menemani Norman berobat lagi di Klinik Asma & Alergi Dr. Indrajana. Retno bicara sendiri dengan dokter Muliana. Retno tak percaya dan merasa asma Norman bisa disembuhkan.

6 Januari 2007 – Andreas Harsono menikah dengan Sapariah Saturi, wartawati bidang ekonomi, di Pontianak. Mereka bertemu pada Desember 2004, saat tsunami Aceh, di Pontianak. Andreas sedang liputan di pedalaman Sambas, soal pembunuhan orang-orang Madura, ketika bertemu Sapariah di Pontianak. Norman mengatakan dia suka dengan Sapariah. Andreas mengambil keputusan menikah dengan Sapariah dengan mempertimbangkan hubungan Norman dan Sapariah.

15 Juli 2007 – Fadillah, sopir bus sekolah, mengabari Andreas bahwa bus tak melayani route Pondok Indah lagi. Route ini dianggap terlalu jauh. Kini tinggal Norman satu-satunya murid dari Gandhi School yang tinggal di daerah sekitar Pondok Indah. Retno menolak mengantar Norman ke sekolah bila Andreas tak membayar. Andreas terpaksa memakai taxi dan minta tolong Maryani antar-jemput. Sekali jalan, bisa Rp 80,000. Pulang pergi, bisa Rp 200,000 termasuk karcis jalan tol. Andreas dan Sapariah terpaksa mencari kredit mobil Hyundai Avega guna antar-jemput Norman. Mobil diterima pada 10 Agustus 2007. Yayasan Pantau, tempat dimana Andreas bekerja, memberinya utang agar bisa bayar down payment mobil.

Minggu, 19 Agustus 2007 - Retno memberi tahu via SMS bahwa rumah Pondok Indah akan dikontrakkan dan dia akan tinggal bersama ibunya di Bintaro. Retno mengatakan dia tak perlu minta persetujuan Andreas.

18:17: “Mg dpn kami pindah Bintaro, PI akn aku benerin dikit n akn aku kontrakan buat nurunin utang bii yg berat. Bagus beli apartm n tinggal di kemayoran.

Ketika Andreas mengingatkan Retno soal jarak Bintaro yang jauh dari Kemayoran, Retno mengatakan ada jalan tol.

18:24: "Ada toll dan dia butuh teman main seusianya. Mg dpn km pindah."

Retno juga minta Andreas membayari bensin dan uang tol agar Retno bisa mengantar Norman sekolah.

18:40: "Pagi Bintaro one way. Ada toll jg. Sgt lancar. Toh sekolah cuma 3.5 hr. Kamis siang udh di t4 mu. U pagi aku antar jg bisa, km byr bensin. Mau gugat? Silahkan."

Roysepta Abimanyu soal Film Lekra


Bung Arya,

Saya bukan ahli sejarah, tapi saya ingat salah satu fakta yang membuat misteri 1 Oktober 1965 adalah adanya edisi Harian Rakjat yang bukan diterbitkan oleh surat kabar tersebut. Saya lupa, mungkin yang tanggal 3 Oktober itu. Jika ada yang di milis ini lebih tahu, silahkan menjelaskan pada kita semua.

Soal foto yang direproduksi dari film dokumenter yang dibuat oleh Des Alwi, terima kasih atas kirimannya. Saya sudah menguploadnya, untuk yang ingin melihatnya silahkan download dari Geopolitik.org. Namun saya tidak bisa berkomentar banyak. Tidak ada "damning evidence" dari foto tersebut yang menyatakan bahwa pembakaran itu benar-benar dilakukan oleh massa PKI. Tidak ada yang menunjukkan siapa pimpinan aksi pembakaran tersebut, siapa yang menyalakan api. Saya ingin menonton dokumenternya.

Tapi saya juga ingat, agen-agen Sekutu pernah memalsukan film dokumenter. Pada 25 Juni 1940, delegasi Prancis dipimpin Jenderal Huntziger menandatangani gencatan senjata (Armistice) di atas gerbong kereta yang sama sewaktu Jerman menandatangani gencatan senjata 22 tahun sebelumnya. Hitler hadir dalam peristiwa itu. Dalam dokumenter yang disebarluaskan di negara-negara sekutu, terlihat Hitler menari-nari. Tentunya tarian tersebut tidak pernah terjadi, kejadian tersebut benar-benar rekaan Sekutu. Saya tidak tahu apakah dokumenter tersebut adalah rekaman peristiwa sesungguhnya atau ilustrasi.

Salam,

Roysepta ABIMANYU
Geopolitik.org

Dokter Andreas Liando di Siloam Gleneages


Kepada yang terhormat:
Dokter Andreas Liando
Spesialis Anak RS Siloam Gleneagles
Karawaci Tangerang
Fax. 54210140, 54210153

Dengan hormat,

Saya menulis surat ini untuk memberitahu soal penyakit salah satu pasien Anda, Norman Harsono, yang rutin berobat, bahkan pernah opname, ke rumah sakit Siloam Gleneagle, sejak Norman berumur dua tahun. Norman adalah anak saya. Retno Wardani, ibunya, adalah mantan isteri saya. Saya mengikuti terus pengobatan Norman, termasuk lewat resep dan bukti pembayaran.

Saya kuatir ada aspek lain dari sakit Norman yang perlu Dokter ketahui. Pada 19 September 2005, Klinik Asma & Alergi Dr. Indrajana, Jakarta, mengadakan tes alergi terhadap Norman dengan 21 alergen makanan serta 12 alergen hirup. Hasilnya, Norman dinyatakan alergi terhadap tungau debu rumah, daging kepiting dan kotoran kecoak. Dokter L. Muliana menerangkan Norman tak boleh makan kepiting. Tempat sampah harus tertutup agar kecoak tak datang. Paling penting, sekaligus paling sulit, Norman harus terhindar dari tungau debu (dustmite).

Dia setiap pagi dan sore memakai obat hirup Seretide Inhaler 125. Menurut mereka, asma tak bisa disembuhkan tapi bisa dikontrol. Tungau debu biasa tinggal di kasur, sofa, bantal dan guling. Norman harus tidur dengan alas terpal agar saat tidur dia tak menghirup kotoran dari tungau debu. Dokter Muliana merekam semua nasehat ini dalam sebuah video agar semua petunjuk bisa didengar dan dilihat Retno serta Sri Maryani, pengasuh Norman.

Retno menolak melihat VCD tersebut. Retno juga tak percaya pada keharusan tidur dengan terpal. Dia sering mengeluh terpal membuat kasur jadi panas. Dia sulit tidur. Norman sering tidur tanpa terpal. Norman bolak-balik kembali ke dokter. Asmanya sering kumat. Tadi malam, sekali lagi, Retno menyembunyikan terpal Norman tidur. Sebaliknya, bila giliran tidur di rumah saya, dimana kamar bersih dan ranjang pakai terpal, Norman tak pilek dan batuk pagi harinya. Kalau diperlukan, Dokter bisa melihat health record Norman di Klinik Indrajana. Norman juga bolak-balik ke klinik tersebut.

Saya kira ini dulu informasi dari saya. Mungkin ada baiknya Dokter menanyakan isu ini kepada Norman langsung. Kiranya ini berguna untuk informasi pengobatan anak kami. Terima kasih.


Andreas Harsono
Jl. Palmerah Selatan Kav. 20
Senayan
Jakarta 10270


Norman Menjelang Perceraian
Retno dan Asma
Asthma Cases on the Rise Among Children
"Jangan Seenak Jidatmu Sendiri!"
Surat untuk Komisi Perlindungan Anak Indonesia
Kronologi Hak Pengasuhan Norman Harsono

Budi Setiyono Memberi Referensi Lekra


Dh,

Saya menegaskan bahwa saya bukan pendukung siapa-siapa. Sama seperti Bung Arya, saya menghormati Pram sebagai sastrawan. Tindakannya di masa lalu mesti dikaji secara serius. Tidak semata bersandar pada buku "Prahara Budaya" yang bias.

Kalau Bung Arya ingin minta buku lain selain "Prahara Budaya", saya bisa sebut sederet lainnya. Ada karya Keith Foulcher yang sampai saat ini dinilai paling objektif. Ada sejumlah sejarawan yang sedang menggarap soal Lekra juga, tapi kita masih menunggu hasilnya. Alex Supartono juga pernah mengulas soal sejumlah bahan "polemik" ini dalam (saya rasa masih bisa dibaca atau didownload di situs Edi Cahyono atau lewat Google) --di dalamnya juga diulas "Prahara Budaya" tapi dalam konteks "polemik" kebudayaan.

Kalau ingin dari sisi lainnya, dari kelompok Lekra, ada JJ Kusni "Turba di Klaten", Joebar Ajoeb (sekjen Lekra II) "Sebuah Mocopat Kebudayaan Indonesia" atau Besuki Resobowo "Bercermin Di Muka Kaca [Seniman, Seni, dan Masyarakat]". Sebagian buku itu masih bisa ditemukan di toko buku atau penerbitnya. Maaf, saya tak hendak menjejalkan data-data saja. Saya sendiri belum mencari data tentang pembakaran buku, karena fokus saya bukan ke sana (tapi nanti saya coba sempatkan menelisiknya kembali).

Saya ingin lebih kritis melihat masalah ini. Pram memang sosok unik, juga dalam Lekra. Dia jadi juru bicara Lekra, padalah ada Joebar Ajoeb, sekjennya. Tapi Pram sudah besar ketika masuk Lekra, juga sastrawan lainnya. Orang semacam Pram dibutuhkan Lekra. Ini sama seperti orang macam Rosihan Anwar dibutuhkan oleh PSI. Masa itu bukan hal aneh intelektual atau sastrawan "bergabung" dengan suatu partai atau lembaga tanpa terikat olehnya, tak bisa diatur-atur. Kekurangan Pram adalah dia "single fighter," kata AS Dharta, senior sekaligus tutor Pram. Akibatnya, seringkali pernyataannya tidak sesuai
dengan garis Lekra. Artinya, mungkin saja Pram melakukan pemberangusan itu. Dan kalau memang terjadi, berdasarkan penelitian yang serius, kenapa kita tidak mengakuinya. Paling kita kaget, sama seperti kekagetan orang ketika tahu sastrawan Gunter Grass pernah menjadi anggota SS NAZI, tapi tak mengurangi kekaguman kita pada karya-karyanya. Masalahnya, belum ada penelitian macam ini.

Saya tidak yakin forum pertemuan dengan pelaku sejarah akan menyelesaikannya --hal yang dari dulu diinginkan tapi tak terwujud. Kalau kita bisa mendatangkan Keith Foulcher atau Stephen Miller, hm saya senang sekali. Bolehlah yang tua-tua juga datang.

Senantiasa,

Budi Setiyono

Coen Husain Pontoh dari New York


Bung Arya yb,

Saya sungguh kagum dengan militansi anda, untuk meyakinkan saya bahwa Pram memang pernah membakar buku atau paling tidak "diam" ketika ada pembakaran buku. Saya sendiri telah kehilangan militansi semacam itu.

Sayang sekali, surat anda yang panjang lebar itu tidak membantu sama sekali dalam mendukung militansi itu. Lebih sedihnya lagi, untuk orang sekaliber anda yang luas pergaulan dan telah banyak makan asam garam dunia jurnalistik, data-data yang anda usung sebagai "fakta," sangatlah sumir.

Pertama, anda sama sekali tidak cover both sides (sesuatu yang paling minimal dalam standar jurnalistik yang benar), dalam pengutipan sumber. Anda terus saja menjejalkan opini (bukan fakta keras) dari para penentang Pram dan Lekra. Anda sama sekali tidak mempertimbangkan bahwa Pram sendiri pernah membantah keterlibatannya dalam aksi bakar buku.

Bung, pembakaran adalah kejahatan yang serius, dan anda menyulutnya menjadi kontroversi ketika melibatkan diri seorang Pram. Bagaimana mungkin anda bisa tiba pada kesimpulan bahwa Pram terlibat pembakaran buku, hanya dari satu sumber, dari mereka yang menentangnya, khususnya lagi dari "Prahara Budaya."? Tentu saja kalau anda melakukan metode cover both side, anda mesti meragukan klaim Prahara Budaya." Ditambah catatan, kontroversi itu tentu tidak otomatis selesai. Maka, anda tetap tidak boleh mengambil kesimpulan serampangan begitu. Majulah ke tahap selanjutnya, disiplin verifikasi. Kalau anda mengelak bahwa anda tidak punya cukup waktu, kenapa lantas menjatuhkan wibawa anda dengan kesimpulan mentah?

Ah, bung Arya, militansi anda mengingatkan saya ketika baru mulai menjadi aktivis mahasiswa tahun 90an. Padahal, zaman sudah berubah, militansi saja tidak cukup bung. Ketelitian, kesabaran, kebajikan untuk membuka diri terhadap kebenaran yang lain, sungguh-sungguh lebih penting.

Kedua, anda mengutip kata-kata "pembersihan" yang ditulis oleh Pram dalam lembar budaya Lentera di koran Harian Rakyat (HR) (katakanlah saya terima bahwa HR tgl 3 itu valid adanya). Dengan kata "pembersihan" itu, bung anggap Pram telah menyulut, atau memprovokasi pembakaran buku. Bung, lagi-lagi saya terpaksa mengatakan bahwa anda terlalu tergesa-gesa mengambil kesimpulan. Anda sama sekali tidak meneliti secara seksama "politik bahasa" pada masa itu, dan dengan beraninya melakukan interpretasi dalam konteks politik bahasa kekinian, suatu tindakan yang a-historis. Anda sungguh-sungguh mengabaikan semiotika di sini. Lupakah anda, bahwa di masa itu, slogan-slogan semacam revolusi, ganyang, hancurkan, bangun lagi, kontra-revolusi, Amerika kita setrika, Inggris kita linggis, retool, oldefo-conefo, adalah bahasa yang umum dipakai semua pihak? Bahkan tentara yang paling konservatif dan reaksioner pun, memakai istilah revolusi dalam slogan-slogannya.

Coba anda bandingkan, antara pidato atau tulisan Pram yang seperti itu, dengan pidato atau tulisan seorang Isa Anshary, tokoh Masyumi yang paling anti PKI? Sama-sama keras bung. Toh, kita tidak bisa bilang bahwa Isa Anshary terlibat pembantaian terhadap anggota atau simpatisan PKI. Iya khan?

Dan anda juga tahu, bahasa yang lemah gemulai, tidak berarti membawa pesan damai. Mau contoh? Coba pulang sedikit ke masa Orba, dimana para pemimpin suka sekali bilang "amankan (tangkap)," "sesuaikan (naikkan harga)," "gebuk (sikat)," "pembangunan (tunduk patuh)," "anti-pembangunan (pengkhianat)," "Pancasila (dogmatisme)," dsb.

Ketiga, katakanlah Pram memang benar menulis dengan keras, sekeras-kerasnya terhadap lawan-lawan politiknya. Bung, apa yang salah dengan itu? Apa yang salah dengan polemik? Saya kasih contoh sederhana polemik yang keras:

COEN: Arya itu provokator, ingin mengalihkan persoalan dari bakar buku.

ARYA: Saya bukan mengalihkan persoalan, saya mengingatkan Coen agar dia jangan lupa pada sejarah. Yang provokator itu Coen.

COEN: Kok bisa Arya terus mengelak. Dasar provokator. Sekali provokator tetap provokator.

ARYA: Lha yang provokator itu Coen. Buktinya, ia tak juga mengerti apa maksud saya, dan terus saja menuduh saya provokator.

Apa yang salah dengan polemik paling keras macam begini? Tentu tidak ada, paling-paling, yang membaca pada muntah. Polemik kok dangkal begitu. Menjadi soal, ketika para polemikus ini melakukan tindakan kekerasan fisik kepada lawan polemiknya.

Nah, menurut Anda, pada saat itu siapa yang melakukan serangan fisik kepada lawan polemiknya? Mas Goen bilang bahwa beberapa aktivis Manifes Kebudayaan, dihalang-halangi kegiatannya, diberhentikan dari jabatannya, atas pengaruh atau desakan Lekra. Dari mana kita bisa memastikan bahwa memang semua tindakan pemberangusan itu adalah hasil dari pengaruh atau desakan Lekra? Yang pasti, yang menghalang-halangi itu adalah polisi. Lha, jangan juga menutup mata bahwa banyak kok aktivitas PKI yang dihalang-halangi oleh Tentara. Dan beberapa anggota Manifes punya kesaman aspirasi politik dengan tentara.

Kalau polemik terbuka anda nilai sebagai provokasi, betapa berbahayanya. Provokasi dilakukan oleh setan jalanan, mereka yang pengecut, yang suka memancing di air keruh. Pram jauh dari itu. Dia secara terbuka mengemukakan pendapat-pendapatnya, dan tidak pernah melarang orang membantahnya. Dia tidak pernah melarang Mochtar Lubis atau Rosihan Anwar, atau Wiratmo Soekita, untuk menuliskan pendapatnya. Bahwa Pram dominan saat itu, ya karena secara politik PKI memang partai terbesar saat itu.

Keempat, bung Arya, anda terlalu berlebih-lebihan memandang pengaruh Pram terhadap organisasi PKI. Benar Pram secara individu sudah diperhitungkan kala itu tapi, suaranya sungguh tidak dominan apalagi menentukan dalam struktur pengambilan keputusan PKI. Dia juga bukan anggota PKI dan tidak duduk dalam struktur tertinggi PKI. Bahkan, di HR sendiri, Pram kalah wibawa dengan Nyoto, sang pemred yang begitu berpengaruh.

Dalam perbandingan saat ini, Pram bukanlah kiai Hilmi yang duduk di dewan syuro PKS, yang suaranya begitu powerfull.

Sehingga ketika anda menarik kesimpulan bahwa artikel Pram di Lentera itu memberikan pengaruh besar pada tindakan aktivis PKI, anda lagi-lagi menarik kesimpulan yang prematur.

-- Coen Husain Pontoh

Arya dan Prahara Budaya


Arya, Jadi kapan sebenarnya Pram membakar buku seperti halnya Nur Mahmudi Ismail?

Sayang sekali Anda tak bisa menjawabnya.

Saya sudah menduga Anda tak bisa menjawabnya. Saya juga bahkan sudah bisa menduga Anda akan berkelit dengan mengganti frase “Pram membakar buku” dengan frase “Pram membiarkan/menganjurkan bakar buku”. Dugaan saya sepenuhnya presisi.

(Jujur, saya tidak yakin Anda akan mengganti frase “Pram bakar buku” dengan “Pram menganjurkan/mendiamkan pembakaran” jika saya tidak menantang Anda secara terbuka untuk berbicara mengenai perkara ini secara detail – kendati Anda bilang tulisan panjang Anda bukan karena untuk menanggapi tantangan saya).

Tapi sekadar mengingatkan, tulisan Anda (baik untuk mengkritik materi pernyataan sikap, menjawab Linda atau pun menjawab Aboeprijadi) jelas-jelas menyebutkan Pram “membakari buku-buku lawan ideologisnya”.

Dan itu dilakukan berkali-kali. Terus menerus dalam tiga tulisan Anda itu (dan baru diganti dengan “membiarkan atau menganjurkan pembakaran” dalam tulisan Anda yang terbaru setelah saya menantang Anda untuk menjawabnya dengan detail).

Kita tahu semua, seperti apa kelakuan Nur Mahmudi yang pernah Anda coblos dalam perkara ini. Dengan mudah saya bisa sebutkan kapan dan di mana kelakuan Nur Mahmudi itu terjadi. Itulah sebabnya saya menantang Anda secara terbuka. Saya jengah karena Anda terus menerus menyamakan apple to apple antara Pram dan Nur Mahmudi dalam soal bakar-membakar ini

Kita bisa berdebat soal selisih antara “membakar buku” dengan mendiamkan/menganjurkan pembakaran”. Tapi yang jelas, keduanya tidak persis.

Dengan terus-menerus mereproduksi frase “Pram membakari buku” (seperti terbaca jelas dalam 3 tulisan Anda: kritik untuk materi pernyataan sikap, jawaban pada Linda, dan jawaban pada Aboeprijadi), saya kahawatir Anda terpeleset pada “ommision of fact”. Karena Pram memang tidak membakar buku (sampai ada yang bisa membuktikannya).

Sayang bukan jika apa yang Anda sebut sebagai “memukul air di dulang terpercik wajah sendiri” ternyata berlaku pula pada Anda?

Jika memang tidak bisa membuktikan Pram membakar buku, janganlah katakan itu berkali-kali. Jika Anda hanya bisa membuktikan bahwa “Pram memberangus kebebasan berpikir” atau “mendiamkan pembakaran buku”, cukuplah Anda katakan itu saja dan tak usahlah menggunakan frase-frase berlebihan yang tak bisa dibuktikan koherensinya dengan kenyataan. Itu jauh lebih bertanggungjawab. Barangkali lebih “ilmiah”. Dan yang jelas itu jauh lebih “adil”.

Dengan terus-menerus mereproduksi frase “Pram membakari buku” pada saat sebenarnya Anda memaksudkan (dan hanya bisa membuktikan) “Pram memberangus kebebasan berpikir atau mendiamkan pembakaran buku”, Anda sama saja sedang mereproduksi jargon-jargon.

Tidak usah pula menyebut tantangan saya sebagai Agitprop seraya menulis dalam tanda kurung itu sebagai istilah PKI.

Apa pula itu maksudnya? Apakah Anda sedang mencoba membangun sebuah atribusi (diam-diam) buat saya sebagai orang yang berbahasa dengan nuansa PKI? “Tantangan berpolemik secara terbuka” tidak identik dengan Agitprop, apalagi dengan PKI. Organ-organ jaman behuela, tidak hanya PKI, biasa menggunakan istilah Agitprop, termasuk salah satu musuh besar PKI yaitu Partai Murba. Coba Anda baca Katalog Kepartaian Indonesia yang diterbitkan Kementerian Penerangan pada 1951. Janganlah mulai bikin-bikin atribusi dengan gaya stigmatisasi macam itu lah…. Biasa aja, dong!

Cara-cara Anda menyebut tantangan saya yang dinyatakan secara terbuka dengan menghubung-hubungkannya dengan “agitprop” dan “PKI” rentan membawa Anda pada laku stigmatisasi. Saya berprasangka baik Anda tidak sedang ingin membangun atribusi (diam-diam) bahwa saya “seperti PKI”, tapi cukup jelas, cara-cara macam Anda itu sering kita dengar sebelum 1998.

Jadi, Bung Arya, jika memang Anda tidak mampu membuktikan kapan dan di mana Pram membakar buku, tak usah pula Anda terus menerus mereproduksinya. Carilah parafrase/kalimat yang Anda anggap jauh lebih koheren dengan kenyataan dan yang dengan mudah pula Anda membuktikannya.

Kita tidak makin cerdas dan jernih menyikapi sejarah dengan mereproduksi terus-menerus jargon-jargon, seperti juga kita tidak bisa melawan lupa dengan cara begitu.

Orang harus membayar apa yang ia perbuat dan orang tak bisa diminta membayar apa yang tidak ia lakukan.

****


Arya,

Sekarang, mari kita omong-omong sebentar tentang buku “Prahara Budaya” yang disusun oleh DS Moeljanto dan Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail.

Saya tidak apriori dengan “Prahara Budaya”, tapi saya tidak percaya begitu saja dengan buku “Prahara Budaya” dalam upaya memahami PKI-LEKRA-Pram.

Buku itu melulu diisi sisi keburukan PKI-LEKRA-Pram. Siapa pun yang pernah membaca buku “Prahara Budaya”, akan terjerat oleh kesan betapa ganas, bahaya, dan biadabnya PKI-Lekra-Pram. Propaganda Orde Baru tentang komunisme sebagai mahluk jahat seperti satu partitur dengan buku “Prahara Budaya”. Tidak berlebihan jika saya bilang buku itu disusun dengan cara propaganda, bukan dengan semangat ilmiah untuk menemukan “kebenaran”.

Jika ada orang yang bertanya pada saya buku apa yang berhasil membangun kesan betapa ganas dan berbahayanya Lekra-PKI-Pram, salah satu yang akan dengan tangkas saya sebutkan adalah buku “Prahara Budaya”.

Itu pula yang saya alami ketika membaca “Prahara Budaya” di awal-awal masa kuliah dulu. Kesan saya ketika itu, betapa jahat dan sama sekali tak ada nilai positifnya PKI-Lekra-Pram. Saya yang dibesarkan dalam kultur bahasa Indonesia yang baik dan benar ala Orde Baru, terperangah membaca artikel-artikel dari para pendukung PKI atau Lekra yang menggunakan gaya bahasa provokatif dan “gila-gilan”.

(Jadinya, saya pun tidak heran jika Arya Gunawan – yang juga dibesarkan dalam kultur pendidikan yang memuja bahasa Indonesia yang baik dan benar -- menanggapi subjek postingan saya yang berjudul TANTANGAN TERBUKA BUAT ARYA GUNAWAN dengan memberi komentar sebagai tulisan “bernuansa agitprov” dan pada saat yang sama masih merasa perlu menulis dalam tanda kurung “ini tentu saja istilah PKI”. Karena saya menggunakan gaya bahasa bernuansa Agitprop yang merupakan istilah PKI dan dengan demikian saya -– secara tidak langsung — dianggap “bernuansa PKI”. Bah, macam mana pula kejernihan membaca sejarah dan melawan alpa dilakukan dengan gaya pukul rata macam begini, Bung?)

Belakangan, setelah saya membacai langsung koran Harian Rakyat (milik PKI), Bintang Timur (yang lembar budayanya, Lentera, dipegang oleh Pram), Abadi (milik Masjumi) atau Duta Masjarakat (milik NU) apalagi Indonesia Raja pimpinan Mochtar Loebis, saya baru sadar bahwa gaya bahasa macam itu memang menjadi “cara wicara” (type of speech) ketika itu. Gaya bahasa macam itu memang mencerminkan dengan baik semangat zaman ketika itu yang dipenuhi semangat berpolemik, tantang menantang, hantam menghantam.

Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail dengan baik sekali membangun kesan bahwa bahasa itu sebagai cermin kepribadian ganas PKI-Lekra, yang ia sebut sebagai gaya bahasa “caci-maki” dan “propaganda”, tetapi pada saat yang sama Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail juga menggunakan gaya bahasa yang tidak kalah agitatifnya, seperti “mesin penyerangan untuk Manikebu”, dll.

Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail tidak pernah menyebut-nyebut bahwa jika pun harus dicari orang yang dimintai pertanggungjawaban atas gaya bahasa yang agresif dan agitatif itu, Soekarno tidak bisa tidak tersangkut-paut dalam perkara ini. Soekarno adalah orang yang punya kemampuan membentuk “cara-wicara” dan gaya bahasa. “Prahara Budaya” tak pernah menjelaskan konteks ini secara jernih.

Arya benar bahwa “Prahara Budaya” memuat tulisan-tulisan langsung para pelaku sejarah ketika itu. Tapi, keberadaan tulisan para pelaku sejarah, tidak serta merta membuat “Prahara Budaya” menjadi cukup berwibawa untuk dijadikan rujukan memahami sepakterjang PKI-Lekra-Pram secara utuh dan proporsional.

Sebabnya, “Prahara Budaya” hanya memajang tulisan-tulisan para pelaku sejarah ketika itu dengan penyuntingan yang tidak begitu jelas teknik dan metodenya. Sementara pada saat yang sama, Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail dan DS Moeljanto bisa dengan leluasa menuliskan kesimpulan, tafsir, dan pernyataan-pernyataan apa pun yang ingin ia suarakan.

Ini kentara, saya contohkan salah satunya, pada pengantar dia pada bagian kelima “Prahara Budaya” yang ia upayakan untuk bisa mencitrakan betapa para penyair Lekra memang menghamba pada Lenin dan Komunisme dan bahkan dianggap sudah tahu peristiwa 1 Oktober 1965.

Dia menyebut puisi penyair Mawie yang berjudul “Kutunggu Bumi Memerah Darah” yang dimuat pada Maret 1965 sebagai bukti (saya kutipkan tulisan Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail) “karena rupanya dia sudah tahu sebelumnya”. Maksudnya, penyair Mawie dianggap sudah tahu bahwa akan terjadi pertumpahan darah pada 1 Oktober 1965.

Ini propaganda, saya kira, karena terlalu berlebihan menyebut Mawie tahu akan terjadi pertumpahan darah pada 1 Oktober 1965, apalagi Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail tidak pernah menjelaskan argumen atas tuduhannya itu dalam sebiji kalimat pun. Dengan memvonis penyair Mawie sudah tahu peristiwa 1 Oktober 1965 jauh-jauh hari sebelumnya, kita dikesankan untuk percaya bahwa mereka semua memang terlibat, atau setidaknya, tahu.

Jika saja Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail mau adil, dia harus katakan bahwa puisi dengan nuansa “merah-darah” tidak ada hubungannya dengan peristiwa 1 Oktober karena para penyair yang bersimpati dengan Lekra sudah terbiasa menggunakan metafora macam itu bertahun-tahun jauh sebelum 1965.

Itu bisa dibaca dari puisi Njoto berjudul “Merah Kesumba” yang diterbitkan pada Maret 1961 atau puisi Roemandung berjudul “Darah Merah di Wadjah Duka” yang ditulis di Pematangsiantar pada April 1958 dan diterbitkan Harian Rakjat pada 7 Juli 1962.

Sayangnya ini tak dimuat oleh Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail di “Prahara Budaya”. Bukankah menggelikan jika mereka disebut tahu bahwa beberapa tahun ke depan akan terjadi peristiwa 1 Oktober 1965.

Saya dulu percaya bahwa setiap orang-orang Lekra memang terlibat dalam peristiwa 1 Oktober 1965, ya karena buku “Prahara Budaya” ini. Untung saja saya punya kesempatan untuk menelusuri sumber-sumber asli koran-koran pada zaman itu dan lebih teliti serta berhati-hati memamah “Prahara Budaya”.

Bagaimana dengan orang-orang yang tak punya akses pada sumber-sumber itu? Kasihan sekali jika mereka percaya bahwa para Mawie dan para penyair Lekra sudah tahu jauh-jauh hari peristiwa berdarah 1 Oktober 1965.

“Prahara Budaya” tidak cukup adil memberi tempat dan menggambarkan PKI-Lekra-Pram. Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail dan DS Moeljanto hanya memajang tulisan-tulisan yang menggambarkan wajah seram PKI-Lekra-Pram dan menggiring pembaca untuk sampai pada kesimpulan itu dengan menerakan komentar-komentarnya sendiri.

Hanya dengan membaca “Prahara Budaya”, kita hanya akan mendapat cerita keganasan PKI yang menggerebek mesjid di Kanigoro tanpa akan pernah tahu bahwa PKI yang sama pernah membangun dan merehab belasan mesjid di Sumatera pada 1964. Hanya dengan membaca “Prahara Budaya”, kita hanya akan mendapat gambaran PKI-Lekra-Pram sebagai subyek-subyek yang membakari buku dan memberangus kebebasan berpikir orang-orang Manikebu (dalam istilah Pram) atau Manifestan (dalam istilah Wiratmo Soekito).

Hanya dengan membaca “Prahara Budaya”, kita tidak akan pernah menyadari satu hal penting: bahwa PKI-Lekra-Pram juga sepaham dengan Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail dalam soal moralitas.

Belakangan saya membacai koran-koran lama, termasuk Harian Rakyat dan Bintang Timur. Salah satu hal yang baru saya sadari, dan tak akan pernah Anda sadari jika hanya membaca Prahara Budaya, adalah bahwa PKI-Lekra adalah organ yang getol sekali mengampanyekan soal moralitas, seperti juga Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail di hari-hari belakangan.

Hanya membaca “Prahara Budaya”, kita akan kehilangan kesempatan untuk menyadari bahwa PKI-Lekra amat getol mengampanyekan anti buku-buku cabul, majalah-majalah cabul, film-film cabul, sastra cabul hingga pakaian-pakaian cabul.

Wakil CC PKI Njoto ketika pada 29 Desember 1954 naik mimbar di gedung bioskop Radjekwesi Bodjonegoro, Jawa Timur. Sebagaimana digambarkan Harian Rakjat edisi 5 Februari 1955, malam itu Njoto tak mengepit berlembar-lembar kertas pidato, sebagaimana Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail lakukan di Taman Ismail Marzuki ketika berpidato ihwal Gerakan Syahwat Merdeka (GSM) atau pun di ruang auditorium UNY sewaktu menerima gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang Pendidikan Sastra.

Njoto, malam itu, berbicara mengenai sikap PKI atas demoralisasi masyarakat, khususnya bagi anak-anak pelajar. Njoto bilang: “PKI menjokong setiap usaha jang akan memberantas demoralisasi, tidak sadja dikalangan peladjar, tetapi dikalangan manapun. Sekarang ini, tidak sedikit orang jang suka meremehkan pengaruh jg ditimbulkan oleh film2 tjabul, buku2 tjabul dan musik tjabul. Ibu2 dan bapak2, djuga guru2, lebih daripada saja tentu tahu betapa merusaknja barang2 tjabul itu bagi watak dan sifat anak2 kita. Pengaruh jang djelek itu sudah demikian meluasnja, sehingga tidak sedikit anak2 kita jang menanggalkan pakaiannja jg nasional, pakaiannya jang normal, dan lebih suka memakai tjelana jang saja sebut sadja ,,tjelana potlot”.”

Dalam usaha membendung keganasan “barang2 tjabul” itu PKI jauh lebih keras tindakannya. Njoto dalam pidato yang sama tak lupa berjanji merencanakan suatu mosi menuntut pelarangan segala sesuatu yang cabul kepada Parlemen. Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI) lantas memfasilitasi sarasehan besar “Demoralisasi Peladjar” yang digelar selama sepekan pada 27 Februari s/d 5 Maret 1955 di Jogjakarta.

Lekra cabang Jogja pernah membuat program melakukan sweeping atas pemakai baju-baju norak nekolim atau you-can-see. Bagi PKI dan eksponen Lekra, pakaian-pakaian cabul semacam you-can-see dan bikini, film cabul, sastra cabul, maupun majalah cabul bukan soal sepele. Ia adalah bagian dari arus revolusi kebudayaan yang mesti dibersihkan dari perikehidupan masyarakat.

Dan mereka konsisten dengan sikap penentangan itu. Ada sekira sepuluh tahun rentang antara pidato Njoto dan tindakan Panglima Daerah Angkatan Kepolisian X Jawa Timur di Surabaya, Drs Soemarsono, yang menyerukan bahwa “disamping terhadap lagu2 ngak-ngik-ngok sebangsa the beatle, rok n roll, AKRI akan mengambil tindakan tegas terhadap mode2 pakaian jang berbau nekolim”.

Pada 8 Juli 1961, Harian Rakjat bersikap keras terhadap film-film Amerika yang dianggap dipenuhi adegan mesum, seks dan mengajarkan kekerasan. Tulisan yang secara jelas menerangkan sikap PKI dalam hal tulisan dan tayangan seks dan kekerasan itu terpajang manis dalam judul “Hanja Menghendaki Sex dan Kekerasan”.

Majalah-majalah yang dianggap cabul seperti Playboy dirazia yang dalam bahasa kartun Harian Rakjat edisi 8 Agustus 1965 merupakan sampah-sampah berbau Amerika yang sepantasnya dibuang. Sejalan dengan itu, Badan Kontak Organisasi Wanita Indonesia Djawa Timur (BKOWI) di Surabaya juga mengeluarkan pernyataan menertibkan peredaran buku-buku dan majalah yang tak sesuai dengan kepribadian nasional. Keluarnya pernyataan itu merupakan respons langsung dari beredarnya kisah-kisah bergambar saru nan mesum yang tak pantas dilihat, “Keluarga Miring” No 8, 9, 10 terbitan Semarang tahun 1965.

Standar moral PKI, dalam hal beginian, relatif keras. Soedjojono, pelukis yang oleh Claire H0lt dalam studinya tentang sejarah seni di Indonesia maupun dalam disertasi Farida Soemargono di Ecolo des Hautes Estudes en Scien Sociales (Paris) disebut sebagai penubuh gagasan realisme (sosialis) Indonesia dalam seni rupa Indonesia ketika ia bergelut di Jogjakarta pada akhir 1930-an hingga awal 1950-an (kurang lebih seperti posisi Pram sebagai penganjur realisme sosialisme dalam kesusastraan), sampai harus dipecat karena menolak meminta maaf dan ampun setelah ia berpoligami dengan menikahi istri mudanya yang bernama Rose Pandanwangi (sama bukan dengan Partai Bulan Bintang yang berazas Islam ketika memecat Zaenal Maarif gara-gara berpoligami?). Sikap Aidit tergolong keras dalam perkara moral macam beginian.

Apakah pernah Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail mengakui “sumbangan” PKI-Lekra dalam perkara beginian? Apakah ada pengungkapan wajah lain PKI-Lekra dalam perkara beginian dalam buku “Prahara Budaya”?

Apakah Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail kesulitan menemukan klping-kliping seperti itu? Saya pastikan tidak mungkin.

Jika Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail dengan mudah menampilkan kliping-kliping tulisan yang dengan telanjang menganjurkan pengganjangan terhadap Menikebu, jika mau dia juga bisa dengan mudah menemukan dan menampilkan sikap moral PKI-Lekra dalam soal seks, gambar mesum, film porno dan kekerasan. Kampanye pengganjangan Manikebu sama banyaknya dengan pengganjangan bikini, playboy, film porno, buku cabul, majalah cabul (Anda akan menyadarinya jika menyambangi langsung koran-koran pada masa itu, terutama Harian Rakyat dan Bintang Timur).

Lantas kenapa yang beginian tidak diberi tempat dalam “Prahara Budaya”? Bagi saya, cukup jelas, “Prahara Budaya” memang diabdikan untuk menggelar kampanye untuk membangun citra yang buruk terhadap PKI-Lekra-Pram.

Apakah pernah orang-orang berpikir bahwa PKI-Lekra punya standar moral yang jelas dalam perkara kecabulan? Tidak bukan? Orang hanya tahu keburukan dan keganasan PKI-Lekra. Dan buku “Prahara Budaya”, bagi saya, adalah salah satu eksponen terpenting dari proyek besar stigmatisasi itu.

Buku “Prahara Budaya” memang tidak meyakinkan untuk menjelaskan keutuhan sepakterjang PKI-Lekra-Pram. “Prahara Budaya” baru meyakinkan dalam hal menggambarkan keburukan dan keganasan PKI-Lekra-Pram.

*****


Arya,

Saya menemukan kesejajaran sikap dan standar moral PKI-Lekra dengan polah Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail hari-hari belakangan ini yang juga doyan betul mempropagandakan sikap anti-karya sastra cabul, novel cabul, film cabul dan majalah cabul melalui peristilahan (dengan gaya menggunakan akronim yang tidak beda dengan PKI-Lekra-Pram), macam SMS (Sastra Mazhab Syahwat), GSM (Gerakan Syahwat Merdeka) atau FAK (Fiksi Alat Kelamin).

Ketika ditanya soal penggunaan akronim-akronim macam itu, GM (dalam komentarnya atas Pernyataan Ode Kampung) berkomentar dingin: “Sepertinya akronim-akronim lagi naik daun sekarang.”

Bedanya, Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail mengalasdasari dengan dalil-dalil kitab suci sementara PKI-Lekra mengalasdasari dirinya dengan dalil-dalil revolusi anti-Nekolim yang dimuntahkan dengan begitu bersemangat di banyak sekali kesempatan oleh Bung Karno.

Jika dulu Njoto atau Aidit atau PKI atau Lekra saling bajak-membajak dengan pemerintah c.q Soekarno untuk melakukan apa yang disebut GM sebagai “memberangus kebebasan berpikir”, itu pula yang sepertinya sedang diusahakan oleh Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail yang datang ke Parlemen untuk meminta kurikulum 2004 yang menghilangkan kata PKI dalam peristiwa 1965 untuk dibatalkan, dalam kosa kata PKI: “diganjang”. (Untuk mengetahui keterlibatan Taufiq Ismail dalam upaya membatalkan kurikulum 2004 bisa dibaca di sini dan di sini )

Anda bisa membaca wawancara teman sekantor saya dengan sejawaran senior Anhar Gonggong yang menguak peristiwa di mana Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail datang ke Parlemen memohon-mohon agar buku sejarah berbasis kurikulum 2004 dilarang dari peredaran. Kata Anhar Gonggong ketika itu: “Faktanya pemerintah lebih mendengar Taufiq Ismail daripada kami para sejarawan.” (komentar Anhar Gonggong selengkapnya bisa dibaca di sini )

Dari situlah asal muasal pembakaran buku pelajaran sejarah berbasis kurikulum 2004 oleh Nur Mahmudi Ismail, orang yang pernah Anda coblos dalam Pemilihan Umum di Depok tapi belakangan Anda mengaku mencabut mandat Anda padanya.

Pembakaran buku dimulai oleh sejumlah orang, termasuk Taufiq Ismail, yang menginginkan agar buku pelajaran sejarah berbasis kurikulum 2004 dihapuskan. Mereka, termasuk juga Taufiq Ismail, mengusahakan hal itu dengan banyak cara, termasuk mendatangi parlemen. Kebetulan parlemen banyak diisi oleh orang-orang yang memang alergi dengan segala macam yang berbau PKI. Kompak sudah. Klop betul.

Maka keluarlah pelarangan buku pelajaran sejarah kurikulum 2004 oleh Kejaksaan Agung. Berdasarkan itulah Nur Mahmudi membakar buku. Setelah itu, keluarlah pernyataan sikap menolak pembakaran buku. Setelah itu, Anda mengritik pernyataan sikap itu sebagai mengandung ommision of fact karena tidak mencantumkan pembakaran buku (yang katanya) dilakukan oleh Pram, seraya pada saat yang sama menyebut terus menerus buku “Prahara Budaya” yang disusun oleh Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail, orang yang justru rajin menuntut pelarangan buku sejarah berbasis kurikulum 2004 yang jadi prolog alias asal muasal pembakaran buku oleh Nur Mahmudi.

Bagaimana bisa kita menganjurkan untuk melawan alpa dan ommision of fact dengan merekomen buku “Prahara Budaya” yang hanya menghadirkan sisi buruk PKI-Lekra-Pram seraya pada saat yang sama menghilangkan banyak hal penting dari sisi lain PKI-Lekra-Pram?

Lagipula, buku itu disusun oleh orang yang justru rajin menuntut pelarangan buku sejarah berbasis kurikulum 2004 yang kelak menjadi pangkal pembakaran buku.

Anda jangan lupa asal muasal sengkarut kelakuan Nur Mahmudi Ismail membakari buku. Karena pelarangan buku sejarah dan pembakaran buku pelajaran sejarah itu satu paket; sebab yang kedua tak mungkin terjadi tanpa kejadian yang pertama.

Apakah Anda menyebutkan peran Sang Penyusun buku “Prahara Budaya” dalam sengkarut pelarangan buku sejarah yang akhirnya berujung pada pembakaran buku sejarah? Tidak bukan?

Jika benar tuduhan Anda bahwa Pram membiarkan atau menganjurkan pembakaran buku, hal yang sama mesti Anda jelaskan di mana posisi Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail dalam pelarangan buku sejarah yang akhirnya berujung pada pembakaran buku.
Itu baru adil namanya.

****


Arya,

Anda, seperti juga “Prahara Budaya”, tidak salah ketika menyebut adanya pembakaran buku yang tidak bisa tidak melibatkan PKI-Lekra-Pram, langsung atau tidak, berikut selisih derajat keterlibatan dan peran mereka masing-masing.

Perpustakaan USIS di Surabaya diserbu dan dibakar jam 18.30 pada 8 Desember 1964 dan diberitakan di Harian Rakjat pada terbitan 9 Desember 1965. Sebelumnya, pada 5 Desember 1964, mereka yang menamakan dirinya Front Pemuda, menyerbu gedung USIS dan lantas membakar buku-buku milik USIS di Jakarta.

Penyerbuan dan pembakaran itu dilakukan setelah mereka menghadiri Rapat Umum Setiawakan dengan Rakyat Kongo yang menolak invasi Amerika dan Belgia ke Kongo. Peristiwa ini kemudian diberitakan sebagai headline di halaman muka Harian Rakjat pada edisi Sabtu, 5 Desember 1964.

Pada hari yang sama dengan terbitnya Harian Rakjat dengan headline itu, nyaris semua surat kabar dI Jakarta juga memberitakannya. Harian Suluh Indonesia, Warta Bhakti, Duta Masjarakat, Sinar Harapan dan Bintang Timur memberitakan peristiwa USIS dan Rapat Umum Setiakawan dengan Rakjat Kongo dengan nada simpatik, sementara Merdeka (yang dipimpin oleh BM Diah, orang yang mendirikan Badan Pendukung Soekarnoisme) dan Berita Indonesia (yang didirikan salah seorang sahabat HB Jassin, Anas Ma’ruf, yang produktif menerjemahkan karya-karya Tagore, Steinbeck hingga Kabawata) bersikap antipati dengan penyerbuan dan pembakaran USIS itu.

Bagaimana sikap Lekra?

Saya belum menemukan pernyataan resmi Lekra ihwal penyerbuan dan pembakaran buku milik USIS. Yang saya temukan adalah sikap resmi Pmpinan Pusat Lekra yang menuntut penutupan USIS. Sikap resmi Lekra itu terbaca jelas di halaman muka (persisnya di pojok atas bagian kanan) Harian Rakjat dalam judul berita: “PP Lekra Dukung Tuntutan Warta Berita: Tutup USIS dan Pusat Kebudajaan AS”.

Foto pembakaran buku macam itu tidak hanya bisa didapatkan dari buku “Prahara Budaya”. Foto yang sama bisa didapatkan pula, misalnya, pada koran-koran masa itu. Juga bisa ditemukan dalam memoar yang ditulis oleh Duta Besar Amerika pada periode itu, Marshal Green, yang berjudul “Indonesia: Crisis and Transformation 1965-1968” (yang edisi terjemahannya pernah diterbitkan oleh Grafiti).

Fakta itu terlalu telanjang untuk dilewatkan begitu saja, dan saya tidak pernah berniat menggelapkan fakta itu.

Saya tidak tahu kenapa para penandatangan pernyataan sikap menolak pembakaran buku tidak menyebutkan ini (satu misteri yang membuat kawan saya, Ikram Putra, penasaran bukan main!). Biarlah para penandatangan itu yang menjawabnya, karena saya memang tidak ikut menandatangani, kendati sikap saya jelas-jelas menolak dan melawan pembakaran buku berdasar dalih apa pun.

Tetapi, jika pun mau adil dan dengan semangat untuk membicarakan sejarah secara jernih dan proporsional, mesti dijelaskan secara fair juga posisi dan dalam skala apa keterlibatan mereka, dan tidak dengan serta merta memukul rata semuanya sebagai “para pembakar buku” seperti yang dipakai Arya dalam tiga tulisan sebelumnya, yang lantas diperbaiki frasenya ditulisan Arya yang terakhir.

Gaya pukul rata ini diadopsi dari “Prahara Budaya”. Kalau pinjam istilah anak sekarang, “Prahara Budaya” banget!

Dan juga jika mau adil, “Prahara Budaya” dan juga Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail sebaiknya menjelaskan pula sikap moral PKI-Lekra-Pram dalam hal moralitas terhadap seks, pornografi dan kekerasan; hal ihwal yang belakangan juga digembor-gemborkan oleh Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail. Karena itu satu paket.

Jika saja Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail menyusun “Prahara Budaya” dengan cara seperti, misalnya, Vedi R. Hadiz dan David Bourchier ketika menyusun buku “Indonesia Politics and Society: A Reader”, saya barangkali bisa lebih menghormati “Prahara Budaya”.

Buku yang disusun oleh Vedi dan Bourchier itu berisi kliping-kliping tulisan atau artikel atau manuskrip yang dianggap bisa menggambarkan dan mewakili gagasan politik yang penting selama masa Orde Baru.

Berbeda dengan “Prahara Budaya”, buku tersebut hanya menyajikan kata pengantar panjang plus anotasi dan tidak mencampurbaurkan antara opini penyusunnya dengan bahan-bahan kliping yang ditampilkan. Pembaca bisa memilah dengan baik mana yang merupakan sikap penyusun dan mana kliping aslinya. Penyuntingan memang dilakukan, tetapi penyuntingan itu dilakukan dengan tidak banyak mengubah aslinya.

****


Arya,

Sekarang mari kita omong-omong sebentar mengenai hubungan Lekra dan PKI.

Saya mencoba mengerti jika Anda, dalam tulisan terakhir, menyebut Lekra sebagai organ PKI di bidang kebudayaan dan kesenian.

Tetapi, penyebutan Lekra sebagai organ atau alat PKI tidak sepenuhnya bisa menjelaskan bagaimana sebenarnya hubungan antara PKI-Lekra. Berhenti hanya dengan menyebut Lekra sebagai organ apalagi alat PKI, bagi saya, berpeluang menghilangkan banyak detail sejarah termasuk kompleksitas hubungan antara Lekra-PKI.

Bagi saya, detail sejarah seperti itu, mau tidak mau, mesti diikutsertakan jika kita memang ingin berbuat adil dan menyajikan sejarah secara proporsional. Detail seperti itu mesti dijelaskan jika kita ingin lolos dari jeratan ommision of fact. Berhenti dengan predikat “organ atau alat PKI” saja, bagi saya, rentan untuk terjebak pada gaya berpikir “pukul rata” yang kurang kondusif bagi upaya menebarkan pemahaman sejarah yang lebih proporsional dan koheren dengan kenyataan.

Dengan semangat mengeliminasi gaya berpikir pukul rata yang mudah membawa kita pada kubangan ommision of fact, saya mencoba membagi pengetahuan dan informasi yang saya ketahui mengenai hubungan antara Lekra dan PKI.

Semua orang tahu bahwa antara Lekra dan PKI punya hubungan yang khusus. Menjadi ommision of fact jika ada yang bilang bahwa Lekra dan PKI sama sekali tak memiliki hubungan apa pun. Kedekatan keduanya terlalu telanjang untuk dilenyapkan begitu saja.

Kedekatan antara PKI-Lekra dan kedekatan keduanya dengan Soekarno begitu jelas pada periode Demokrasi Parlementer. Unsur Soekarno ini penting karena sekuat-kuatnya PKI atau Lekra, mereka tak ada artinya tanpa Soekarno. Ketiga-tiganya sama-sama doyan mereproduksi jargon-jargon revolusioner, Manifesto Politik, Neo-kolonialisme dan imperialisme dan pada semangat pada revolusi yang dibayangkan akan mamupu membebaskan Indonesia dari feodalisme dan imperialisme.

Seperti yang ditunjukkan oleh Rex Mortiner dalam studinya tentang komunisme Indonesia pada masa Soekarno, kadang ucapan PKI, ucapan pengurus Lekra atau pun ucapan Soekarno hampir-hampir tak bisa dibedakan lagi. Faktor penting Soekarno ini tak dijelaskan dengan memadai oleh “Prahara Budaya”, seakan-akan Lekra-PKI sajalah pihak yang bertanggungjawab.

Tetapi seberapa dekat sih hubungan Lekra-PKI? Apakah sedekat antara Barisan Tani Indonesia (BTI) atau Pemuda Rakyat (PR) dengan PKI? Seberapa kuat jaring komando antara PKI dengan Lekra?

Yang saya tahu, sampai munculnya Pageblug 1965, Lekra “gagal dikomuniskan” oleh Aidit dan PKI. “Gagal dikomuniskan” di situ artinya Lekra tidak pernah menjadi organ milik PKI seperti yang Anda bilang di tulisan terakhir Anda. Hal yang sama berlaku juga pada Gerwani.

Upaya mengkomuniskan Lekra atau Gerwani biasanya dilakukan dalam kongres-kongres resmi organ-organ tersebut. Jika PKI gagal mengkomuniskan mereka secara resmi, PKI biasanya lantas membentuk sendiri organ-organ yang dia inginkan.

Karena itulah PKI akhirnya membuat Konferensi Seni dan Sastra Revolusioner (KSSR) yang akhirnya menjadi organ atau onderbouw resmi PKI. Karena Gerwani “gagal dikomunsikan”, maka PKI akhirnya membentuk organ resmi yaitu Wanita Komunis.

Lekra tidak pernah menjadi onderbouw resmi PKI sebagaimana BTI, PR, CGMI, atau SOBSI, atau kalau sekarang seperti Banser bagi PKB atau Gerakan Pemuda Ka’bah bagi PPP.

Bahwa ada orang-orang komunis di tubuh LEKRA, itu jelas dan terlalu telanjang untuk dilenyapkan. Salah satu simpul hubungan antara Lekra dan PKI paling telanjang terlihat dari keberadaan Njoto di Lekra. Njoto pula salah satu orang yang ikut menggodok pendirian Lekra.

Tetapi antara Lekra dan PKI bukannya identik. Perbedaan tajam antara keduanya bukan sekali dua muncul. Sejumlah tokoh Lekra menolak campur tangan berlebihan dari partai. Instruksi-instruksi Partai yang datang seperti sabda sangat sering menjengkelkan tokoh-tokoh kunci Lekra.

Puncak perbedaan itu ya ketika PKI berniat mengkomuniskan Lekra pada 1964. Njoto sendiri, yang pernah dijuluki Brother Number Two yang merupakan Wakil Ketua CC PKI, terlibat dalam penolakan itu. Njoto pernah bilang pada koleganya di CC PKI bahwa cukuplah dirinya saja yang ada di Lekra dan tak usah sampai mengkomuniskan Lekra.

Dalam salah satu perbincangan singkat antara Muhidin M Dahlan (rekan sekantor yang sedang meneliti koran-koran kiri di masa lalu) dan saya dengan Martin Aleida di gang menuju TIM, Martin sempat kurang lebih sempat bilang: “Seandainya PKI menang, orang-orang seperti Pram dan Njoto barangkali akan dihabisi oleh PKI.”

“Kami menolak. Saya juga menolak, karena tidak bisa, misalnya, seorang Pram diperintah menjadi merah. Begitu juga yang lain. Nggak bisa,” tegas Oey Hay Djoen, orang yang saya lihat datang pada malam terakhir kehidupan Pramoedya.

Orang-orang seperti Pram, Rivai Apin, atau Soedjojono terlalu kokoh untuk diperintah ini dan itu atau disuruh menulis dan melukis begini dan begitu. Dalam kata-kata Oey, “Mereka semua sudah harimau sebelum Lekra dibentuk.”

(Barangkali ini seperti Tan Malaka, yang kendati seorang komunis, tetapi cukup jelas ia tidak bisa diperintah semau-maunya oleh Komintern. Itulah sebabnya Hatta pernah mngeluarkan komentar yang terkenal mengenai Tan Malaka sebagai orang yang tulang punggungnya terlalu keras untuk membuatnya tunduk pada Stalin.)

Uraian yang sama bisa dibaca dalam tulisan Joebar Ajoeb berjudul “Mocopat Kebudayaan”. Joebar juga menegaskan rendah dan cairnya kendali PKI terhadap Lekra.

Jangan heran juga jika kita membaca memoar Kusni Sulang (yang sekarang menggunakan nama JJ Kusni), “Di Tengah Pergolakan: Turba Lekra di Klaten”, yang bingung bukan main kenapa penelitian kesenian yang dilakukannya kok bisa dipimpin oleh DN Aidit.

Kebingungan Kusni, pernyataan Oey dan Joebar, bisa menggambarkan bahwa hubungan PKI-Lekra tidak sesederhana dan semudah seperti antara induk-semang dengan anak-semang atau antara pimpinan dan bawahan atau antara partai dengan onderbouw resminya. Bacaan-bacaan saya itu membut saya mencoba tidak gegabah menggunakan kata-kata jargon seperti “Lekra adalah organ atau alat PKI”.

Stephen Miller, seorang sarjana dan peneliti dari Australia, penggambaran Lekra sebagai alat PKI tidak realistis karena seakan-akan ada jalur komando yang berasal langsung dari Moskow atau Peking melalui Politbiro PKI lalu diteruskan ke Pimpinan Pusat Lekra. Miller menyebutkan bahwa gaya “pukul rata” menyebut Lekra sebagai alat PKI dibangun secara sistematis dan dipertahankan dengan terus menerus oleh Orde Baru.

Keith Foulcher (”Social Commitment in Litterature and the Arts”) sendiri berkesimpulan bahwa Lekra bukanlah organ apalagi alat PKI. Foulcher menyebut Lekra memang sealiran politik dengan PKI. Sementara Saskia Wieringa (“Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia”) mencoba menggambarkan kerumitan hubungan itu dengan menggunakan istilah “Keluarga Komunis”. Istilah Keluarga Komunis itu oleh Antariksa (“Tuan Tanah Kawin Muda: Hubungan Seni Rupa-Lekra”) disebut sebagai penggambaran yang lebih pas bagi hubungan-hubungan lentur daripada hubungan formal-organisatoris yang bisa diperintah semaunya.

Detail-detail seperti ini tidak akan pernah dapat kita temukan secara memadai dalam “Prahara Budaya”.

Dengan caranya yang tersamar, “Prahara Budaya” menulis PKI dan Lekra dengan cara “PKI/LEKRA”. Pilihan menggunakan tanda hubung “/” punya implikasi linguistik yang tidak sederhana karena tanda “/” bisa diartikan bahwa dua entitas yang dipisah oleh tanda “/” itu sama persis atau bahkan identik, ketimbang tanda hubung “—“ yang bagi saya relatif lebih bisa menggambarkan bagaimana PKI dan Lekra beriringan dalam sejumlah hal tapi keduanya tidak kembar identik.

PKI pernah ditulis dengan cara itu oleh Soe Hok Gie dalam studinya tentang Peristiwa Madiun 1948. Gie menulis “PKI/FDR” (Front Demokratik Rakyat). Tapi cukup jelas, FDR yang terdiri dari sejumlah partai-partai kiri pada waktu itu secara resmi memang mengabungkan diri kepada PKI yang waktu itu baru saja diambil alih oleh Musso yang baru kembali dari Sovyet. Pilihan Gie untuk menggandengkan PKI dengan FDR menjadi “PKI/FDR” bisa saya terima karena konteks dan argumennya begitu jelas dan tak mungkin saya tolak.

Saya tidak sedang membangun kampanye positif bagi Lekra, PKI, Pram. Saya hanya mencoba membagi detail yang saya ketahui dari bacaan-bacaan yang saya miliki. Karena bagi saya, membaca detail-detail seperti ini merupakan kerja yang satu paket dengan upaya kita bersama untuk melawan ommision of fact.

PKI dan Lekra dan juga Pram memang tak bisa cuci tangan dari kampanye menyingkirkan karya-karya para penulis Manikebu. “Prahara Budaya” dengan begitu bersemangat sudah mencoba menjlentrehkan soal ini.

Tetapi, tiap kali menyebutkan itu, kita mesti menambahinya dengan keterangan dalam tanda kurung sejumlah detail yang mesti diketahui supaya kita semua tidak terangsang untuk terus-menerus menggunakan gaya dan frase-frase penuh jargon yang mencerminkan gaya berpikir pukul rata.

Bagi saya, membuka diri pada detail-detail begituan memungkinkan kita untuk tidak secara enteng-entengan menggunakan gaya berpikir “pukul rata”, seperti ketika Anda menyebut tantangan terbuka saya sebagai bergaya Agitprop dan menekankan dalam tanda kurung bahwa Agitprop adalah “istilah milik PKI”, pada saat partai Murba dan partai lain sebenarnya biasa menggunakan istilah Agitprop.

Itulah sebabnya saya menantang Anda untuk berbicara secara detail mengenai apa yang oleh Anda reproduksi terus-terusan dalam 3 tulisan sebelumnya sebagai pembakaran buku yang dilakukan oleh Pram. Karena saya percaya bahwa upaya untuk lolos dari jeratan ommision of fact dan propaganda sejarah bisa dimulai, salah satunya, dengan berbicara secara detail mengenai perkara-perkara yang kontroversial. Mungkin melelahkan dan tidak semua orang mau dan punya waktu untuk berpikir dan membaca detail-detail seperti ini.

Itulah yang termuat dalam buku sejarah kurikulum 2004, yang memaparkan detail lima versi mengenai siapa sebenarnya otak peristiwa 1 Oktober 1965. Ini bagus saya kira. Sayangnya, kurikulum 2004 ini lantas dilarang menyusul desakan banyak pihak, termasuk Taufiq Ismail. Dan dari pelarangan itulah pembakaran buku menjadi dimungkinkan.

Jika saja Anda mengritik pernyataan sikap dengan menggunakan kalimat (misalnya) “kenapa pembakaran perpustakaan USIS oleh organ-organ yang berafiliasi dengan PKI” tidak dimasukkan, saya tentu tidak akan pernah menantang Anda untuk berbicara secara detail. Tapi karena tiba-tiba Anda memilih untuk “mengaburkan” kenyataan sejarah yang kaya detail itu dengan frase-frase bergaya pukul rata seperti “Pram membakari buku-buku lawan ideologisnya”, maka muncullah saya untuk menantang Anda berbicara secara detail.

Pernyataan GM bahwa penting untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf pada kesalahan yang diperbuat, bagi saya, lebih tepat disodorkan pada mereka-mereka yang terlibat dan menjadi pelaku sejarah, entah itu GM, Taufiq Ismail, Ajip Rosidi, Kusni Sulang, Hersri Setiawan, Martin Aleida, dll. Urusan merekalah itu mau mengakui dosa, meminta maaf atau meminta ampun atau apa pun yang mereka maui. Kita juga tidak bisa memaksa.

Saya tidak ada urusan dengan itu karena tugas generasi sekarang bukan mengurusi orang-orang tua yang kadang menjengkelkan dan terus menerus mereproduksi dendam di antara mereka sendiri (seperti yang ditunjukkan oleh Ajip Rosidi ketika mengungkit-ngungkit kelakuan AS Dharta di harian Pikiran Rakyat pada saat Dharta baru saja meninggal beberapa bulan silam, yang langsung disambut dengan tulisan pelaku sejarah lainnya, Martin Aleida).

Jika Anda menyebut rekonsiliasi, saya tentu saja tidak akan ikut-ikutan karena saya tidak berkonflik dengan siapa pun. Rekonsiliasi itu ya urusan mereka yang memang berkonflik dan mungkin masih saja membawa dendam hingga masa tuanya.

Tugas generasi sekarang, barangkali saya atau Anda atau siapa pun yang memang berminat, adalah membicarakan sejarah penuh dendam dan sengkarut itu dengan cara yang jernih, membuka diri pada banyak detail, dan mau menerima tafsir lain dari yang kita percayai.

Kita tidak perlu menunggu rekonsiliasi dan saling peluk-pelukan nan mengharukan dari orang-orang tua kita itu untuk bisa mengambil sikap dan pendirian dengan cara yang jernih dan logis terhadap sengkarut ini.

****


Arya,

Saya sepakat dengan Anda dalam hal melawan alpa dan melawan ommision of fact.

Untuk perkara anti pembakaran buku dan penolakan ommision of fact, saya setuju dengan Anda tanpa perlu saya tahu apakah Anda pengagum atau pembenci Pram, apakah Anda pembaca karya-karya Pram atau bukan, apakah Anda menamai anak keduanya dengan mengadopsi nama fiksi buatan Pram atau Borges atau siapa pun. Itu semua gak penting bagi saya.

Jika Anda mengajak saya untuk terlibat dalam upaya melawan alpa dan ommision of fact, saya dengan senang hati ikut bergabung, tapi tentu saja saya tidak akan merekomendasikan “Prahara Budaya” jika saya ditanya buku apa yang bisa menjelaskan secara utuh dan proporsional peran PKI-Lekra-Pram.

Jika pun saya menyebutkan buku “Prahara Budaya”, pada saat yang sama saya akan menyebutkan buku Antariksa berjudul “Tuan Tanah Kawin Muda: Hubungan Seni Rupa-Lekra”, buku Keith Foulcher berjudul ”Social Commitment in Litterature and the Arts” atau bukunya Saskia Eleonora Wieringa yang berjudul “Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia” dan tulisan-tulisan para aktivis Lekra (seperti Kusni atau Hersri Setiawan) sebagai buku-buku pembanding.

Ini bukan sikap apriori seperti yang Anda tuduhkan pada Tossi atau Coen H Pontoh atau Budi Setiyono hanya karena mereka menyarankan Anda bersikap kritis terhadap “Prahara Budaya”. Saya sampai pada sikap seperti ini terhadap “Prahara Budaya” setelah saya membacanya dan membandingkannya dengan sumber-sumber lain.

Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail boleh-boleh saja menulis apa saja yang ia percayai dan yang ingin ia percayai. Kita tidak bisa dan tak boleh melarangnya seperti juga saya tak bisa dan tidak akan pernah melarang buku “Prahara Budaya”. Tapi saya pun boleh mengambil sikap untuk tidak memercayai begitu saja “Prahara Budaya”, satu anjuran yang sudah disampaikan oleh Budi Setiyono dan Coen H Pontoh, yang sepertinya tidak begitu Anda simak dengan baik-baik.

Tentu saja saya bisa salah. Tentu saja saya bisa meleset. Tentu saja saya bisa keliru. Salah/meleset/keliru bukan hal tabu dalam polemik, yang tabu itu justru berdusta dan menutup-nutupi apa yang kita ketahui sebagai kenyataan dan kebenaran.
Arya, semoga kita selalu diberkahi sikap adil sejak dari pikiran.

Salam hormat,

Zen Rachmat Sugito
Editor di Indonesia Boekoe (i:boekoe) dan IndexPress serta mahasiswa sejarah di Universitas Negeri Yogyakarta.

Saturday, August 18, 2007

"Dort, wo man Bücher verbrennt, verbrennt man am Ende auch Menschen"
(Where they burn books, they will, in the end, burn human beings too)

-- Christian Johann Heinrich Heine (1797-1856)


Arsitek Marco Kusumawijaya, pastor Franz Magnis Suseno, politikus Ganjar Pranowo, penerbit Setia Darma Madjid dan M. Ridha Saleh dari Komnas HAM menyerukan protes pembakaran buku-buku sekolah pada Selasa 7 Agustus 2007.

Protes Melawan Pembakaran Buku
Indonesia membakar ratusan ribu buku-buku pelajaran sekolah. Ini pertama kali dalam sejarah Indonesia, maupun Hindia Belanda, dimana buku sekolah disita dan dibakar.

Lampung, Lampung, Lampung
Bagaimana mengembangkan suratkabar daerah dari serbuan televisi? Apakah suratkabar Lampung punya kemungkinan mendobrak jurnalisme Majapahit ala Jakarta?

Aboeprijadi Santoso Pensiun
Wartawan terhormat dari radio Hilversum, membongkar kepalsuan Deklarasi Balibo, ketika beberapa tokoh Timor Timur pada November 1975, diminta teken dokumen minta integrasi dengan Indonesia.

Mug Bill Kovach
Sandy Pauling dari rumah disain H2O merancang lima mug Pantau dengan quotation dari Bill Kovach. Anda suka yang mana?

Masalah dalam Proyek Seabad Pers Indonesia
Kapan sebenarnya "pers Indonesia" dimulai? Indexpress pimpinan Taufik Rahzen menetapkannya 1907 ketika Tirto Adhi Soerjo menerbitkan Medan Prijaji dengan alasan dia "pribumi"?

Indonesia: A Lobbying Bonanza
Taufik Kiemas, when his wife Megawati Sukarnoputri was still president, collected political money to hire a Washington firm to lobby for Indonesian weapons. This story is a part of a project called Collateral Damage: Human Rights and US Military Aid

Dari Sabang Sampai Merauke
Sejak Juli 2003, saya berkelana dari Sabang ke Merauke, guna wawancara dan riset buku. Intinya, saya pergi ke tujuh pulau besar, dari Sumatra hingga Papua, plus puluhan pulau kecil macam Miangas, Salibabu, Ternate dan Ndana. Inilah catatan kecil perjalanan tersebut.

Hoakiao dari Jember
Ong Tjie Liang, satu travel writer kelahiran Jember, malang melintang di Asia Tenggara. Dia ada di kamp gerilya Aceh namun juga muncul di Rangoon, bertemu Nobel laureate Aung San Suu Kyi maupun Jose Ramos-Horta.

State Intelligence Agency hired Washington firm
Indonesia's intelligence body used Abdurrahman Wahid’s charitable foundation to hire a Washington lobbying firm to press the U.S. Congress for a full resumption of military assistance to Indonesia. Press Release and Malay version

From the Thames to the Ciliwung
Giant water conglomerates, RWE Thames Water and Suez, took over Jakarta's water company in February 1998. It turns out to be the dirty business of selling clean water.

Media dan Jurnalisme
Saya suka menulis soal media dan jurnalisme. Pernah juga belajar dengan asuhan Bill Kovach dari Universitas Harvard. Ini makin sering sesudah diminta menyunting majalah Pantau.

Bagaimana Cara Belajar Menulis Bahasa Inggris
Bahasa punya punya empat komponen: kosakata, tata bahasa, bunyi dan makna. Belajar bahasa bukan sekedar teknik menterjemahkan kata dan makna. Ini juga terkait soal alih pikiran.

Dewa dari Leuwinanggung
Saya meliput Iwan Fals sejak 1990 ketika dia meluncurkan album Swami. Waktu itu Iwan gelisah dengan rezim Soeharto. Dia membaca selebaran gelap dan buku terlarang. Dia belajar dari W.S. Rendra dan Arief Budiman. Karir Iwan naik terus. Iwan Fals jadi salah satu penyanyi terbesar yang pernah lahir di Pulau Jawa. Lalu anak sulungnya meninggal dunia. Dia terpukul. Bagaimana Iwan Fals bangkit dari kerusuhan jiwa dan menjadi saksi?

Arya Gunawan soal Bukti Lekra Bakar Buku


Depok, 17 Agustus 2007

Saya menuliskan surat ini sebagai jawaban lebih rinci atas sejumlah komentar yang bermunculan terhadap kritik yang pertama kali saya lontarkan menanggapi naskah pernyataan kelompok anti-bakar buku yang disampaikan secara terbuka ke publik, Selasa 7 Agustus lalu di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Perdebatan ini ternyata mendapatkan sambutan lumayan hangat. Tanggapan yang saya terima pun tidak hanya lewat milis, melainkan juga lewat email langsung ke alamat pribadi saya, lewat SMS, atau langsung menghubungi lewat telepon.

Terus terang, sebetulnya semula saya sudah tak terlampau berminat lagi untuk memberikan tanggapan, karena saya merasa poin penting yang saya miliki sudah terutarakan dengan baik, kendati telah ditanggapi tidak tepat oleh beberapa penanggap. Itu pula yang membuat perdebatan ini sudah mulai bergeser dari titik-pusat yang semestinya, bahkan berpotensi untuk bergerak tanpa juntrungan. Bahasa yang dipakai pun mulai menimbulkan rasa tak nyaman pula, termasuk misalnya penggunaan kata “tantangan terbuka” yang ditulis oleh Zen (yang lalu mendapatkan tanggapan keras pula dari Linda, lalu dikontratanggapi lagi oleh Zen dengan nada yang sama kerasnya). Saya sebetulnya sudah merasa “tak enak hati” karena menciptakan situasi yang lumayan absurd. Saya mengkritik, Linda menanggapi, lalu Zen menanggapi dengan tantangan terbukanya. Lalu tiba-tiba muncul tanggapan Linda yang keras terhadap Zen, dan disambut kembali dengan keras oleh Zen. Bukankah ini lumayan absurd? Saya mohon maaf apabila saya secara langsung atau tak langsung telah memicu hadirnya situasi yang kisruh dan kelihatan tak puguh seperti ini.

Lalu Mas Tossi juga menanggapi tanggapan saya atas tanggapan Linda atas kritik saya (wah, kusut ya, namun memang demikianlah kebenarannya), saya balas menanggapi Mas Tossi, termasuk membantahnya karena telah menilai saya ahistoris, padahal tampak jelas bahwa komentarnya itulah yang ahistoris untuk dua hal: pertama, tak menyadari bahwa telah terjadi omission of facts in the first place pada surat pernyataan dari kelompok anti-bakar buku itu, dan kedua karena telah keliru mengenai fakta (sesuatu yang mestinya tak perlu terjadi pada diri wartawan senior sekaliber Mas Tossi), yakni saat dia menyebut bahwa kelompok Manikebu bisa menjawab ketika tengah “berseteru” dengan PKI, Lekra. Ini sudah saya bantah dalam tanggapan saya terhadap Mas Tossi, dan kemudian dipertegas pula oleh Mas GM selaku orang yang mengalami langsung “penindasan intelektual” yang dilakukan PKI, Lekra, Pram, pada masa 1964-1965 itu.

Selain karena alasan pergeseran substansi seperti yang saya sebutkan barusan, yang juga membuat saya mula-mula tak terlalu bulat hati untuk menuliskan tanggapan ini adalah karena waktu yang saya miliki serba tak memadai, karena tengah diburu tenggat untuk beberapa tugas. Namun setelah saya timbang-timbang lagi lebih jauh, saya akhirnya membulatkan hati untuk menyiapkan komentar ini. Ada sejumlah alasan di balik keputusan saya ini, namun yang pasti bukan lantaran saya ingin menyambut “tantangan terbuka” dari Zen. Saya tak begitu suka menggunakan istilah-istilah yang bernuansa agitprov seperti itu (ini tentu saja istilah PKI, “agitasi” dan “provokasi”). Saya membayangkan, jika saya menerima “tantangan terbuka” itu seakan-akan saya tengah bersiap memasang baju-tempur, sebagaimana Maximus (Russel Crowe) mengenakannya di film “Gladiator”, dengan latar belakang reruntuhan Coliseum itu. Atau seperti Muhammad Ali di tengah ring sedang menggosok-gosok sarung tinju yang menutupi kepalan tangannya, bersiap menghadapi lawan-lawannya dari Joe Frazier, George Foreman, hingga Leon Spinks. Padahal yang saya harapkan adalah perdebatan yang benar-benar mengedepankan nuansa intelektual, kendati tengah terjadi perbenturan keras pandangan dan pemikiran.

Alasan saya menuliskan surat ini adalah seperti berikut ini. Pertama, karena saya merasa bahwa saya tengah menegakkan kebenaran. Tentu istilah ini terdengar muluk dan ambisius, dan pasti akan dicerca oleh kelompok yang tak sependirian dengan saya. Mereka pasti akan segera bertanya: “Kebenaran yang mana? Kebenaran versi siapa?” Pertanyaan begini akan mengarah ke debat kusir yang tak berujung, karena masing-masing akan keluar dengan kebenaran versi mereka masing-masing. Saya paham, tak mudah membuat orang berubah pikiran, apalagi jika para penganut pikiran tersebut menggunakan pendekatan taqlid buta alias kacamata kuda sehingga tak membiarkan pikiran lain masuk untuk bersinggungan dengan pikiran-pikiran awal yang menjadi anutan mereka. Tentulah tak mudah membujuk mereka yang berseberangan dengan saya untuk mempertimbangkan kembali posisi mereka yang selama ini tampak begitu bernafsu untuk membela dan mempertahankan hal-hal yang berhubungan dengan PKI, Lekra, Pramoedya Ananta Toer (seterusnya akan saya singkat dengan PAT, kecuali untuk kutipan langsung dari sumber tertulis). Selama ini, kesan yang muncul pada saya adalah bahwa pembelaan tersebut merupakan sebuah harga mati yang tak akan pernah mereka kompromikan lagi. Dengan kata lain, ada apriori di situ, meskipun bisa dikemas dengan berbagai dalih. Satu komentar (dari Coen Pontoh), misalnya, meminta saya agar kritis. Tanpa diminta Coen, saya tentu saja berupaya sekuat tenaga untuk selalu kritis dalam mencerna informasi, data, opini. Dan kritik saya itu dari awal mulanya sudah berpatokan pada sikap kritis itu, berdasarkan rentang pengalaman, informasi, bacaan, pemahaman, yang saya miliki. Permintaan yang sama ingin saya ajukan pula kepada Coen dan siapapun yang mengambil posisi berseberangan dengan saya dalam perdebatan ini, silakan bersikap kritis juga, bukalah pikiran Anda terhadap argumen dan bukti yang akan saya paparkan di bagian akhir surat saya ini, yang sebagian memang merujuk pada buku “Prahara Budaya”. Saya tidak pernah menganggap buku “Prahara Budaya” sebagai kitab suci, karena saya tahu persis bahwa penulisnya adalah orang berseberangan dengan PKI, Lekra, PAT. Karena itu saya melakukan telaah silang dengan beberapa sumber lain, bukan hanya dari buku itu semata. Dalam data yang akan saya sodorkan nanti, ada pernyataan dari berbagai pihak lainnya pula, mulai dari Rendra, Asrul Sani, hingga Ajip Rosidi, yang “celakanya” memiliki suara yang mirip dengan apa yang disuguhkan oleh buku “Prahara Budaya”: yaitu bahwa pernah terjadi kekerasan dan penindasan intelektual yang mereka kaitkan dengan PKI, Lekra, PAT. Termasuk di dalamnya adalah aksi pembakaran buku. Kalau Anda tak puas juga dengan data dan informasi yang akan saya sajikan di surat ini, silakanlah lakukan studi sendiri dan sebarluaskanlah hasilnya.

Karena tahu betapa beratnya – bahkan hampir mustahil – untuk mencapai tujuan muluk sebagaimana yang saya sebutkan di alasan pertama saya di atas tadi, saya menurunkan sedikit “call” saya, dan “call” yang lebih rendah itulah yang merupakan alasan kedua yang mendorong saya menyiapkan tulisan ini, yakni: setidaknya tulisan saya ini akan tercatat, untuk mengingatkan orang bahwa ada versi fakta lain selain apa yang diyakini oleh mereka yang tak sepakat dengan saya tadi. Ini juga bisa saya jadikan alasan yang agak melankolis dan personal, yakni agar anak-anak saya sekarang, dan keturunan mereka kelak, masih bisa merujuk kembali ke surat saya ini untuk memperkaya khasanah pemahaman mereka terhadap penggalan sejarah negeri dan bangsa mereka.

Masih ada alasan berikutnya, yang lebih sederhana: untuk menambah isi blog saya (aryagunawan.wordpress.com), yang dibuatkan oleh keponakan saya, dan belum sempat juga sepenuhnya saya rapikan dan isi dengan rutin (bahkan tulisan-tulisan lama saya pun belum sempat semuanya saya taruh di sana). Alasan yang lebih sederhana lagi adalah: jika semua alasan yang sudah saya sebut di atas tidak tercapai jua, maka saya anggap saja proses penulisan surat ini sebagai sarana melakukan rekreasi dan menyegarkan pikiran. Belakangan saya memang terlalu dilibas oleh pekerjaan sehari-hari yang lebih banyak melibatkan penyusunan laporan yang “kering” sebagai pekerja di sebuah lembaga di bawah keluarga besar Perserikatan Bangsa-Bangsa. Menulis fiksi saja sudah lama sekali tak terkerjakan, bahkan menulis puisi pun sering macet. Mungkin pula karena otak yang mulai tersentuh tangan-tangan osteoporosis alias pengapuran. Mampet. Maka yang paling ringan kelihatannya adalah menulis surat seperti yang saya kerjakan ini.

Semua hal di atas itulah yang akhirnya menggerakkan tangan saya menulis surat ini, di saat saya bisa sedikit bernapas terlepas dari belitan tugas-tugas kantor, di hari libur perayaan ulang tahun kemerdekaan kita. Sejumlah kawan memang sudah menelepon saya sejak beberapa hari lalu, menanyakan mengapa tiada jawaban lanjutan dari saya. Saya hanya bilang bahwa saya tengah mempertimbangkan untuk menyiapkan sebuah surat yang lumayan rinci. Begitu ada waktu lowong, saya akan tuliskan. Dan surat ini adalah hasilnya. Dalam menuliskan surat ini, saya tak akan mampu menghindar dari kemungkinan untuk memaparkan hal-hal yang berbau pribadi, karena saya ingin mengeluarkan semua apa yang terpikir dalam benak saya. Mudah-mudahan masuknya hal-hal yang bernada pribadi ini masih dapat diterima, karena toh tulisan ini saya niatkan sebagai surat, bukan sebuah kertas-kerja ilmiah. Di samping itu, saya merasa perlu menyerempet-nyerempet wilayah pribadi, karena ada pula kiriman email yang isinya bertanya mengenai siapa diri saya. Karena ada beberapa hal yang agak bernuansa pribadi itu pula, saya hendak mengingatkan, bagi mereka yang merasa tak sabar membaca “mukadimah” ini, silakan saja langsung meloncat ke bagian yang agak belakang dari surat ini, karena di sanalah saya akan lebih banyak memaparkan data dan alasan saya untuk menopang pendirian dan posisi saya dalam perdebatan ini.
***


Sebetulnya, dari awal sekali saya sebetulnya sempat merasa agak sungkan untuk melontarkan kritik saya, karena sebagian nama yang ikut menandatangani adalah nama-nama yang saya kenal secara pribadi, sebagian bahkan sangat saya hormati. Mas Goenawan Mohamad, umpamanya, adalah salah seorang yang saya anggap sebagai guru saya dalam hal membaca dan menulis, dan tentu saja dalam hal puisi. Dalam hal membaca, kadang-kadang saya mencoba mendapatkan buku-buku yang dia jadikan rujukan dalam menulis kolom “Catatan Pinggir”-nya. Dalam menulis, kadang-kadang saya mencermati teknik yang dia gunakan saat mengesktraksi sebuah peristiwa atau sebuah pandangan; saya juga mencermati kegemarannya menghidupkan kata-kata Indonesia yang telah lama tak terpakai, padahal kata tersebut begitu indah. Lalu dalam hal puisi. Saya tak tahu persis, apakah sekarang masih ada orang yang hobi menghafalkan sajak para penyair di luar kepala. Saya termasuk dalam kelompok ini. Sejak SD saya sudah membaca sajak-sajak Mas GM, sebagian saya hafal luar kepala (selain sajak-sajak Chairil Anwar, Mas Sapardi Djoko Damono yang juga saya kenal secara pribadi dan saya jadikan guru, dan Pak Taufiq Ismail, terutama sajaknya “Tiga Gadis Kecil” yang dimuat di majalah Horison edisi perdana). Sampai saat ini, di tengah-tengah sentuhan awal tangan-tangan “osteoporosis otak” yang mulai menghampiri saya itu, saya masih hafal dengan utuh beberapa sajak Mas GM, mulai dari “Kuatrin Musim Gugur”, hingga “Di Kota Ini, Kata Orang, Gerimis Telah Jadi Logam”. Tahun 1985, saya menjadi juara pertama lomba baca puisi mahasiswa se-Indonesia, membawakan karya Mas GM, “Dingin Tak Tercatat” sebagai sajak wajibnya (sampai sekarang pun saya masih hafal luar kepala), dengan sajak pilihan “Kucing” karya Bang Tardji Calzoum Bachri. Saya pernah mewawancarai Mas GM di ruang kerjanya di kantor majalah Tempo di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, saat ia tengah gundah begitu keluar pengumuman bahwa majalah Tempo, yang telah dilahirkan dan diasuhnya 23 tahun lebih tiga bulan itu, dibreidel oleh rezim telengas Soeharto, 21 Juni 1994. Saat itu saya masih bekerja sebagai wartawan Kompas. Saya pernah juga diminta Mas GM mengantarkannya dengan membonceng sepeda motor Honda GL saya, saat bubaran acara pembukaan pameran foto-foto majalah Tempo di TIM, menjelang akhir 1994. Dia minta diantarkan ke sebuah rumah di kawasan Menteng, dan lebih merasa nyaman dengan membonceng sepeda motor karena tentu akan sedikit lebih sulit untuk diinteli oleh para intel Soeharto.

Fadjroel Rachman adalah kawan sebangku saya – kami satu jurusan, satu angkatan – di ITB, dan sejak tahun pertama kami masuk ITB (1982) kami sudah terlibat dalam diskusi hangat mengenai sastra, mulai dari Kahlil Gibran hingga sajak-sajak kami sendiri. Juga diskusi mengenai Soeharto dan rezimnya yang sama-sama kami musuhi.

Nirwan Dewanto adalah senior saya di ITB (dua angkatan di atas saya), tempat saya belajar banyak mengenai teori-teori seni yang menjadi salah satu bahan lahapannya, kendati studi resminya adalah bidang Geologi. Saya, Fadjroel, Nirwan (ditambah Kurnia Effendi, Acep Zamzam Noor dan sejumlah nama lainnya seperti Soni Farid Maulana, Moh. Ridlo Eisy) bergiat di Grup Apresiasi Sastra (GAS) ITB, dan sering menghabiskan malam-malam berembun kota Bandung yang ketika itu masih sangat asri (dan tentu saja sangat dingin, tak seperti sekarang yang sangat panas dan pengap), seraya memperbincangkan kesenian yang menjadi kecintaan kami, dihiasi uap dari gelas bandrek dan bajigur yang hangat dan menghangatkan.

Marco Kusumawidjaya saya kenal dari tulisan-tulisannya mengenai perkembangan dan pengembangan kota/arsitektur, lalu juga sempat berkenalan secara langsung saat dia baru dilantik sebagai anggota/ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) periode 2006-2009, periode persis setelah saya ikut menjadi anggota DKJ (2003-2006).

Mas Ariel Heryanto, sudah sempat saya kenal sekilas sejak dia menjadi saksi ahli dalam persidangan mahasiswa ITB yang dituduh terlibat dalam penentangan terhadap rezim Soeharto (dikenal dengan “Peristiwa 5 Agustus”, yaitu aksi demo mahasiswa menentang kehadiran Mendagri Rudini ke kampus ITB pada tanggal tersebut, di tahun 1989). Salah satu terdakwanya adalah Fadjroel Rachman yang kemudian divonis bersalah oleh pengadilan kotor rezim Soeharto, hingga kemudian dibuang ke Nusakambangan. Sebagai koresponden Kompas di Bandung, saya meliput jalannya pengadilan. Mas Ariel waktu itu susah-susah datang dari Universitas Satya Wacana, Salatiga, kampus tempatnya mengajar. Saya juga sempat mengunjungi Mas Ariel saat dia mengajar di National University of Singapore, di tahun 1999. Ketika itu saya bertugas sebagai salah seorang juri di Festival Film Singapura. Juga saat dia sudah pindah mengajar ke Melbourne University, di tahun 2001. Saat kunjungan ke Melbourne itu, saya dibawa tur keliling universitas tersebut, untuk sekaligus menapaktilasi kampus dimana almarhum ayah saya juga pernah menuntut ilmu dari tahun 1954 hingga 1958. Saya senang sekali saat dipotret oleh Mas Ariel di depan jurusan Mechanical Engineering, jurusan tempat ayah saya belajar lebih dari setengah abad silam itu.

Linda Christanty lebih dahulu saya kenal karyanya, dari tulisan/laporannya di majalah Pantau maupun lewat karya fiksinya. Baru pada tahun 2005 saya berkenalan langsung dengannya, dikenalkan oleh Andreas Harsono, dalam sebuah acara pertemuan makan malam menjelang pelaksanaan kegiatan bersama antara kantor tempat saya bekerja dan Yayasan Pantau yang dipimpin Andreas, di bidang pelatihan jurnalisme investigatif.

Andreas Harsono, juga kawan lama yang saya kenal saat sama-sama menunaikan tugas jurnalistik di lapangan. Saya menghargai semangatnya menulis, juga dalam membimbing para calon wartawan dan wartawan muda dengan membagi ilmu dan pengalamannya. Saya juga menghargainya dalam hal cara dia membesarkan anaknya, Norman.

Romo Magnis Suseno sudah saya kenal sejak saat masih menjadi wartawan Kompas dahulu, namun tak sempat saya kenal dekat secara pribadi. Saya menghormatinya untuk pemikiran-pemikirannya tentang Indonesia, juga menghormati karya-karya tulisnya. Hari-hari ini saya juga kagum atas sikapnya yang tegas dan berani terbuka menolak menerima penghargaan Bakrie 2007. Alasannya jelas: kelompok usaha Bakrie yang berada di balik kegiatan penghargaan tersebut juga berada di balik kasus lumpur Lapindo yang sudah menyengsarakan begitu banyak jiwa di Porong, Sidoardjo, dan seperti tak punya hati bulat dan tulus untuk mengatasi penderitaan mereka itu. Bagi saya, sikap tegas Romo Magnis menolak penghargaan tersebut merupakan tamparan telak yang sebetulnya luar biasa menyakitkan bagi pihak penyelenggara. Saya percaya pada makna falsafah ini: lebih baik meminta namun ditolak, ketimbang memberi namun tak diterima oleh pihak yang hendak diberi. Jadi, jika ada orang yang hendak diberi namun orang yang hendak diberi menolak pemberian itu, maka itu menandakan hadirnya kondisi yang amat-sangat luar biasa, kondisi yang sudah benar-benar tak bisa ditoleransi lagi. Dalam hal ini, kondisi yang agaknya tak bisa ditoleransi oleh Romo Magnis itu adalah sikap kelompok Bakrie dalam menangani bencana lumpur Lapindo.

Dengan latar belakang seperti ini, sebetulnya agak sulit juga bagi saya saat pertama kali melontarkan kritik saya terhadap naskah pernyataan yang ditandatangani oleh mereka-mereka yang sebagian saya kenal secara langsung itu. Namun saya merasa bahwa memang saya harus menyampaikan kritik itu. Semata-mata dengan niat tunggal: untuk mengingatkan bahwa ada fakta yang semestinya juga dicantumkan oleh para penyusun naskah tersebut, namun tak dilakukan, dengan alasan yang bisa mengundang berbagai dugaan, seperti yang saya kemukakan di beberapa surat saya terdahulu. Dengan kata lain, kritik saya tersebut awalnya hanya sekadar bertanya, hanya ingin mengingatkan. Tentu saja saya tak punya kemampuan mengendalikan kemana kritik itu akan bergerak sesudah saya lontarkan, termasuk pergerakannya hingga memicu perdebatan seperti sekarang ini.
***


Sebelum saya melanjutkan surat ini lebih jauh, saya hendak menegaskan sekali lagi di sini bahwa landasan kritik saya tersebut sama sekali bukan karena dua hal: a) ingin membela Nurmahmudi Ismail; atawa b) ingin menyudutkan PKI, Lekra, PAT. Di dalam naskah pernyataan kelompok anti-bakar buku itu, nama Nurmahmudi memang ditempatkan dalam posisi seakan-akan menjadi “dedengkot” atawa “pemimpin gerombolan” dari aksi bakar buku sejarah yang kemudian ditentang oleh kelompok anti-bakar buku. Posisi Nurmahmudi yang lumayan ditonjolkan seperti itu dapat menimbulkan bias juga bahwa surat pernyataan tersebut sekaligus ingin menyenggol PKS sebagai partai yang telah berhasil memenangkan Nurmahmudi untuk menduduki jabatan walikota Depok. Sekali lagi, saya mengkritik bukan untuk membela Nurmahmudi. Di blognya, Andreas Harsono memuat kritik saya itu, seraya mencatumkan pula atribusi mengenai siapa diri saya (dirangkum sendiri oleh Andreas berdasarkan data yang dia punya, termasuk juga pengenalannya atas diri saya). Namur atribusi yang dibuat Andreas itu bisa disalahpahami, seolah-olah saya pendukung fanatik Nurmahmudi, sehingga orang bisa salah mengaitkan bahwa kritik saya di awal sekali itu lahir atas dasar niat membela Nurmahmudi.

Bunyi atribusi yang disusun Andreas itu begini: Arya Gunawan seorang warga Depok, dimana buku-buku pelajaran sejarah dibakar, bekerja sebagai staf UNESCO sektor komunikasi dan informasi, pernah bekerja sebagai wartawan Kompas dan BBC London. Arya mengatakan dia simpatisan Partai Keadilan Sejahtera serta memilih Nurmahmudi Ismail dari PKS sebagai walikota Depok. Nurmahmudi ikut membakar buku-buku pelajaran sejarah.

Karena itu, saya telah meminta Andreas mengubah atribusi tentang diri saya itu , sesuai dengan teks yang saya siapkan sendiri, sehingga menjadi sbb: Arya pernah menyatakan dia simpatisan PKS serta memilih Nurmahmudi Ismail dari PKS sebagai walikota Depok. Namun sekitar setahun sejak Nurhmahmudi resmi menjabat di bulan Januari 2006 setelah melewati kisruh di pengadilan karena ditentang oleh kubu lawannya dalam pemilihan walikota, Arya menyatakan telah menarik dukungannya karena menganggap Nurmahmudi tidak mampu mewujudkan janji-janjinya untuk memajukan Depok dan warganya; bahkan tampak tak mampu untuk mengubah predikat Depok sebagai salah satu kota terkotor di Indonesia. Arya saat ini tengah menyiapkan tulisan berisi kritiknya terhadap kinerja memble Nurmahmudi. Betul bahwa Nurmahmudi menghadapi ganjalan keras dari pihak DPRD Depok yang dikuasai oleh kubu bekas lawannya dalam pemilihan walikota. Namun itu tak dapat dipakai sebagai alasan untuk tidak berbuat nyata bagi kesejahteraan Depok. Dalam konteks ini, tampak bahwa Nurmahmudi setidak-tidaknya merupakan pemimpin yang tak memiliki keberanian cukup untuk menghadapi lawan-lawannya di DPRD.

Dengan atribusi yang baru ini, saya ingin menegaskan bahwa kritik saya terhadap naskah pernyataan anti-bakar buku itu tidak dilandasi oleh keberpihakan pada Nurmahmudi. Saya memang memilih dia sebagai walikota Depok, dan membelanya lewat tulisan panjang saat dia dijegal oleh lawan-lawannya yang menolak mengakui kekalahan dalam pemilihan walikota (saya sendiri belum sempat menaruh tulisan ini ke dalam blok saya, namun bagi yang berminat, tulisan tentang Nurmahmudi tersebut bisa diakses di beberapa situs yang memuatnya: http://keadilan-jepang.org/arsip.php?page=berita&id=250&PHPSESSID=c3ef7ac118b39a5c190ec1c065edc4f2 atau di http://ayahtitarasya.multiply.com/journal/item/14/Kemelut_Pilkada_Depok. Kini saya bukan lagi pendukungnya, justru saya telah masuk dalam barisan warga Depok eks pemilih Nurmahmudi, yang kini kecewa akibat kian kacaunya proses pembangunan (fisik maupun non-fisik) di Depok. Penarikan dukungan saya untuk Nurmahmudi ini juga saya maksudkan untuk memberitahu kepada semua bahwa memberikan "dukungan buta" itu tidaklah elok. Kalau memang yang didukung sudah tak layak untuk didukung, ya cabut saja dukungan itu, tentu dengan argumentasi yang jelas. Begitu pula posisi saya terhadap PAT. Untuk karya-karyanya, saya tak bisa berkomentar lain selain berdecak kagum melihat temanya yang penuh keberpihakan terhadap rakyat kecil, juga melihat cara dia menjinakkan bahasa, menyusun struktur cerita. Jika saya punya suara, saya pasti akan memperjuangkannya mendapatkan Nobel Sastra (sayang dia telah wafat). Namun untuk kelakuannya terhadap lawan-lawan ideologisnya saat PKI berkuasa di tahun 1960-an itu -- termasuk aksi pembakaran buku yang saya lontarkan di kritik awal saya itu, dan di surat ini akan saya sampaikan lebih rinci informasinya -- saya tak akan pernah melupakannya sehingga setiap ada kesempatan yang tepat untuk mengungkapkan itu, akan saya gunakan, bukan atas dasar kebencian melainkan atas dasar "perjuangan ingatan melawan alpa dan lupa" (menyitir Milan Kundera dalam bukunya The Book of Laughter and Forgetting). Naskah pernyataan anti-bakar buku itu adalah salah satu kesempatan yang tepat untuk mengungkapkan lagi fakta sejarah tentang Pram tersebut. Namun tim penyusun naskah tersebut alpa. Itulah yang ingin saya ingatkan: mari kita lawan sang alpa. Sebetulnya hanya itulah yang mendasari saya menulis kritik singkat saya di awal sekali itu.

Saya juga bukan anggota PKS, melainkan sekadar simpatisan karena partai tersebut kelihatan menjanjikan, terutama dengan slogannya “Bersih dan Peduli”, juga karena banyak contoh baik yang ditunjukkan oleh mantan Presidennya, Hidayat Nur Wahid yang kini Ketua MPR. Karena itu, pada pemilu legislatif saya mencoblos PKS. Namun belakangan, simpati saya pun mulai tergerus karena ada beberapa kebijakan dan sikap politik PKS yang kelihatan tak begitu berpihak pada rakyat (atau setidaknya memperlihatkan ketidakberaniannya bersuara lantang membela kepentingan rakyat), misalnya saja dalam kasus kenaikan harga BBM. Bukan mustahil saya akan meninjau ulang posisi saya dalam pemilu 2009, entah mengalihkan suara saya kepada partai lain, atau membiarkan diri saya menjadi golput (ini situasi yang sekuat mungkin akan saya hindarkan). Kecuali jika dalam dua tahun ke depan ini PKS berhasil memperkuat kembali citra dirinya seperti saat sebelum ia menjadi silau, atau setidaknya gamang, dengan “kekuasaan”.

Kritik saya itu pun tak dilandasi niat untuk memojokkan PKI, Lekra, PAT. Sekali lagi, tujuan utama saya hanya ingin mengingatkan orang banyak mengenai adanya fakta sejarah yang belakangan kelihatan mulai dilupakan dan tak dipercaya orang. Tentang PAT sendiri, pertama-tama saya perlu menyebutkan bahwa saya adalah seorang pengagumnya (dalam posisinya sebagai sastrawan, juga dalam hal semangat hidup dan ketekunannya berkarya, namun tidak dalam hal pandangan politik dan cara-cara dia menerapkan atau mewujudkan pandangan politiknya tersebut yang nyaris praktis menghalalkan segala cara, seperti yang akan terlihat di bagian belakang dari surat saya ini). PAT sudah saya kenal sejak SMP. Guru bahasa Indonesia saya (namanya Pak Tugiman) di SMP Xaverius Jambi itu memberikan pelajaran dengan cukup menarik, termasuk dalam memberikan contoh-contoh karya sastra. (saya bersekolah dari SD hingga SMA di sekolah dengan tradisi Katolik yang cukup ketat, sedangkan saya berasal dari Ayah yang Muhammadiyah dan ibu yang Bapaknya adalah Ketua NU Jambi, yang juga salah seorang pendiri Provinsi Jambi. Kakek saya dari pihak Ibu ini sempat memimpin kaum gerilyawan dalam Revolusi Fisik II tahun 1949, rumahnya hancur karena dibom pesawat Belanda, yang juga mengakibatkan seorang anak gadisnya tewas). Saya sudah membaca (beberapa versi lengkap, beberapa hanya penggalannya) “Bukan Pasar Malam”, “Perburuan”, “Keluarga Gerilya”, “Cerita dari Blora” di masa SMP dan juga SMA. Lalu saat mahasiswa, saya membaca “Bumi Manusia” ketika naskah buku itu diedarkan secara klandestin masih dalam versi stensilan, dan saya berhasil memperoleh satu copynya (dengan risiko ditangkap, sebagaimana yang kemudian dialami oleh beberapa aktivis mahasiswa di Universitas Gadjah Mada).

Lalu saya pernah mewawancarai PAT saat saya membuat sebuah program serial untuk BBC, mengenai komunisme. Saat itu, di pertengahan tahun 1995, hampir seharian saya berada di rumah PAT di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur. Lebih dari itu semua, saya bahkan menamakan anak kedua saya dengan ilham yang dibawa oleh nama salah satu tokoh di salah satu roman PAT, “Arus Balik”. Nama tokoh itu adalah Patra Gading. Saya membaca roman itu di sekitar tahun 1996-1997, saat masih menjadi TKI di BBC London. Beberapa bulan setelah membaca roman tersebut, anak kedua saya lahir, pada sebuah dinihari pukul 03.23, di tengah-tengah musim panas di London, saat matahari mulai menyembul dari balik langit yang abu-abu (saat musim panas, seperti di awal Juli ketika bayi saya ini lahir, matahari muncul lebih awal. Pukul 04.00 biasanya hari telah terang-tanah, dan setengah jam kemudian sudah benderang). Matahari ketika itu berwarna bak gading gajah. Saya namakan bayi saya Rangga Suryagading alias Kuda Jantan yang hadir di kala sang kala berwarna bagai gading. Kata “gading” dari tokoh Patra Gading di roman PAT itu selalu mengusik saya, karena terdengar indah. Dan kebetulan pula jam kelahiran bayi saya itu membuka peluang bagi saya untuk menggunakan kata tersebut sebagai bagian dari nama sang bayi.

Adalah PAT pula yang membawa saya berkenalan dengan RM Tirto Adisoerjo (sang Minke dalam roman besarnya berupa tetralogi tentang kemanusiaan itu). Nama tokoh ini lalu mengusik pikiran saya untuk mencari tahu lebih jauh bagaimana persisnya peranan pers dalam membentuk negara dan bangsa ini, terutama di awal abad ke-20.

Jadi, dengan latar belakang seperti ini, sungguh tak mudah bagi saya untuk kemudian menempatkan posisi PAT secara persis bagi keperluan pemahaman saya pribadi. Di satu pihak, saya mengagumi karya-karyanya (sebagian besar karyanya, di mata saya, masuk dalam kategori bermutu), juga mengagumi semangat hidupnya. Namun pada sisi yang lain saya menemukan hal yang sulit saya terima, dan itu adalah hal-hal yang berkaitan dengan berbagai sepak terjang PAT di masa-masa puncak kejayaan PKI dan juga menjelang kejatuhan PKI di tahun 1965 itu. Semula saya masih mencoba untuk tidak mempercayai bahwa banyak sikap PAT yang sulit untuk diterima orang yang menjunjung tinggi adab dan peradaban. Tentu saja saya dalam posisi yang agak tidak menguntungkan, karena saya belum bisa menyaksikan dengan nalar yang cukup semua peristiwa menjelang September 1965 itu (kendati saya sudah lahir pada masa itu). Dan there is always two sides of a story, bukan? Saya harus mengumpulkan bahan-bahan dari kedua sisi tersebut. Cara yang bisa saya lakukan untuk mengumpulkan perbendaharaan informasi dan data itu adalah dengan merujuk kepada berbagai data dan informasi tertulis, dilengkapi dengan keterangan langsung dari berbagai sumber yang menjadi pelaku ataupun saksi sejarah pada masa itu. Saya membaca buku-buku yang mengambil posisi “membela” PKI, Lekra, Pram, yang kemudian lumayan mudah diperoleh setelah Soeharto undur diri. Di masa Soeharto berkuasa, jika ada kesempatan untuk mencari-cari informasi mengenai penggalan sejarah periode 1960-an itu, selalu saya manfaatkan. Saya banyak juga bertanya kepada mereka yang “terkalahkan” itu, beberapa di antaranya adalah kawan-kawan yang lumayan dekat, yang masih menanggungkan stigma sebagai keturunan dari mereka yang disebut-sebut terkait dengan PKI ataupun Lekra. Saya juga berbicara dengan orang-orang yang berasal dari kelompok anti-PKI. Tentu saja suara dari kedua kelompok yang berseberangan ini sangat bertolak belakang satu sama lain. Sesuatu yang bisa dipahami, karena – seperti yang sudah saya sebutkan di bagian terdahulu di surat ini – masing-masing akan merasa benar dengan posisinya.

Di tahun 1995, saya juga sempat membuat sebuah program seri radio mengenai PKI (semuanya 10 seri dengan durasi masing-masing sekitar 12 menit), saat saya masih bertugas sebagai wartawan BBC. Dalam proses penggarapan program tersebut, saya berjumpa sejumlah narasumber untuk mendapatkan bahan-bahan yang saya perlukan, termasuklah mewawancarai PAT (seperti sudah saya tulis di atas). Saya juga sempat bertemu dengan Rewang di Solo. Rewang adalah salah seorang tokoh tua yang dituduh oleh pemerintah Indonesia terlibat PKI. Kedua-dua orang ini membantah keterlibatan mereka. Lagi-lagi, saya mencoba memakluminya. Lalu saya juga sempat berjumpa dengan seorang pria korban gerakan PKI Madiun tahun 1948. Usianya sudah lumayan lanjut – 70-an tahun -- saat saya mewawancarainya di tahun 1995 itu. Saya menemuinya di rumahnya di salah satu sudut kabupaten Madiun, dan dalam wawancara dengan saya itu dia menuturkan pengalamannya yang nyaris dihabisi oleh PKI. Pada sebuah subuh di tahun 1948 itu, serombongan orang yang dia percaya sebagai anggota PKI, menggeledah rumahnya, lalu mengangkuti anggota keluarganya, dan tak pernah kembali. Dia sendiri berhasil menyelamatkan diri dengan bersembunyi di peti penyimpanan padi, yang secara kebetulan tak diperiksa dengan cermat oleh para penggeledah itu. Saya juga pernah mendengar kisah mengenai kekerasan yang dilakukan PKI di Bandar Betsy, Sumatera Utara, dari seseorang yang ayahnya (almarhum) adalah seorang ulama terkemuka di kawasan itu yang menjadi incaran PKI.

Berpegang pada sejumlah informasi yang saya peroleh lewat beragam cara yang telah saya sebutkan barusan itulah saya kemudian mencoba menempatkan posisi PAT dalam kerangka pemahaman saya. Dan kian tahun saya kian sulit untuk berkelit dari kenyataan itu: bahwa saya pada akhirnya lebih percaya kepada fakta-fakta yang mengaitkan PAT dengan sepak-terjang yang bernuansa kekerasan dan penindasan intelektual itu. Ada berbagai keterangan yang menyebutkan mengenai hal ini, berasal dari sejumlah tokoh yang masih bisa diandalkan keobyektifannya dalam bersaksi, meskipun mereka memang berada di pihak yang “menang”, misalnya saja Asrul Sani (almarhum) dan Rendra. Dalam tulisan mereka, yang akan dikutip di surat saya ini, keduanya mengaitkan PAT dengan kekerasan dan penindasan intelektual tadi, termasuk menyebutkan mengenai aksi pembakaran buku. Lalu ada Mas GM sendiri. Di emailnya yang menanggapi komentar Mas Tossi atas kritik saya, Mas GM dengan jernih menyebutkan mengenai penindasan intelektual ini (Mas GM memakai istilah “pemberangusan kebebasan berpikir”), walaupun dia tidak menyebutkan tentang pembakaran buku.
***


Lalu ada buku “Prahara Budaya”, yang memuat informasi mengenai pertentangan ideologi di bidang seni-budaya antara kelompok Manifes Kebudayaan dan PKI, Lekra (menurut buku tersebut PAT terkait dengan PKI, Lekra). Buku ini juga menyebutkan ihwal aksi pembakaran buku yang terjadi di Jakarta dan Surabaya. Tentu saja informasi semacam ini ditolak keras oleh PKI, Lekra, PAT, dan juga oleh mereka-mereka yang berseberangan dengan saya dalam perdebatan ini. Mereka menyebut bahwa “Prahara Budaya” mengandung bias dari pihak pemenang konflik (seperti dikatakan Roysepta Abimanyu), atau semata-mata berisi kumpulan kliping seraya mempertanyakan motif Taufiq Ismail selaku penyusunnya (seperti ditulis Budi Setyono di emailnya. Saya tak paham pertanyaan Budi mengenai diri Taufiq tersebut; apakah dia menyiratkan bahwa Taufiq juga punya keterkaitan dengan Lekra? Saya sarankan pada Budi untuk menanyakannya secara langsung ke Taufiq jika ada kesempatan terbuka untuk itu. Atau mungkin dengan menulis artikel di sebuah media massa?).

Komentar semacam ini terasa naif, sedikitnya karena dua alasan. Pertama, sebagian besar isi buku ini adalah pernyataan langsung dari pelaku-pelaku sejarah pada masa itu, termasuk dari PAT sendiri. Karena sumbernya adalah pernyataan dari para pelakunya secara langsung, maka ia layak dipakai sebagai bahan rujukan untuk melakukan analisis hingga tiba pada sebuah kesimpulan. Dan kesimpulan yang disodorkan oleh Taufiq Ismail bersama almarhum DS Moeljanto selaku penyusun buku tersebut kebetulan tidak bisa diterima oleh kelompok pembela PKI, Lekra, PAT. Saya sendiri kebetulan bersepakat dengan kesimpulan tersebut; tentu saja tidak semata-mata bersandar pada isi buku “Prahara Budaya” (karena saya memang tak menjadikannya kitab suci sebagaimana yang dikomentari Coen Pontoh), melainkan juga merujuknya silang ke berbagai informasi lainnya yang sudah pernah saya terima sebelumnya (seperti yang sudah saya jelaskan di atas). Dari “Prahara Budaya” kita bisa menemukan sejumlah pernyataan PAT yang menunjukkan betapa keras sikapnya terhadap lawan-lawan ideologisnya. Tengok, misalnya, salah satu satu tulisan kerasnya di lembaran budaya “Lentera” di harian Bintang Timur”: “Dengan bersenjatakan “Berdikari”, “Berkepribadian dalam Kebudayaan” dan “Banting Stir”, pembersihan terhadap penerbit yang menjadi pabrik ideolozi (ditulis seperti ini – Arya Gunawan) gelandangan telah merupakan suatu tantangan bagi semua organisasi kebudayaan yang progresif revolusioner. Pembersihan ini bukan saja akan mengakibatkan terjadinya perkembangan yang sehat dalam pembinaan kepribadian nasional, juga menghabisi perbentengan terakhir musuh-musuh revolusi.” (Cetak tebal untuk kata “pembersihan”, “gelandangan”, dan “menghabisi” dari saya).

Tulisan-tulisan PAT pada masa puncak kejayaan PKI, Lekra itu kerap memakai kata-kata yang bernada keras seperti dua contoh kata di atas, di samping “ganyang”, “kebudayaan setan”, “ideologi setan” dan lain-lain. PAT sendiri adalah seorang manusia pekerja yang gigih, seorang yang ingin mewujudkan gagasan dan pikiran yang dia yakini. Dengan kata lain, dia adalah manusia yang berkiprah bukan saja pada tataran pemikiran, namun juga pada tataran praksis. Dengan logika sederhana, saya menganggap bahwa dia akan mewujudkan apa-apa yang dikhotbahkannya, termasuk hal-hal yang bernuansa kekerasan sebagaimana yang dia paparkan di sejumlah tulisannya itu. Jadi, jika dalam tulisannya dia menyebutkan “pembersihan terhadap penerbit yang menjadi pabrik ideologi gelandangan”, maka cara melakukan pembersihan itu bisa saja dalam bentuk pembakaran buku. Apakah PAT melakukan aksi pemusnahan itu secara langsung? Sejauh ini, PAT maupun kelompok pembela PAT selalu membantah kalau PAT melakukan aksi pembakaran buku, karena menurut mereka tidak pernah ada bukti keras yang menunjukkan PAT tengah melempar korek api ataupun menyulut obor ke tengah-tengah tumpukan buku yang siap dibakar. Namun di mata banyak orang, PAT telah melakukan kesalahan secara tak langsung. Dalam kedudukannya yang berpengaruh ketika itu, dia telah mengajurkan aksi pemusnahan itu. Aksi pembakaran buku itu benar-benar terjadi (seperti yang disebutkan di buku “Prahara Budaya”), dilengkapi pula dengan gambar saat api mulai membara melahap tumpukan buku tersebut (seperti yang saya sertakan di surat saya ini. Gambar ini merupakan reproduksi dari film dokumenter yang direkam oleh Des Alwi, seorang tokoh senior Indonesia asal Pulau Banda, yang menjadi saksi untuk berbagai peristiwa sejarah. Gambar ini telah dimuat pula di majalah sastra Horison edisi Agustus 2006, yang dipersembahkan khusus untuk mengenang PAT).

Dalam konteks ini sebagian kalangan menilai bahwa jikapun PAT barangkali saja tidak melakukan tindakan pembakaran secara langsung, dia menganjurkan dan mengetahui peristiwa itu. Dengan kata lain, dia mungkin tidak melakukan “intellectual violence by commission” (melakukan tindak kekerasan intelektual secara langsung), melainkan “by omission” (alias membiarkan sebuah tindak kekerasan intelektual berlangsung).

Kedua, penyebutan “Prahara Budaya” sebagai mengandung bias pemenang konflik adalah cermin dari sikap tak percaya diri, seraya menyalahkan pihak lain. Bahasa pepatahnya adalah “buruk muka, cermin dibelah”, atawa “diri tak pandai menari, lantai tak rata yang disalahkan”. Kalau memang tak sepakat dengan apa-apa yang termaktub dalam buku tersebut, susunlah sebuah buku tandingan, yang dengan lebih cerdas bisa mematahkan semua kesimpulan yang ada di sana. Saya sendiri akan dengan senang hati dan tangan terbuka menanti hadirnya karya tandingan tersebut. Namun sampai buku tandingan tersebut hadir, saya akan tetap berpegang pada data, informasi dan kesimpulan yang disajikan oleh “Prahara Budaya”. Jadi, sampai ada bukti kuat yang meyakinkan yang bisa menggoyahkan pandangan saya, saya tetap akan menganggap informasi yang saya paparkan di surat ini sebagai versi kebenaran yang saya anut.

Bagi saya, “Prahara Budaya” adalah salah satu rujukan cukup penting di antara amat sedikit rujukan lainnya yang tersedia jika kita ingin mencoba memahami perbenturan ideologis di bidang seni-budaya pada paruh pertama tahun 1960-an itu. Sangat disayangkan, para pembela PKI, Lekra, PAT seringkali menganggap sepi informasi-informasi penting semacam ini, tentu disebabkan antara lain oleh sikap apriori yang dilandasi oleh keengganan untuk mengkompromikan pandangan yang sudah menjadi anutan mereka selama ini. Saya juga menyayangkan orang seperti Mas Tossi, yang telah kenyang makan asam-garam sebagai wartawan, tampaknya tak sempat membaca buku seperti “Prahara Budaya”. Andaikata ia membacanya, mungkin tak perlu muncul kegegabahannya hingga menyodorkan fakta yang keliru bahwa anggota Manifes Kebudayaan bisa leluasa melawan (saya sudah membantah ini dalam surat kontratanggapan saya kepada Mas Tossi tak lama setelah saya menerima tanggapan darinya; dan belakangan kekeliruan Mas Tossi sudah dikoreksi pula oleh Mas GM, sebagaimana yang telah saya sebutkan di bagian awal surat ini). Lumayan mengherankan juga mengapa Mas Tossi tidak sempat membaca buku yang sebetulnya penting ini, padahal dia beberapa kali bolak-balik ke Indonesia, dan punya banyak kawan yang semestinya bisa menyampaikan informasi mengenai keberadaan buku tersebut kepadanya. Seapriori-apriorinya kita terhadap sebuah buku, tetaplah akan ada manfaat yang bisa kita petik saat membacanya. Jika setelah membacanya dia tak sepakat dengan isinya, setidaknya dia bisa menulis resensi kritis terhadap buku tersebut. Atau bahkan menulis sebuah buku tandingan, sebagaimana yang saya anjurkan di atas.

Buku “Prahara Budaya” maupun para tokoh yang mempercayai terjadinya aksi pembakaran buku pada periode 1960-an itu memang tak merinci buku apa saja yang dibakar. Namun poin ini menjadi tak relevan dan tak esensial lagi. Bakar buku tetaplah bakar buku, tak peduli berapapun jumlahnya, sejauh perbuatan itu dilakukan di ruang terbuka dengan harapan mendapatkan perhatian publik untuk menunjukkan dengan gagah telah berlangsungnya tindakan pelampiasan rasa tidak suka terhadap sesuatu yang diwakili oleh buku-buku itu (baik mengenai isinya, ataupun mengenai pengarangnya). Di bagian ini saya hanya ingin menegaskan kembali bahwa sejumlah orang tak terlalu mempersoalkan apakah PAT melakukan aksi pembakaran buku itu langsung dengan tangannya sendiri atau tidak. PAT tahu ada aksi pembakaran buku, dan tak pernah terdengar dia melarang aksi-aksi itu. Padahal di waktu itu dia adalah salah seorang tokoh yang berpengaruh, dengan suara lantang yang akan didengar oleh orang-orang yang sekubu dengannya. PKI adalah partai politik yang besar dan amat berpengaruh ketika itu; Lekra adalah organnya di bidang kesenian-kebudayaan; dan PAT adalah salah seorang pengurus teras Lekra, sekaligus juga pengasuh lembar budaya “Lentera” di harian Bintang Timur yang secara ideologis sehaluan dengan PKI. Lembar budaya “Lentera” kira-kira setara dengan lembar budaya “Bentara” di harian Kompas, walaupun tentu saja dengan landasan ideologis yang sama sekali berbeda. Lewat “Lentera” itulah PAT melancarkan berbagai serangan terhadap lawan-lawan ideologisnya. Bukannya PAT mencegah tindakan pembakaran buku, yang terjadi justru sebaliknya. Dalam sejumlah pidato dan tulisannya PAT tegas-tegas menganjurkan agar buku-buku dari lawan ideologisnya dimusnahkan. Pembakaran hanyalah cara. Esensinya tetap sama, yakni pemusnahan buku yang berseberangan dengan ideologinya.
***


Berikut ini saya cantumkan beberapa kutipan yang menjadi dasar kritik saya di awal sekali, yang menyebutkan bahwa telah terjadi aksi pembakaran buku oleh PKI, Lekra, PAT. Sekali lagi, keterlibatan PAT barangkali tidak secara langsung, melainkan sebagai penganjur aksi pemusnahan buku dan kemudian melakukan aksi pembiaran manakala tindakan pembakaran tersebut benar-benar terjadi.

A. Buku “Prahara Budaya” (susunan Taufiq Ismail dan DS Moeljanto):

Hal 351 (BAGIAN KEDELAPAN):
Menyusullah kini gegap gempira tuntutan pemecatan terhadap pendukung Manifes di berbagai strata jabatan dan pekerjaan (istilah “revolusioner”-nya retooling, yang di negeri asal bahasa itu tidak dikenal bermakna sebagai yang dikehendaki di sini), penghentian penerbitan majalah Sastra, pelarangan buku-buku, pembakaran piringan hitam Beatles, Koes Bersaudara dan berjenis “ngak-ngik-ngok” semacamnya serta pembakaran buku-buku “kontra revolusioner” lainnya termasuk rampasan dari perpustakaan “setan Amerika” USIS (Jakarta, Surabaya) dan perombakan staf pengajar Fakultas Sastra.

Hal 405-406 (yang mengutip artikel PAT di dalam lembar kebudayaan “Lentera” Harian Bintang Timur, 9 Mei 1965):
Dengan bersenjatakan “Berdikari”, “Berkepribadian dalam Kebudayaan” dan “Banting Stir”, pembersihan terhadap penerbit yang menjadi pabrik ideolozi gelandangan telah merupakan suata tantangan bagi semua organisasi kebudayaan yang progresif revolusioner.

Pembersihan ini bukan saja akan mengakibatkan terjadinya perkembangan yang sehat dalam pembinaan kepribadian nasional, juga menghabisi perbentengan terakhir musuh-musuh revolusi. Sedang di bidang sosial-ekonomi secara edukatif akan membantu penerbit-penerbit Manipolis memasuki form-nya sebagai alat revolusi sesuai dengan tuntutan situasi revolusioner dewasa ini.

Juga di bidang penerbitan, setiap kekalahan pada pihak lawan mengakibatkan terjadinya kemajuan ganda pada kekuatan revolusioner.

Hal 414 (Pandangan Taufiq Ismail):
Dengan sambutan yang hangat, pada halaman pertama dengan garis pinggir tebal, dimuat “daftar buku-buku Manikebu yang dilarang di sekolah-sekolah negeri dan swasta.” Ini menyambung HRM pekan sebelumnya, yang memuat nama-nama buku yang diharamkan karya Takdir Alisjahbana, Hamka, Idrus, dan HB Jassin. (catatan dari Arya Gunawan: yang dimaksud di sini adalah Harian Rakyat edisi Minggu, 3 Oktober 1965).

Lompat satu alinea (tidak saya kutip, karena kurang relevan), terdapat alinea berikut:

Ujar pengantarnya: “Berikut ini kita siarkan buku buku dari Menikebuis-Menikebuis lainnya juga yang dicampakkan dari baik sekolah-sekolah negeri maupun swasta.”

Hal 415 (Pandangan Taufiq Ismail):
Rasa kebencian gergasi inilah yang mewarnai acara pembakaran buku yang hiruk-pikuk penuh semangat “revolusioner”, sebuah upacara ritual PKI, Pemuda Rakjat, CGMI, Lekra dan ormas-ormasnya yang terutama berlangsung di tahun 1965 di Jakarta dan Surabaya, paling kurang di tiga tempat. Onggokan tinggi buku-buku dilalap api tersebut terutama adalah hasil rampokan dari perpustakaan USIS di kedua kota itu ditambah dengan buku teks universitas yang “oldefo”, dan karya yang dicap “Manikebu” reaksioner (di Bintang Timur diberitakan jumlahnya dua juta buku, yang tentu dilebih-lebihkan secara keterlaluan).

Hal 417 (Pandangan Taufiq Ismail):
Bagaimana bisa menaklukkan kebencian itu? Bagaimana cara dan bisakah diikhtiarkan memadamkan kebencian di hati orang-orang Lekra-Marxis-Leninis, dan sekutu-sekutunya? Pertanyaan itu betapa naif dan mendekati pandir. Yang urgen adalah yang paling dekat saja: bagaimana respons kita bila terdesak dipojokkan terus-menerus karena bidikan fitnah, character assassination, polemik, tarik urat leher, konferensi, musyawarah, pembungkaman, pemecatan, pelarangan penerbitan, pembakaran buku dan piringan hitam, apakah akan terjelma kebencian serupa yang merangsang tindakan pembalasan dendam? Karena Hamka dijebloskan ke penjara, mestikah kita menuntut menjebloskan mereka pula? Karena buku kita dilarang, apakah kita balik menuntut melarang buku Lekra pula? Karena mereka membakar buku kita, lantas kita balas juga dengan membakar buku mereka? Demikianlah?

Jawabannya adalah tidak. Begitu ditiru-ulang kembali apa yang mereka lakukan, maka kita akan sama saja dengan mereka. Bila tenaga yang mendorong gerak mereka adalah kebencian dan kekerasan, maka tenaga yang jadi sumber kiprah kita adalah cinta dan amal saleh. Meniru tindakan mereka berarti mereduksi kepribadian sendiri dan menghalangi transendensi total kita ke hadirat Yang Mahasegala.

B. Majalah Horison, edisi Agustus 2006, yang khusus dipersembahkan untuk mengenang PAT yang wafat pada bulan April tahun yang sama.

Hal 5:
Memuat dua foto hasil reproduksi film dokumenter Des Alwi, seorang tokoh senior Indonesia.

Hal 7 (Tulisan Asrul Sani, dikutip dari Majalah Gatra, 26 Agustus 1995):
Pengarang ini (catatan Arya Gunawan: maksudnya merujuk kepada PAT), dengan gigih tetap bertahan bahwa semua itu fitnah, bahwa ia – baik sebagai pengarang maupun pemimpin Lekra – tak pernah berusaha menindas kebebasan kreativitas orang lain. Kegigihan Pramoedya dalam mengingkari masa lampu ini betul-betul “mengagumkan”. Di hadapan bukti-bukti yang cukup banyak dan jelas, seorang penjahat kambuhan sekalipun akan mengakui kesalahannya. Memang sampai saat sekarang tak seorang pun di antara kawan sejawat Pramoedya yang mengakui tindak-tanduknya di masa lampau. Sitor Situmorang menulis sebuah memoir. Jika orang mengira akan mendapat penjelasan tentang sikap dan perbuatan Sitor semasa Orde Lama akan kecewa dan heran. Karena Sitor dengan gampang melewati masa itu, seolah-olah masa itu tak ada sama sekali. Berdasarkan bukti-bukti yang ada, jelaslah bahwa kampanye Pramoedya untuk menindas kebebasan para seniman adalah suatu fakta sejarah.

Hal 15 (Tulisan Bokor Hutasuhut, anggota Manifes Kebudayaan). Aliena terakhir tulisan itu sbb:
Sampai akhir hayatnya Pramoedya tidak pernah minta maaf pada sejarah secara terbuka. Orang yang membelanya malah hendak menobatkannya sebagai pahlawan kebudayaan-kesenian atas nama demokrasi. Yang dilupakan orang itu ialah di zaman demokrasi terpimpin Pram memimpin penindasan kreativitas pengarang, menyambut pelarangan buku, membabat penerbit anti komunis dan membakar buku.

Hal 20, tulisan Ajip Rosidi:
Manipol dijadikan ukuran apakah seseorang revolusioner ataukah kontra revolusioner. Dengan ukuran itu, Pram menguliti para sastrawan yang anti komunis sebagai anti Manipol dalam “Lentera”. Karena Manifes Kebudayaan menyatakan sikapnya sebagai penganut humanisme universal, maka Pram tak henti-hentinya menyerang paham tersebut dan Manifes Kebudayaan (yang disebutnya sebagai Manibeku) sampai akhirnya dilarang pemerintah. Setelah dilarang, Pram menteror para penandatangan Manifes Kebudayaan supaya dikeluarkan dari jabatannya dan karya-karyanya dilarang diterbitkan, tulisan-tulisannya dilarang dimuat dalam majalah dan surat kabar.

Hal 29 (tulisan Rendra “Hadiah Magsaysay dan Pramoedya”, dikutip dari Kompas edisi 14 Agustus 1995):
Di Indonesia, PKI dan Lekra mengganyang, menindas, meneror dan membantu pencekalan terhadap para penandatangan Manifes Kebudayaan dan para lawan politik mereka yang lain. Bahkan mereka melakukan pembakaran buku-buku yang dianggap anti revolusi. Dan selama itu terjadi, Pramoedya Anata Toer tidak berbuat apa-apa yang berarti membela para seniman dan cendekiawan yang tertindas, tercekal dan terbentur. Malahan ikut berpidato di auditorium Universitas Gadjah Mada dan menulis di surat kabar yang isinya mendukung aksi PKI dan Lekra itu. Waktu itu ia adalah anggota Lekra yang memimpin lembaga sastranya. Dan terhadap pembakaran buku yang terjadi ia juga tidak mengeluarkan suara protesnya.
Inilah segi-segi ideologi dan praktek politik yang saya tentang dari Pramoedya Ananta Toer, seorang yang sebagai sastrawan tetap saya bela dan kegumi dari dulu sampai sekarang. (catatan dari Arya Gunawan: sikap saya persis seperti sikap Mas Rendra ini).

Hal 32 (Tulisan Taufiq Ismail “Balas Dendam”, diambil dari Kompas edisi 21 Agustus 1995):
Pengarang Hamka adalah sasaran kampanye pemburukan nama sekitar dua tahun lamanya di “Lentera”/Bintang Timur, yang akhirnya dengan tuduhan politik berkomplot akan membunuh presiden dan menteri agama masuk tahanan hampir tiga tahun tanpa pengadilan. Ketika akan disiksa dengan setrum, persis waktu itu Gestapu gagal, dan Buya Hamka bebas.
Beliau diundang ceramah di TIM pada 1969. Antara lain dalam acara diskusi Buya Hamka ditanya tentang dua hal. Pertama tentang pendapatnya mengenai pelarangan buku Pramoedya, kedua bagaimana sikapnya terhadap Pramoedya yang menghancurkan nama baiknya beberapa tahun di ruang seni-budaya “Lentera”/Bintang Timur yang berlanjut dengan fitnah politik berkomplot akan membunuh presiden dan menteri agama, hingga masuk tahanan hampir 3 tahun lamanya. Dia menjawab bahwa dia tidak setuju pelarangan buku Pramoedya karena falsafah hidupnya adalah cinta, dan untuk seluruh penggasakan terhadap nama baiknya, termasuk fitnah berkomplot tersebut, dia sudah memaafkan semua yang terlibat.
Hadirin di teater Arena TIM terdiam hening mendengar keikhlasan yang memancar dari ucapan sastrawan dan ulama besar ini. Banyak yang menitikkan air mata, termasuk novelis Iwan Simatupang.

(catatan Arya Gunawan: saya juga mengambil posisi persis seperti yang diambil Buya Hamka ini, juga yang diambil oleh Taufiq Ismail dalam bagian penutup buku “Prahara Budaya”. Saya meyakini bahwa seyogianyalah kita menjadi makhluk yang pemaaf karena kita tahu akan kedhaifan kita sebagai makluk ciptaan Yang Maha Kuat dan Maha Suci. Namun saya juga penganut paham “memaafkan bukan berarti melupakan”. Let us forgive, but not forget. Sayangnya, banyak kalangan yang melupakan, atau berpura-pura lupa, dan pada saat yang sama melakukan berbagai upaya agar sebanyak mungkin orang mengalami kealpaan ini. Kritik saya sedari awal adalah penentangan terhadap upaya yang ingin membuat semua orang mengalami kealpaan secara berjamaah itu).

Taufiq Ismail sendiri juga sudah melaksanakan secara konkret niatnya untuk memaafkan itu. Tanggal 9 Juni 2000 dia tampil sebagai salah seorang pembicara, berhadapan langsung dengan PAT. Di akhir acara dia mengulurkan tangan kepada PAT, sebagai cermin dari kesediaan mengikuti salah satu kesimpulan dari perdebatan tersebut yakni agar memotong rantai dendam. “Saya mengulurkan tangan kepada Pram, dan dia menjabat tangan saya erat-erat. Saya gembira sekali”, begitu tulis Taufiq Ismail di kalimat terakhir catatannya mengenang PAT di majalah Horison edisi khusus untuk mengenang PAT itu (hal 9).


Demikianlah hal-hal yang dapat saya utarakan sementara ini untuk menanggapi semua komentar terhadap kritik saya tersebut. Sebagai penutup, saya juga ingin menegaskan bahwa cara-cara pembakaran buku itu dilakukan pula oleh ABRI pada periode setelah PKI kehilangan kekuasaannya yang berusia singkat itu. Perbuatan pembakaran seperti itu tentu juga harus dikecam, sama kerasnya dengan kecaman pada PKI, Lekra, PAT yang terkait dengan aksi pembakaran buku di masa-masa kejayaan mereka. Tidak ada pembenaran terhadap aksi pembakaran ABRI tersebut, selain bahwa tindakan itu hanya akan melanggengkan law of retaliation (sesuatu yang sudah saya sitir dalam tanggapan saya atas email Linda Christanty beberapa hari yang lalu). Saya ingin law of retaliation ini ditukar dengan law of reconciliation, agar kedua kubu yang dulu pernah bertikai sengit, dan mungkin mewaris hingga ke generasi kita sekarang ini, untuk saling memaafkan. Namun bukan untuk melupakan. Ingatan itu harus terus dijaga sebagai bahan rujukan, sebagai bahan pelajaran. Bukan malah dengan sengaja dialpakan, dikaburkan, dikuburkan…

Salam,

Arya Gunawan

Thursday, August 16, 2007

Putu Oka Mohon Memberikan Fakta


Dengan hormat,

Kepada siapapun yang mengatakan Lekra pernah melakukan pembakaran buku, saya harap dapat memberikan fakta. Jangan hanya meneruskan katanya, katanya, dan katanya.

Kita bersama, bangsa Indonesia sudah seharusnya berani melihat sejarah kita lebih jernih.

Salam,

Putu Oka


Keterangan: Putu Oka Sukanta, direktur eksekutif Balai Pengobatan Alternatif Yayasan Taman Srirengganis, Jakarta, seorang ahli tanaman obat dan akupuntur, pengarang buku "Keringat Mutiara," mantan tahanan politik, salah seorang penandatangan pernyataan sikap mengecam pembakaran buku oleh Kejaksaan Agung.

Wednesday, August 15, 2007

Pramoedya Menggugat Tuduhan Bakar Buku


Tuduhan bahwa Pram pernah terlibat dalam pembakaran buku, secara tegas pernah ia bantah saat ia masih hidup. Pada November, 1996, Pram pernah menggugat Des Alwi dan Dahlan Iskan. Dalam situs http://www.radix.net/~bardsley/gugat.html ditulis:

Penyebabnya adalah Harian Jawa Pos edisi 27 Februari 1996 menurunkan tulisan berupa kutipan dari kata-kata Des Alwi, "Pram Berperan Rusak Dokumentasi Bung Hatta. Karena itu orang boleh dongkol pada Pramoedya Ananta Toer. Bukan sebagai penulis, tapi sebagai gembong Lekra yang mendalangi pembakaran dokumen penting."

Tanggapan Pram ada pada di bagian berita berikutnya:

Dalam suratnya Pram memberikan kesempatan pada kedua tergugat untuk membuktikan kebenaran tuduhan mereka berdua. "Bila benar, saya bersedia secara ikhlas dikutuk sejarah dan generasi mendatang sebagai perusak dan pembakar dokumen penting dalam usaha menggelapkan sejarah. Dengan segala senang hati saya akan menerima sanksi pidana sebagai hukuman saya," ujarnya. Tapi, surat Pram tak pernah ditanggapi.

Masih soal pembakaran buku, tahun 1999 almarhum Sobron Aidit pernah mewawancarai Pram (http://www.lallement.com sobron/asing32.htm). Saya kutip sebagian pernyataan Pram yg juga ditulis Sobron di bab 32 (Seri Pramoedya Ananta Toer) dalam buku "Cerita dari Tanah Pengasingan".

Dan pembakaran buku-buku? Kalau ada buku-buku itu, malah saya sangat berkepentingan buat menyimpannya, memperlengkapi perpustakaan yang sudah saya kerjakan sejak puluhan tahun yang lalu. Semua teman juga tahu, saya dari dulu banyak membutuhkan dan mengkoleksi berbagai buku dari berbagai aliran dan faham, berbagai disiplin ilmu. Yang membakar dan merampok serta menghancurkan perpustakaan saya, justru adalah tentara Angkatan Darat dan penguasa militer. Mereka sudah merampoki bukan saja rumah saya, tetapi juga merusak dan mengobrak-abrik perpustakaan dan dokomentasi saya yang sudah saya kumpulkan, susun rapi-rapi, sejak bertahun-tahun. Jadi siapakah yang membakar dan merusak serta merampok secara sesungguhnya? Bukankah hal ini seperti maling teriak maling? Mereka bukan saja merusak barang-barang berharga, tetapi juga merusak dan menghancurkan popok bayi anak saya! Inilah dan beginilah mereka. Dan ini sudah saya tulis dan siarkan dulu-dulunya.

-- Samiaji Bintang


Samiaji Bintang seorang wartawan sindikasi Pantau di Banda Aceh, pernah bekerja di harian Tribun Kaltim, Samarinda.

Goenawan Mohamad Menanggapi Aboeprijadi Santoso

Dalam menjawab Arya Gunawan, Tossi mengatakan: "Kalau benar bahwa Pram dan Lekra membakar buku, saat itu para korbannya secara nyata mampu memberi jawab atau pun membalas."

Sebagai orang yang hidup di masa itu dan mengalami apa yang terjadi, harus saya katakan bahwa Tossi salah fakta.  

Setelah Presiden Sukarno melarang "Manifes Kebudayaan" 8 Mei 1964, atas desakan PKI-Lekra dan lain-lain, didahului dengan kampanye gencar oleh Pramoedya Ananta Toer, para penandatangan Manifes Kebudayaan kehilangan kebebasan. 

Tulisan saya dan yang lain-lain tak bisa dimuat di penerbitan apapun, karena bila itu terjadi, penerbitan tersebut akan dibredel. Saya memakai nama samaran, juga dalam menulis hal yang tak membahas persoalan politik. Tulisan saya  tentang metode analitik dalam kritik sastra, misalnya, memakai nama "Sutisna Aji" agar bisa muncul di majalah kebudayaan Indonesia.

Saya bahkan tak boleh mendaftarkan nama sebagai peserta rapat. Ini misalnya saya alami  dalam sebuah rapar teater yang dipimpin oleh Usmar Ismail. Pemimpin rapat takut akan diinterogasi polisi, bila ada yang melaporkan bahwa ada seorang "Menikebu" yang hadir.

Wiratmo Sukito dicopot dari tugasnya di RRI, dan H.B. Jassin tidak bisa lagi jadi dosen di FSUI. Ia digantikan A.D.. Donggo, anggota LKN yang juga mengganyang habis "Manikebu", meskipun Donggo tak punya gelar akademis sama sekali.

Orang-orang Lekra -- tidak semuanya, tentu, tapi jelas  Pramoedya Ananta Toer --   ikut bertanggungjawab dalam pembrangusan kebebasan berpikir di masa "demokrasi terpimpin" itu. Saya tidak menyaksikan mereka membakar buku(kecuali jika dianggap pembakaran The Jefferson Library milik USIS adalah pembakaran buku juga), namun mereka aktif dalam mencegah pikiran yang berbeda, khususnya yang dinilai "kontrarevolusi", dengan ukuran yang mereka tentukan sendiri.

Dan kami tidak punya ruang untuk bersuara, apalagi membalas, Tossi. 

Bila saya katakan semua ini, maksud saya adalah agar kita tidak membuat diskusi soal pembakaran buku ini jadi  persoalan membela atau menyerang PKI-Lekra atau Pramoedya.

Maksud saya adalah menunjukkan, bahwa para pelaku sejarah di Indonesia ini -- termasuk saya, termasuk Pramoedya -- punya andil dalam kesalahan-kesalahan besar yang menyebabkan hak-hak demokrasi terancam atau hilang. 

Jika kita hendak mengecam sikap intoleran yang menjurus ke sana,  kita harus bersedia mengakui kesalahan itu -- dan baru dengan itu bisa ikut "melemparkan batu pertama", untuk memakai ungkapan Isa Almasih.  

Itu perlu. Yang dilakukan Nurmahmudi terhadap buku sejarah yang dianggap tak s menyalahkan PKI dalam peristiwa G30S adalah sebuah tindakan yang layak dikecam keras.  

Jika yang membakar adalah petugas Kejaksaan Agung yang menjalankan prosedur -- bahwa tiap yang dilarang tak boleh disimpan dan sebab itu dibakar -- itu masih bisa dipahami. Tapi seorang walikota di sebuah kota universitas tidak bertugas untuk itu. Kecuali untuk menunjukkan, bahwa dia dan kekuasaannya tidak akan toleran terhadap pikiran yang berbeda.

Dengan demikian, ia dapat disamakan dengan sikap totaliter lain, baik yang tampak pada kaum Stalinis maupun kaum Nazi dan kaum Fascis.

-- Goenawan Mohamad


Goenawan Mohamad, kolumnis majalah Tempo, seorang pendiri Komunitas Utan Kayu, ikut menandatangani Pernyataan Sikap anti Pembakaran Buku. Tanggapan ini dikirimkan Goenawan Mohamad lewat email saya.

Monday, August 13, 2007

Re: Soal Bakar Buku, Musibah & Populisme

Mas Tossi,

Saya menghargai Anda karena bersedia meluangkan waktu menulis komentar terhadap kritik saya.

Namun sayangnya Anda sama melesetnya menangkap poin utama saya, sebagaimana halnya Linda. Sebetulnya saya sudah ulangi ini dalam jawaban saya untuk Linda (yang tentu saja sudah juga Anda baca). Saya tegaskan kembali di sini: saya hanya mempersoalkan mengapa fakta bahwa Pram dan Lekra membakari buku-buku lawan ideologis mereka di tahun 1960-an itu tidak dikutip oleh surat pernyataan dari kelompok anti-bakar buku itu. Harusnya mereka mengutip juga contoh ini, selain contoh mengenai perbuatan yang mirip yang dilakukan oleh rezim Nazi Hitler di Jerman itu. Tindakan Pram dan Lekra ini diuraikan oleh Taufiq Ismail dan DS Moeljanto dalam buku mereka, berjudul "Prahara Budaya" (mungkin Anda belum sempat membacanya, padahal ini buku yang penting dan memuat banyak informasi mengenai kekerasan intelektual yang dilakukan
Lekra pada masa itu).

Dengan tidak dikutipnya tindakan Pram dan Lekra ini, telah terjadi omission of fact, alias pengingkaran fakta, yang bisa menjurus penciptaan fakta baru bahwa seolah-olah aksi bakar buku ini hanya dilakukan oleh Nurmahmudi dan lain-lain pada masa sekarang. Padahal aksi yang sama sudah dilakukan lebih dari empat dasawarsa sebelumnya oleh Pram dan Lekra.

Lawan-lawan ideologis Lekra (sebagian tergabung dalam kelompok pendukung Manifes Kebudayaan alias Manikebu ketika itu juga tak bisa melawan (tidak seperti yang Anda sebutkan di email Anda), bahkan berujung pada dibungkamnya Manikebu oleh Presiden Seokarno di bulan Mei 1964 itu.

Kalau saya mempersoalkan omission of facts mengenai Pram dan Lekra, bukan berarti saya ingin meminta agar Nurmahmudi dibenarkan dengan tindakannya membakari buku-buku di era mutakhir ini. Kedua-duanya sama-sama salah. Namun mengapa Pram dan Lekra tak dipakai sebagai contoh, malah melompat ke Jerman yang amat jauh dari jarak dan waktu? Yang saya minta adalah: sebutkan juga fakta sejarah mengenai aksi Pram dan Lekra itu di dalam surat pernyataan kelompok anti-bakar buku tadi. Hanya itu sebetulnya inti kritik saya, namun kemudian telah ditanggapi melebar kemana-mana. Andaikan fakta tersebut tercantum, tak akan pernah kritik saya itu lahir.

Mengapa fakta penting itu tidak disebutkan? Apakah semata-mata karena kealpaan murni? Atau kealpaan yang disengaja? Seorang kawan lama, wartawan senior di sebuah lembaga media terkemuka, melontarkan komentar yang sangat genial dalam email pendeknya beberapa hari lalu, mengomentari posting saya berisi kritik terhadap surat pernyataan itu. Isinya sbb (meskipun nama si pengirim saya hilangkan): "Arya, Good posting. Kelompok penyusun surat pernyataan itu bolos waktu pelajaran sejarah Indonesia. Waktu mereka balik lagi kelas, pelajarannya sudah ke bab berikutnya tentang "Adolf Hitler dan
Partai Nazi".

Saya terpingkal geli membaca email kawan lama ini. Ada unsur gurauan yang cerdas dalam emailnya itu, meski jelas bahwa dia juga mempersoalkan surat pernyataan tersebut. Saya sendiri sulit untuk menggolongkan tak tercantumnya fakta tentang Pram dan Lekra itu sebagai sebuah kealpaan murni, karena ada cukup banyak nama di dalam daftar penandatangan pernyataan itu yang pasti tahu mengenai fakta yang saya persoalkan ini. Itulah yang saya pertanyakan.

Apakah memang omission of facts itu dilakukan lantaran tak hendak mengungkit kembali aksi pembakaran buku di tahun 1960-an itu yang terkait dengan Pram dan Lekra ? Pram sudah begitu didewakan, sehingga banyak orang berkeberatan mengungkit lagi masa lalunya yang kira-kira berpeluang untuk melunturkan citranya. Yang sering diungkit adalah kekejaman yang pernah dialaminya karena dituduh terlibat PKI, agar yang muncul adalah rasa simpati dan pembelaan terhadapnya. Lambat-laun, yang akan diingat orang - terutama generasi muda yang tak sempat mempelajari sejarah secara tekun dan kritis --akan mengingat hanya hal-hal baik saja tentang dirinya, sedangkan hal-hal yang sebaliknya pelan-pelan terkubur.

Pengaburan dan penguburan sejarah seperti ini tentu saja berbahaya, dan merupakan metode yang sering dipakai oleh rezim-rezim ekstrim, termasuk oleh PKI. Saya kira pemerintah Indonesia mutakhir (cq Kejaksaan Agung) menangkap gejala pengaburan sejarah ini, sebagaimana yang terjadi pada penghilangan kata-kata "PKI" dalam buku-buku pelajaran sejarah yang memicu kontroversi ini. Itu pula yang agaknya mendasari keputusan pemerintah melakukan pelarangan terhadap buku-buku pelajaran sejarah tersebut, yang kemudian dibakari oleh Nurmahmudi dan sejumlah orang lainnya beberapa waktu lalu itu, sehingga memunculkan reaksi penolakan lewat surat pernyataan yang kini tengah kita perdebatkan ini.

Jadi, apabila Anda menangkap poin utama saya, maka tak akan muncul komentar Anda yang mempersoakan jalur penalaran yang saya kemukakan. Saya juga tak sepakat dengan komentar Anda yang menyebutkan bahwa saya telah melakukan penalaran ahistoris. Justru kritik yang saya lontarkan, sejak dari postingan awal saya berkaitan dengan topik ini, dilandasi pada niat menghargai sejarah, bukan untuk mengaburkan apalagi menguburkannya. Surat pernyataan anti-bakar buku itulah yang semestinya Anda sebut sebagai ahistoris, karena mengandung nuansa niat mengaburkan bahkan menguburkan sejarah.

Salam,

Arya Gunawan

Djoko Sri Moeljono Anti Bakar Buku


Pembakaran buku yang sudah terjadi beberapa kali di beberapa kota adalah sebuah bentuk lain dari gerakan "anti peradaban" dan perlu dilawan. Membaca berita tentang pembakaran, aku jadi teringat saat Taliban menghancurkan patung-patung dan peninggalan kuno di Afghanistan.

Yang lebih tidak bisa dimengerti, dalam aksi pembakaran terlibat petugas atau pejabat Kejaksaan, Depdiknas dan Pemda setempat. Sudah jelas Depdiknas mengajarkan dengan contoh nyata,suatu bentuk kebiadaban -membakar hasil karya intelektual.

Semua demi kekuasaan, karena pemerintah atau pribadi "menteri penjilat" tidak menginginkan masyarakat tahu bahwa G-30-S bukan perbuatan PKI. Bagi penguasa: G-30-S/PKI harus dipertahankan demikian, kalau sebutan PKI dihapus, maka legitimasi kekuasaan mereka akan goyah.

Anda bisa melihat bahwa di tanah air kita masih banyak "penjilat" dari kelas kroco sampai seorang pejabat tinggi bergelar professor! Menyedihkan, namun itu adalah kenyataan!

-- Djoko Sri Moeljono


Djoko Sri Moeljono, seorang insinyur, sarjana muda tambang dari Institut Teknologi Bandung, master of science dari Institut Metalurgi Besi & Baja Moskwa (1964), direktur utama GRC PT Widjojo di Jakarta, mantan tapol G-30-S, yang meringkuk 13 tahun dalam tahanan, kini menyiapkan buku tentang kisah jadi tapol.

Sunday, August 12, 2007

Soal Bakar Buku, Musibah & Populisme

Bung Arya dkk yb,

Soal bakar buku -seperti jelas dalam pesan protes pembakaran buku- adalah soal azas, soal kekerasan politik dan intelektual terhadap azas kebebasan berpikir dan berkarya. Itu yang pertama dan utama. Kritik Arya soal pengabaian "fakta penting mengenai pembakaran buku oleh Pram dan Lekra", kalau memang demikian fakta tsb terakhir ini, layak dihargai. Tetapi kritik tsb juga mewajibkan si pengkritik untuk merincikan fakta tsb. Ini yang tidak terjadi. Nah, kalau konsekuen, tinggal mengungkapnya saja kan. "Gitu aja, kok repot," kata Cak Dur (Ya, `Cak', bukan `Gus', masak membela demokrasi masih memakai istilah feodal `Gus')

Yang repot: apa yang terjadi pada kritik Arya adalah soal jalur penalaran, sebutlah soal intellectual road map.

Pertama, ketika dia mengatakan "Nurmahmudi dan lain-lain membakari buku karena terkait dengan hilangnya kata "PKI" dalam buku-buku itu, sedangkan Pram yang pernah dihukum karena disebut-sebut terkait PKI ternyata pernah pula melakukan tindak pembakaran yang sama", Arya seolah-olah menunjuk kalau Pram boleh, mengapa Nurmahmudi tidak?Seolah-olah dua kesalahan dapat menciptakan satu kebenaran. Kalau saya mencuri, lantas Bung mencuri juga, kedua fakta tsb tidak memberi pembenaran pada tindakan tsb, bukan?

Kedua, Arya melakukan penalaran a-historis karena berasumsi kesetaraan historis - seolah-olah semua kejadian serupa mengandung bobot historis yang sama di mana pun dan kapan pun dia terjadi. Kalau benar bahwa Pram dan Lekra membakar buku, saat itu para korbannya secara nyata mampu memberi jawab atau pun membalas. Dan itu terjadi, bukan. Berbeda dengan ketika buku Pram dan yang lain dilarang/dibakar, di sini para korbannya tidak berdaya apa apa, karena telah dihabisi, dipenjara atau terancam. Ini adalah bagian dari musibah besar Holocaust Indonesia 1965-1966. Pelarangan dan pembakaran buku di situ menjadi isyarat awal pemusnahan hak hak sipil terhadap sebagian warga. (Di sini kita memasuki wilayah realisme politik, bukan abstrak; di sini, tanggapan Linda Christianty terhadap Arya, tepat, bukan sekadar emosional).

Ketika seorang pemuda Yahudi membunuh diplomat Jerman di Paris, pihak korban (negara Nazi yang dipersonifikasi oleh diplomat tsb) tengah berjaya dan membalasnya dengan Kristall Nacht, Nov. 1938, mengulangi pembakaran buku 1933 dan perburuan. Pembakaran buku pada Malam Kristal menjadi isyarat terancamnya hak-hak sipil sebagian warga (in casu kaum Yahudi) yang sejak itu hengkang, bahkan juga dari Austria (negeri mekarnya Nazisme yang diduduki Jerman). Ini menjadi bagian dari Holocaust Jerman-Nazi.

Mengatakan yang satu (langkah Pram/Lekra) adalah "Prahara Budaya" dan menyetarakannya dengan yang lain (langkah Nurmahmudi cum suis) dengan mengabaikan musibah yang lebih besar, saya kira, tidak realistis. Realisme politik menuntut gambaran yang historis.

Ketika Nurmahmudi cum suis melakukan pembakaran buku tanpa intervensi pihak negara (karena mereka menindaklanjuti langkah negara, in casu Kejagung), pihak korban sudah tiada, atau tidak (banyak) berdaya akibat imbas 1965-66 yang disebut `Tahun Tanpa Akhir' (kalau nggak salah). Terlebih penting, ini bagian dari masa yang belum berlalu, masih kontemporer, artinya, juga ada pihak korban potensial yaitu generasi mendatang.

Walhasil, benar, langkah Nurmahmudi cum suis tidak bisa serta merta disejajarkan dengan momentum Malam Kristal sebagai awal jayanya fasisme, namun mengingat imbas `Tahun Tanpa Akhir' yang berkepanjangan, mengingat transisi demokrasi yang masih kuncup dan rawan, maka wajarlah untuk menjadikan protes pembakaran buku sebagai momentum peringatan, momentum kewaspadaan dan momentum solidaritas -hal-hal yang tampaknya makin langka saja dewasa ini.

Pada titik ini, kita perlu mencatat bahwa soal waspada ke depan dan soal benih benih sejenis fasis (fascistoide) bukan hal imajiner belaka. Di Belanda berlaku pelarangan buku karya Hitler "Mein Kampf" dengan alasan karena menebar kebencian rasialis dan mengingkari Holocaust. Pelarangan di sini berarti melarang menjualbelikan dan menyebarkan buku tsb, namun boleh memiliki secara pribadi dan mempelajarinya secara akademis. Kini ada politikus ekstremis anti-Islam dan anti-Islamisme, Geert Wilders (anggota parlemen), yang mengusulkan pelarangan al-Qur'an, termasuk memilikinya secara pribadi
dan membahasnya di masjid.

Di sini Wilders, dengan semangat fasistoid, populistis, menggelindingkan bola ketakutan publik Eropa terhadap Islam - yang
sesungguhnya tidak banyak berbeda dengan langkah Kejagung dan Nurmahmudi cum suis, dengan semangat populisme pasca-Orde Baru, menggulirkan bola ketakutan terhadap komunisme, yang padahal sudah tidak berdaya lagi.

Akhir kata, masih ingat pengalaman tragis banyak orang, yang melahirkan peringatan Martin Niemoeller (1892-1984) ini?
"In Germany they came first for the Communists, and I didn't speak up because I wasn't a Communist. Then, they came for the Jews, and I didn't speak up because I wasn't a Jew. Then, they came for the trade unionists, and I didn't speak up because I wasn't a trade unionist. Then, they came for the Catholicum suis, and I didn't speak up because I was a Protestant. Then, they came for me, and by that time no one was left to speak up...."

Salam damai,

Aboeprijadi Santoso,
Wartawan di Amsterdam

Saturday, August 11, 2007

Arya Gunawan soal Nurmahmudi Ismail


Andreas yang baik,

Aku sudah masuk lagi ke blogmu, dan mendapati dua postingku terkait dengan kasus pembakaran buku sudah terpajang di sana. Trims ya. Namun, bisakah aku mengajukan perubahan mengenai ringkasan diriku yang kamu cantumkan sbb: Arya Gunawan seorang warga Depok, dimana buku-buku pelajaran sejarah dibakar, bekerja sebagai staf UNESCO sektor komunikasi dan informasi, pernah bekerja sebagai wartawan Kompas dan BBC London. Arya mengatakan dia simpatisan Partai Keadilan Sejahtera serta memilih Nurmahmudi Ismail dari PKS sebagai walikota Depok. Nurmahmudi ikut membakar buku-buku pelajaran sejarah.

Perubahannya pada kalimat terakhir, sehingga akan menjadi sbb:

Arya pernah menyatakan dia simpatisan PKS serta memilih Nurmahmudi Ismail dari PKS sebagai walikota Depok. Namun sekitar setahun sejak Nurhmahmudi resmi menjabat di bulan Januari 2006 setelah melewati kisruh di pengadilan karena ditentang oleh kubu lawannya dalam pemilihan walikota, Arya menyatakan telah menarik dukungannya karena menganggap Nurmahmudi tidak mampu mewujudkan janji-janjinya untuk memajukan Depok dan warganya; bahkan tampak tak mampu untuk mengubah predikat Depok sebagai salah satu kota terkotor di Indonesia. Arya saat ini tengah menyiapkan tulisan berisi kritiknya terhadap kinerja memble Nurmahmudi. Betul bahwa Nurmahmudi menghadapi ganjalan keras dari pihak DPRD Depok yang dikuasai oleh kubu bekas lawannya dalam pemilihan walikota. Namun itu tak dapat dipakai sebagai alasan untuk tidak berbuat nyata bagi kesejahteraan Depok. Dalam konteks ini, tampak bahwa Nurmahmudi setidak-tidaknya merupakan pemimpin yang tak memiliki keberanian cukup untuk menghadapi lawan-lawannya di DPRD.

Tolong diakomodasi ya permintaanku ini. Aku menganggapnya sangat penting, supaya tak muncul salah paham dari pembaca blogmu, seolah-olah kritikku terhadap naskah pernyataan anti-bakar buku itu dilandasi oleh keberpihakanku pada Nurmahmudi. (I was once his supporter; but no more. Aku kini masuk dalam barisan warga Depok eks pemilih Nurmahmudi, yang kini kecewa). Juga untuk memberitahu kepada semua bahwa memberikan "dukungan buta" itu tidaklah elok. Kalau memang yang didukung sudah tak layak untuk didukung, ya cabut saja dukungannya, tentu dengan argumentasi yang jelas. Begitu juga posisiku terhadap Pram. Untuk karya-karyanya, aku bersedia menghamba menjadi muridnya. Dan jika aku punya suara, aku pasti akan memperjuangkannya mendapatkan Nobel Sastra (sayang dia telah wafat). Namun untuk kelakuannya menghabisi lawan-lawan ideologisnya saat PKI berkuasa di tahun 1960-an itu, termasuk aksi pembakaran buku itu, aku tak akan pernah melupakannya sehingga setiap ada kesempatan yang tepat untuk mengungkapkan itu, akan kugunakan, bukan atas dasar kebencian melainkan atas dasar "perjuangan ingatan melawan alpa dan lupa", menyitir Milan Kundera dalam bukunya The Book of Laughter and Forgetting). Naskah pernyataan anti-bakar buku itu adalah salah satu kesempatan yang tepat untuk mengungkapkan lagi fakta sejarah tentang Pram tersebut. Namun tim penyusunnya alpa. Itulah yang ingin kuingatkan: supaya kita bisa melawan alpa tadi. Sebetulnya hanya itulah yang mendasariku menulis kritik singkatku itu. Kalau kemudian berkembang jadi diskusi yang bernas, aku akan senang sekali.

Trims dan salam,

Arya Gunawan

Friday, August 10, 2007

Jane Pangemanan Protes Bakar Buku

Hello kawan,

Saya sangat tidak setuju dengan tindakan tersebut. Buku masih mahal dan susah untuk dibeli dan dinikmati oleh masyarakat. Masih banyak yang dapat dikerjakan dan harus diperbaiki dari pada harus membakar buku2.

Salam,

Dr. Jane M Pangemanan.
Dosen Fakultas Kedokteran
Universitas Sam Ratulangi
Manado

Arya Gunawan Menjawab Linda Christanty

Linda,

Ada beberapa hal yang ingin saya catat atas email Anda ini:

a)  Anda terkesan emosional, antara lain tercermin lewat penggunaan kata “huh” di ujung email Anda. Juga kelihatan seperti menyetujui pelestarian dendam, a law of retaliation, an eye for an eye, dengan mengatakan bahwa “massa Islam yang dimobilisasi tentara pada tahun 1965 sudah membalas aksi pembakaran buku Pram dan kawan-kawannya dengan membunuh sekitar tiga juta orang yang disebut PKI. Balasannya sudah cukup dahsyat tuh”. Artinya, sudah dong jangan serang Pram dan Lekra lagi dong, kan karya mereka juga sudah dibakar oleh tentara. Saya sepenuhnya tak sepakat dengan hukum “an eye for an eye” ini; dengan kata lain, kedua-dua aksi tersebut harus dikutuk keras. Pram dan Lekra membakari buku-buku non-Lekra harus dianggap tindakan tak beradab, lalu tentara membakari karya Pram dan membunuhi sekian banyak jiwa juga harus dikutuk sama kerasnya. Jadi, dalam konteks ini saya tentu akan membela Pram karena buku-bukunya telah dibakar oleh tentara.

b) Anda meleset menangkap poin utama saya. Saya terpaksa mengulangnya lagi di email ini. Poin utama sama sekali bukan ingin membela orang-orang yang bukunya dibakari oleh Pram dan Lekra. Sama sekali tidak. Poin utama saya adalah soal omission of facts, yang bisa membawa orang pada kesimpulan lain di luar apa yang dimaksudkan oleh para penyusun naskah pernyataan itu. Kalau tindakan Pram dan Lekra yang membakari buku-buku di tahun 1964-an itu tidak dikutip sebagai salah satu contoh di naskah pernyataan tersebut, maka orang bisa menyimpulkan ada sesuatu di balik omission of facts tadi: yaitu tidak ingin mengungkit-ungkit kesalahan yang sama kadarnya yang juga dilakukan oleh Pram dan Lekra. Kok jauh-jauh amat memunguti contoh sampai ke Jerman segala. Mbok ya ambil juga contoh yang dekat-dekat.

c) Ihwal pernyataan Anda: “Kalau Arya ingin membela orang-orang yang dibakar bukunya oleh Pram dan kawan-kawannya sekarang, yaaaa... agak nggak nyambung juga sih. Seharusnya dia lakukan itu di masa Soekarno berkuasa. Soekarno pun sudah wafat. Waktu itu Arya juga belum lahir.” Sekali lagi, saya tidak hendak membela orang-orang yang bukunya dibakar Pram. Yang saya persoalkan adalah bahwa tindakan Pram dan Lekra membakari buku-buku di tahun 1960-an itu layak dijadikan contoh bagus, sekaligus mengingatkan generasi sekarang. Kita tak boleh melupakan dan mengubur fakta bahwa ada penggalan sejarah Indonesia yang dihiasi oleh tindak pembakaran yang dilakukan oleh Pram dan Lekra, jauh sebelum Nurmahmudi dan kawan-kawannya melakukan tindakan yang mirip. Lalu yang saya tak habis pikir adalah mengenai saran Anda bahwa seharus saya melakukan “pembelaan” itu di masa Soekarno? Apakah Anda ingin mengatakan bahwa asas retroaktif tak berlaku di sini? Artinya, bahwa apa yang sudah terjadi masa Soekarno tak bisa diungkit-ungkit kembali di masa kini? Saya lumayan tak paham logika di balik usulan ini.

d) Oh iya, Anda keliru jika menduga saya belum lahir pada masa itu. Saya lahir di awal tahun 1964, di masa puncak aktivitas kelompok Manikebu sebelum dibreidel oleh Soekarno 8 Mei 1964. Kalau Anda bilang bahwa saya waktu itu belum bisa berbuat apa-apa untuk melawan Soekarno, tentu saja Anda sepenuhnya benar. Kemampuan saya pada masa itu baru pada batas tidur, menangis, telungkup, buang air, dan menetek. Namun jika Anda menyebut saya belum lahir (seperti yang tertulis di email Anda), jelas Anda sepenuhnya keliru.
 
Arya Gunawan

Arya Gunawan soal Nurmahmudi Ismail

Lampung, Lampung, Lampung

Oleh Andreas Harsono


JAKARTA – Saya beberapa kali berkunjung ke Bandar Lampung, menemui mahasiswa-mahasiswa, bicara dengan wartawan, dan tentu saja, menikmati durian Kotabumi. Kebetulan ada beberapa warga Lampung, antara lain Eva Danayanti, seorang alumnus majalah Teknokra, gadis muda, cerdas dan efisien, kini menjadi rekan kantor saya di Jakarta.

Terkadang, lewat diskusi dengan Eva dan kawan-kawannya, saya tahu adanya persaingan, sehat maupun tak sehat, antara bangsa Jawa –“Kami yang mayoritas,” kata satu wartawan— dengan bangsa Lampung, sang “putra daerah.” Eva juga cerita soal etnik Tionghoa, yang dominan dalam perdagangan, serta sering jadi kambing hitam dalam keadaan kacau.

Cuma omong-omong saja. Tak ada liputan, tak ada riset. Lampung, dari sejarahnya, jauh kurang sering berantem. Bandingkan misalnya, dengan kesultanan Acheh, yang sudah 600 tahun berantem dengan kekuasaan di Pulau Jawa. Gerakan Acheh Merdeka hanya perpanjangan dari sejarah 600 tahun itu. Atau bangsa Papua, yang tak merasa dijadikan bagian yang jujur dari Indonesia. Atau Timor Leste, yang melawan pendudukan Indonesia, dengan korban 183,000 mati antara 1975 dan 1999.

Persoalannya, bagaimana harian-harian di Bandar Lampung meliput serta membentuk opini soal ini? Saya kira, soal ini penting banget kalau Anda ingat analisis Benedict Anderson, guru nasionalisme dari Universitas Cornell, soal peranan media cetak dalam membentuk rasa satu nasib, rasa satu bangsa, rasa persaudaraan. Anderson terkenal dengan buku-buku klasik berjudul Java in a Time of Revolution serta Imagined Communities.

Menurut Anderson, “bangsa” adalah suatu masyarakat khayalan. Warga masyarakat betulan mengenal sebagian besar warga masyarakat tersebut. Suatu masyarakat khayalan, atau suatu bangsa, tentu saja, tak mengenal mayoritas warga lainnya. Namun media menciptakan khayalan seakan-akan mereka punya nasib sama, seakan-akan mereka saling mengenal dan bersama-sama memperjuangkan sesuatu. Saking hebatnya, khayalan ini bisa menggerakkan orang jadi emosi. Namun bangsa juga sering jadi sasaran manipulasi. Siapa lagi kalau bukan media pula yang bikin manipulasi?

Hari ini, peranan media cetak itu, secara luar biasa disaingi oleh media elektronik, terutama televisi. Ada gosip artis dan politikus kawin-cerai, ada film Hollywood super menarik, ada pelawak macam Thukul Arowana. Orang tertarik nonton televisi, lalu enggan beli koran. Hari ini, juga praktis tak ada orang yang mendapatkan breaking news dari suratkabar. Padahal breaking news, sejak awal abad XX, jadi daya tarik suratkabar menggaet pembaca. Suratkabar pun makin frustasi lihat kue iklan direbut televisi. Di Jakarta, saya sering jadi korban curhat para redaktur, yang jengkel lihat sirkulasinya turun terus, lalu tergoda menyeleweng dari pakem-pakem jurnalisme.

Jalan keluar yang benar bagaimana? World Association of Newspapers berusaha membantu dunia persuratkabaran. WAN adalah sebuah organisasi nirlaba, berdiri tahun 1948 di Paris. Anggotanya ada pada 102 negara, mewakili sekitar 18,000 suratkabar (termasuk Indonesia). Mereka mempunyai macam-macam petunjuk guna mengembangkan sirkulasi dan pendapatan suratkabar. Mulai dari perbaikan manajemen hingga kerjasama digital.

Semuanya ada dalam proyek “Shaping the Future of Newspapers.” Saya sempat perhatikan judul-judul dari laporan mereka:

• The Power of Local Focus
• Digital Classifieds Survey
• Media Landscapes: Beyond Advertising
• The Format Change Phenomenon
• Classified Models Revisited
• Circulation science
• Profiting from Digital
• New Designs, New Formats
• Reaching and Retaining Young Readers
• The Value Driven Newspaper


Intinya, suratkabar modern tak bisa mengandalkan kecepatan lagi. Suratkabar modern harus menekankan kedalaman. “Analisis, analisis, analisis,” katanya. Disain harus diperhatikan. Situs web bisa jadi tambang uang. Iklan baris perlu diformat segar. Pendapatan bukan hanya dari iklan. Sirkulasi harus lebih hemat.

Committee of Concerned Journalists dari Washington DC juga memberi banyak usul. Mereka usul mutu jurnalisme ditingkatkan. Suratkabar Lampung, kalau mau modern, harusnya juga makin analitis, makin bercerita serta makin mudah dibaca. Ia juga harus lebih lokal, lebih dekat kepada warga.

Suratkabar Lampung juga harus mendidik warga untuk sadar bahwa nasib mereka, seringkali tak ditentukan oleh mereka sendiri. Nasib mereka lebih sering dipengaruhi oleh orang-orang berkuasa di tempat yang jauh dari Lampung. Entah di Jakarta, atau mungkin London, New York, Tokyo, Beijing, Kairo dan Mekkah. “Makin bermutu jurnalisme dalam suatu masyarakat,” kata Bill Kovach dari Committee of Concerned Journalists, “makin bermutu pula masyarakatnya.”

Lebih penting lagi, suratkabar modern harus memberikan gambar, yang sedekat-dekatnya, bahwa keragaman adalah bagian dari Lampung. Politik bangsa-bangsaan harus diceritakan dengan segala macam background, yang tak muncul pada berita sepotong dua potong. Ia juga harus lebih memberi tempat kepada warga. Suratkabar modern bukan hanya meliput pejabat dan orang-orang besar.

Orang Amerika bilang, “It’s a tall order.” Ini permintaan yang sulit. Kebanyakan media Jakarta, baru bebas dari sensor dan bredel sesudah mundurnya Presiden Soeharto. Namun fasisme Orde Baru, yang anti keragaman, gemar menindas kaum minoritas, serta mengagung-agungkan kekerasan, masih diwarisi di setiap sudut Indonesia dan Timor Leste.

Republik Indonesia, yang dibentuk pada 1950-an, juga menghancurkan semua suratkabar peninggalan Hindia Belanda. Dampaknya, tak ada garis sambung antara media di Indonesia, yang kini 95 persen dikuasai orang Jakarta, dengan jagoan-jagoan macam Tirto Adisurjo, F. Wiggers, H. Kommer, Tio Ie Soei, Marah Sutan, Mas Marco Dikromo, Kwee Kek Beng, atau F.D.J. Pangemanann. Ketika beberapa kali bertemu dengan orang-orang WAN, saya sering gagap bila tahu umur suratkabar-suratkabar Eropa, Amerika atau India, 150 hingga 200 tahun. Republik baru ini tak punya sejarah jurnalisme yang panjang. Paling tua umurnya 40-50 tahun.

Di Jakarta, Goenawan Mohamad dari Tempo sering mengeluh susahnya cari wartawan yang bisa menulis. Saya setuju dengan Goenawan. Coba Anda hitung berapa wartawan di Jakarta, yang biasa menulis, tentu saja dengan benar dan memikat, lebih dari 10,000 kata dalam satu cerita? Bagaimana mau bikin analisis dan cerita mendalam kalau wartawannya tak bisa menulis panjang? Tapi banyak reporter juga mengeluh. Bagaimana bisa menulis bagus dan dalam kalau setiap hari disuruh bikin dua, tiga hingga lima berita? Ini macam lingkaran setan.

Tapi siapa tahu, dari tempat dimana durian Kotabumi bikin banyak orang jatuh cinta pada makanan Lampung, bisa muncul suratkabar bermutu, yang memelopori perubahan jurnalisme kuno ala Majapahit di Jakarta?


Andreas Harsono, seorang wartawan, ketua Yayasan Pantau, yang bekerja dari Jakarta, Banda Aceh dan Ende, kini menulis buku From Sabang to Merauke: Debunking the Myth of Indonesian Nationalism. Esai ini muncul di halaman opini harian Lampung Post

Linda Christanty soal Kritik Arya Gunawan


Dalam rapat pertama kita tempo hari, saya sudah menduga hal seperti ini akan terjadi.  Saya dan teman-teman juga sepakat bahwa jangan sampai fokus utama kita adalah aksi atau advokasi terhadap tindakan pembakaran buku sejarah, yang tidak mencantumkan kata "PKI". Dan apa yang kita lakukan kemudian, sudah benar.

Pembakaran buku sejarah, yang tak mencantumkan kata "PKI" itu hanyalah MOMENTUM kita untuk melakukan aksi melawan apa yang lebih besar, yaitu FASISME dan ANARKISME (dengan slogan kita, LAWAN FASISME, REBUT DEMOKRASI!).

Kita juga sama-sama menyepakati bahwa kalau kita hanya terfokus pada soal pembakaran buku sejarah, yang tak mencantumkan kata "PKI" pada "G30S", maka gerakan perlawanan yang kita lakukan akan mengecil, kita tak akan bisa mengajak massa yang lebih luas untuk melawan fasis dan orang-orang yang ikut serta dengan kita hanya orang yang merasa berkepentingan dengan G30S saja (misalnya tapol/napol yang sudah pada uzur itu) atau para sejarawan yang kritis terhadap pemerintah Orde Baru dulu. Padahal, apa yang kita lawan ini adalah sebuah kekuatan yang sangat besar dan terorganisasi dan pembakaran buku yang tak mencantumkan kata "PKI" hanyalah salah satu cara mereka untuk mengkonsolidasikan diri.

Apabila ada yang bertanya, mengapa kita menjadikan pembakaran buku sejarah tanpa kata "PKI" itu sebagai momentum, maka jawaban kita adalah salah satu pembantaian terbesar dalam sejarah umat manusia setelah Perang Dunia II adalah peristiwa 1965 dan mereka yang dibunuh itu dituduh sebagai "PKI".

Tentara bersama kelompok-kelompok yang dimobilisasinya melakukan pembantaian terhadap sekitar tiga juta orang yang mereka anggap "PKI" (Ketika Gus Dur masih menjabat presiden RI, dia bahkan pernah menyatakan minta maaf, karena Ansor turut terlibat dalam pembantaian tersebut). Sebelum itu disiarkan juga bahwa terjadi pembunuhan terhadap para jenderal yang dilakukan PKI dan dalam sejarah versi Orde Baru dinyatakan sebagai "Pemberontakan G30S PKI".

Ketika reformasi politik sedang berlangsung pasca Soeharto, para sejarah pun punya ruang untuk menelusuri lagi sejarah dan apa yang mereka temukan ternyata berbeda dengan apa yang dipropagandakan Orde Baru. Pak Asvi misalnya, mengatakan bahwa secara organisasi PKI belum tentu terlibat dalam peristiwa itu. Itulah sebabnya kata "PKI" kemudian tidak dicantumkan lagi beriringan dengan kata "G30S" di sejumlah buku sejarah.

Namun, setelah SBY jadi presiden hilangnya kata "PKI" ini digugat oleh orang Partai Golkar (Agung Laksono), sampai kemudian terjadi aksi pembakaran buku yang dilakukan orang Partai Keadilan Sejahtera itu (Nur Mahmudi) dan orang-orang Kejaksaan.

Artinya, sejarah sedang dicoba untuk dibelokkan lagi.

Kita menentang tindakan pembakaran ini, karena yang mereka lakukan adalah jelas-jelas fasis dan anarkis. Mereka membakar buku, bukan karena iseng, tetapi politis. Apa target politik mereka? Memberangus kebebasan berpikir dan berekspresi. Memberangus sikap kritis dan perbedaan. Oleh sebab itu, kita lawan dengan sekuat tenaga. Setelah ini entah buku macam apalagi yang mereka anggap harus dibakar. Kalau mereka merasa membakar buku belum puas, maka mereka sudah pasti akan membakar manusianya.  

Tak jauh-jauh, dalam urusan sastra misalnya, ada Sastrawan Ode Kampung. Pernyataan sikap yang mereka tulis sangat lucu. Anti dominasi komunitas, tetapi komunitas yang mendominasi tak disebut namanya. Mereka melawan dominasi dengan cara memfitnah. Mereka pengecut! Ada pernyataan anti-imperialisme juga di situ, tetapi terkesan sumbang dan dipaksakan. Mereka melancarkan sentimen pribadi dengan mengatasnamakan anti-imperialisme! Sangat konyol! Tetapi juga berbahaya.

Belum lama ini saya bertanya pada salah seorang dari mereka, "Apa target akhir dari gerakan ini? Memusnahkan komunitas yang dianggap mendominasi?" Orang itu tak menjawab sms saya. Saya katakan pada orang tersebut bahwa ketika di awal-awal kejatuhan Soeharto dulu, Partai Golkar sempat dituntut untuk dibubarkan, tetapi saya dan teman-teman saya yang setengah mati sebelnya dengan Golkar tidak mendukung tuntutan itu. Mengapa? Di alam demokrasi, tak boleh ada tindakan pemberangusan terhadap orang maupun lembaga atau apa pun juga. Bila mereka salah dan kita punya bukti-bukti, ajukan ke pengadilan. Memang menyebalkan, karena pengadilan kita korup, dan berdemokrasi ternyata membuat kita harus menahan mangkel. Tetapi dengan demikian, kita menjadi manusia, bukan binatang.

Jadi katakan pada Arya bahwa pembakaran buku tanpa kata "PKI" itu hanyalah salah satu contoh tindakan fasis dan anarkis yang kita lawan.

Kita tidak membela PKI, tetapi kita membela demokrasi. Kita ingin menegakkan kebebasan sipil.

Kalau Arya ingin membela orang-orang yang dibakar bukunya oleh Pram dan kawan-kawannya sekarang, yaaaa... agak nggak nyambung juga sih. Seharusnya dia lakukan itu di masa Soekarno berkuasa. Soekarno pun sudah wafat. Waktu itu Arya juga belum lahir. Terus apa tanggapan Arya terhadap buku-buku Pram yang dirampas tentara dan dibakar, terus rumah Pram yang sampai sekarang masih disita tentara? Arya harus belain juga, dong.

Lagipula, bilang sama Arya bahwa tentara dan organisasi massa Islam yang dimobilisasi tentara pada tahun 1965 sudah membalas aksi pembakaran buku Pram dan kawan-kawannya dengan membunuh sekitar tiga juta orang yang disebut PKI. Balasannya sudah cukup dahsyat tuh.

Apa itu masih kurang jumlahnya dan belum puas juga? Huh!

Salam dari Aceh,
Linda Christanty

Wandy N. Tuturoong soal Kritik Arya Gunawan

Sederhana saja, bagi saya. Kalau ada pernyataan berikutnya yang harus kita buat berkaitan dengan kasus pembakaran buku, pasti akan saya masukkan fakta pembakaran buku oleh PKI itu.

Lalu, kita bicara kejadian yang terjadi baru-baru ini -- yaitu pembakaran buku oleh kejaksaan serta walikota. Sebuah peristiwa yang terjadi pada saat kita semua masih hidup, di saat ini.

Apakah bisa diselesaikan dengan cara begitu? Maukah para pengkritik ini ikut menandatangani?

Sudah ada "pembakar buku" di depan mata. Ayo berbuat sesuatu!

Salam anti pembakaran buku --oleh PKI ataupun PKS.

Wandy N. Tuturoong
Komunitas Utan Kayu

Kritik Arya Gunawan terhadap Pernyataan Sikap


Yang mengherankan saya adalah: tak satupun di antara penyusun naskah pernyataan tersebut yang ingat akan fakta penting mengenai pembakaran buku oleh Pram dan Lekra (lihat, misalnya, buku Prahara Budaya yang disusun Taufiq Ismail dan DS Moeljanto). Lebih heran lagi karena di antara nama para penandatangan tercantum pula mereka-mereka yang sangat mustahil lupa pada fakta penting tersebut. Misalnya saja Mas GM, yang notabene adalah salah satu “korban” serangan Pram dan Lekra, juga sejarawan Asvi Warman. Atau jangan-jangan para penandatangan ini tidak membaca draf naskah pernyataan tersebut? Kalau ini yang terjadi, maka situasinya menjadi lebih aneh lagi.

Sebagian kita tentu tahu, belakangan ini Mas GM memang sudah memaafkan kesalahan Pram dan Lekra. Namun bukan berarti fakta sejarah tersebut harus dilupakan. Let us forgive, but not forget. Konteks surat pernyataan tersebut sebetulnya sangat tepat untuk kembali mengingatkan kita semua bahwa jauh sebelum Nurmahmudi dan lain-lain melakukan “kekerasan intelektual” lewat aksi pembakaran buku sejarah, yang tak mencantumkan kata “PKI” itu, PKI sendiri sudah mempelopori gerakan tersebut (mungkin pada masa itu PKI berkaca pada rezim Nazi Hitler lewat aksinya di tahun 1930-an yang dikutip oleh surat pernyataan tersebut).

Tidak tercantumnya perilaku Pram dan Lekra termasuk dalam pengabaian fakta (omission of facts), dan omission of facts dapat mengarah pada kekeliruan dalam pengambilan kesimpulan. Ataukah memang ada mekanisme bawah sadar untuk mengingkari fakta tentang Pram dan Lekra tersebut, dengan setidaknya dua alasan?

Pertama, Pram telah menempati posisi yang begitu tinggi sehingga mengungkit kembali perilakunya membakari buku-buku lawan ideologisnya pada masa itu dapat menggerus posisi terhormatnya. Kedua, jika Pram dijadikan sebagai contoh maka akan tersajilah potret yang lumayan ironis: Nurmahmudi dan lain-lain membakari buku karena terkait dengan hilangnya kata "PKI" dalam buku-buku itu, sedangkan Pram yang pernah dihukum karena disebut-sebut terkait PKI ternyata pernah pula melakukan tindak pembakaran yang sama.

Akhirulkalam, pengabaian fakta Pram dan Lekra tadi lalu pada saat yang sama dengan cepat mengingat perbuatan rezim Nazi Hitler yang jauh secara georafis dan waktu, ibarat pepatah lama kita: semut di seberang laut kelihatan, gajah di pelupuk mata tak tertampak. Atau kita memang takut menepuk air di dulang lantaran tak ingin terpercik muka sendiri?

-- Arya Gunawan


Arya Gunawan seorang warga Depok, dimana buku-buku pelajaran sejarah dibakar, bekerja sebagai staf UNESCO sektor komunikasi dan informasi, pernah bekerja sebagai wartawan Kompas dan BBC London. Arya mengatakan dia simpatisan Partai Keadilan Sejahtera serta memilih Nurmahmudi Ismail dari PKS sebagai walikota Depok. Nurmahmudi ikut membakar buku-buku pelajaran sejarah.

Pernyataan Sikap atas Pembakaran Buku
Pertemuan Pers Melawan Pembakaran Buku
Dukungan Mengalir, Melawan Pembakaran Buku
Arif Harsana dari Vorstand South East Asia Information
Sonny Mumbunan dari Universität Leipzig

Thursday, August 09, 2007

Sonny Mumbunan Protes Bakar Buku

Meski agak telat, saya ingin mendukung protes pembakaran buku-buku sejarah.

Bahwa isi buku keliru atau benar, adalah satu hal. Tapi membakar buku adalah soal yang lain. Menulis pendapat tandingan -melalui buku- adalah, antara lain, jalan keluar. Isi buku semestinya ditandingi atau dilawan dengan isi, dengan kontestasi, melalui kekuatan argumentasi.

Pembakaran tulisan-tulisan kritis Martin Luther secara masal di awal abad 16 atau, yang jauh lebih dramatis, pembakaran buku-buku kritis (literatur, seni, sejarah, filsafat, dll), yang digolongkan sepihak sebagai "tidak Jerman" oleh Nazi di beberapa kota Jerman, selang Mei sampai Juni 1933, adalah beberapa contoh sejarah pembakaran buku di Jerman.

Sungguh disayangkan, bila tindakan "fasistik" itu berlangsung di tanah air paska liberalisasi politik 1998 atas buku-buku ajar bidang sejarah. Saya mengutuk keras pembakaran buku.

Sonny Mumbunan
Heinrich Boell Fellow dan PhD Student, Universität Leipzig
Mahasiswa master ekonomi empirik Martin-Luther-Universitaet Halle-Witenberg

Pernyataan Sikap atas Pembakaran Buku
Pertemuan Pers Melawan Pembakaran Buku
Dukungan Mengalir, Melawan Pembakaran Buku
Arif Harsana dari Vorstand South East Asia Information

Arif Harsana soal Pembakaran Buku di Depok

Rekan-rekan sekalian yang budiman,

Mencermati perkembangan situasi di Tanah Air akhir-akhir ini, saya merasa khawatir dan prihatin tentang ancaman terhadap kehidupan demokrasi yang masih baru tumbuh bertunas dan perlu perlindungan dari semua kita yang mengidamkan tegaknya HAM dan Demokrasi di Indonesia.

Pembakaran buku dan pemusnahan arsipm yang dilakukan secara terang-terangan tidak tahu malu oleh aparat negara di Depok baru-baru ini adalah suatu perbuatan terkutuk, yang hanya mencerminkan kebiadaban para pelakunya. Mereka ini tidak sadar bahwa tingkah laku fasis yang memuakkan itu membikin cemar bangsa Indonesia dihadapan pergaulan dunia.

Saya sependapat dengan tulisan bung Waruno Mahdi, yang menyebutkan, "Pemusnahan arsip dan perpustakaan itu berarti penghapusan bagian daripada sejarah dan kebudayaan bangsa, adalah tindakan kebiadaban yang merongrong asas-asas peradaban."

Kita masih ingat pembakaran buku-buku karya Pramudya Ananta Toer beserta dokumen-dokumen arsip penting yang dipinjam dari perpustakaan negara pada awal kelahiran kekuasaan rezim fasis Suharto. Sedemikian hinanya perbuatan seperti itu, sehingga orang, yang paling dungu sekalipun, kadang masih tahu malu dan menyembunyikan identitasnya ketika berbuat ketololan seperti itu.

Lain halnya dengan para pejabat resmi di Depok, yaitu Bambang Bachtiar, kepala Kejaksaan Negeri Depok, Nurmahmudi Ismail, walikota Depok, Asep Roswanda, kepala Dinas Pendidikan Depok, orang-orang ini malah bangga atas perlakuannya, yang menghinakan martabat bangsa itu.

Saya setuju dan mendukung sepenuhnya isi dari "Pernyataan Sikap atas Pembakaran Buku Sejarah", yang dipublikasikan
oleh Masyarakat Pencinta Buku Dan Demokrasi.

Salam Solidaritas,

Arif Harsana
Koordinator FEID (Forum Eropa Indonesia untuk Demokrasi)
Vorstand SOAI (South East Asia Information) Germany

Pernyataan Sikap atas Pembakaran Buku
Pertemuan Pers Melawan Pembakaran Buku
Dukungan Mengalir, Melawan Pembakaran Buku
Sonny Mumbunan dari Universität Leipzig

Wednesday, August 08, 2007

“The man who reads nothing at all is better educated than the man who reads nothing but newspapers."

-- Thomas Jefferson (1743 - 1826)


Dermaga Ipi dan Bitta Beach di kota Ende. Kota mungil, menawan, bertahan dari militerisme Indonesia. News designer Yusuf merekam kemolekan Bitta Beach ketika dia melatih redaksi harian Flores Pos di Ende awal tahun ini bersama Yayasan Pantau


Protes Melawan Pembakaran Buku
Indonesia membakar ratusan ribu buku-buku pelajaran sekolah. Ini pertama kali dalam sejarah Indonesia, maupun Hindia Belanda, dimana buku sekolah disita dan dibakar.

Aboeprijadi Santoso Pensiun
Wartawan terhormat dari radio Hilversum, membongkar kepalsuan Deklarasi Balibo, ketika beberapa tokoh Timor Timur pada November 1975, diminta teken dokumen minta integrasi dengan Indonesia.

Mug Bill Kovach
Sandy Pauling dari rumah disain H2O merancang lima mug Pantau dengan quotation dari Bill Kovach. Anda suka yang mana?

Debat Sastra dan Pornografi
Pengarang Hudan Hidayat berdebat dengan penyair Taufiq Ismail soal maraknya pornografi serta kebebasan berekspresi dalam sastra.


Masalah dalam Proyek Seabad Pers Indonesia
Kapan sebenarnya "pers Indonesia" dimulai? Indexpress pimpinan Taufik Rahzen menetapkannya 1907 ketika Tirto Adhi Soerjo menerbitkan Medan Prijaji dengan alasan dia pribumi?

Indonesia: A Lobbying Bonanza
Taufik Kiemas, when his wife Megawati Sukarnoputri was still president, collected political money to hire a Washington firm to lobby for Indonesian weapons. This story is a part of a project called Collateral Damage: Human Rights and US Military Aid

Dari Sabang Sampai Merauke
Sejak Juli 2003, saya berkelana dari Sabang ke Merauke, guna wawancara dan riset buku. Intinya, saya pergi ke tujuh pulau besar, dari Sumatra hingga Papua, plus puluhan pulau kecil macam Miangas, Salibabu, Ternate dan Ndana. Inilah catatan kecil perjalanan tersebut.

Hoakiao dari Jember
Ong Tjie Liang, satu travel writer kelahiran Jember, malang melintang di Asia Tenggara. Dia ada di kamp gerilya Aceh namun juga muncul di Rangoon, bertemu Nobel laureate Aung San Suu Kyi maupun Jose Ramos-Horta.

State Intelligence Agency hired Washington firm
Indonesia's intelligence body used Abdurrahman Wahid’s charitable foundation to hire a Washington lobbying firm to press the U.S. Congress for a full resumption of military assistance to Indonesia. Press Release and Malay version

From the Thames to the Ciliwung
Giant water conglomerates, RWE Thames Water and Suez, took over Jakarta's water company in February 1998. It turns out to be the dirty business of selling clean water.

Media dan Jurnalisme
Saya suka menulis soal media dan jurnalisme. Pernah juga belajar dengan asuhan Bill Kovach dari Universitas Harvard. Ini makin sering sesudah diminta menyunting majalah Pantau.

Bagaimana Cara Belajar Menulis Bahasa Inggris
Bahasa punya punya empat komponen: kosakata, tata bahasa, bunyi dan makna. Belajar bahasa bukan sekedar teknik menterjemahkan kata dan makna. Ini juga terkait soal alih pikiran.

Dewa dari Leuwinanggung
Saya meliput Iwan Fals sejak 1990 ketika dia meluncurkan album Swami. Waktu itu Iwan gelisah dengan rezim Soeharto. Dia membaca selebaran gelap dan buku terlarang. Dia belajar dari W.S. Rendra dan Arief Budiman. Karir Iwan naik terus. Iwan Fals jadi salah satu penyanyi terbesar yang pernah lahir di Pulau Jawa. Lalu anak sulungnya meninggal dunia. Dia terpukul. Bagaimana Iwan Fals bangkit dari kerusuhan jiwa dan menjadi saksi?

Dukungan terhadap Protes Bakar Buku


Dukungan terhadap Pernyataan Sikap atas Pembakaran Buku Sejarah, yang diluncurkan di Taman Ismail Marzuki, Selasa kemarin, ternyata diikuti oleh cukup banyak orang. Mereka mengirim email ke tempat saya, minta mereka diikutkan melawan pembakaran buku.

Saya kebetulan saja menerima email ini. Mungkin karena alamat email saya dicantumkan dalam beberapa mailing list. Namun saya dengan senang hati mengumumkan orang-orang yang juga tak setuju dengan pembakaran buku oleh kejaksaan-kejaksaan di seluruh Indonesia. Mulai dari Semarang hingga Kendari, dari Samarinda hingga Kupang.

Wartawan, tampaknya, termasuk golongan yang banyak marah terhadap pembakaran buku oleh Kejaksaan Agung. Mungkin pekerjaan wartawan, termasuk saya, sering diselingi, atau dilanjutkan, dengan pekerjaan menulis buku. Ignatius Haryanto, anggota Aliansi Jurnalis Independen, yang pernah menulis buku soal harian Indonesia Raja, menulis, “Bangsa kita perlu banyak belajar soal sejarah, pun kalau pahit dirasakan oleh beberapa pihak. Tetapi lebih banyak pihak lain yang harus bisa menimba suatu pelajaran dari sejarah masa lalu. Dari masa lalu lah kita bisa belajar tentang masa depan. Kita dengan ingatan yang pendek, akan mudah tersesat di masa depan.”

Protes juga datang dari luar negeri Indonesia. “Yang pasti sejarah kita selama lebih 40 tahun, sudah tidak ada yang bener, sudah dimanipulasi oleh penguasa Orba, jadi perlu diluruskan, dicatat-ulang agar lebih mendekati dengan kenyataan sesungguhnya yang terjadi,” kata Chan CT dari Hong Kong Society for Indonesian Studies.

“Saya mendukung Pernyataan Sikap Terhadap Pembakaran Buku. Saya anti pembakaran buku!” kata pengarang Putu Oka Sukanta.

“Catatan adalah pintu gerbang peradaban. Meski pun demikian adanya, salah atau benar, namun itulah yang tercatat. Memusnahkan buku berarti menutup kemungkinan untuk melewati sebuah fakta kebenaran sejarah. Untuk itu saya sepakat dengan penolakan terhadap aksi yang dilakukan pemerintah terhadap buku-buku sejarah. Semoga demokrasi di negeri ini bisa berdiri dengan ketulusan dan kelapangan hati,” tulis penyair Hujan.

Pandu Ganesa, penggagas Paguyuban Karl May Indonesia, yang menterjemahkan dan menerbitkan serial karangan Karl May, mengatakan pada saya, “Buku-buku Karl May memang pernah dilarang di Jerman Timur, semasa periode pemerintahan sosialis-komunis, tapi tidak ada yang dibakar.”

Ada juga dukungan dari lembaga. Dominggus Oktavianus, atas nama pribadi dan Dewan Pimpinan Pusat Partai Persatuan Pembebasan Nasional (DPP PAPERNAS) menyatakan, “Kami siap terlibat bersama rekan-rekan lain dalam agenda perjuangan mempertahankan dan merebut demokrasi.”

Syarikat Indonesia secara kelembagaan menyatakan dukungan menolak pembakaran buku-buku pelajaran sejarah, hanya kaum jahiliyah saja yang melakukan penghinaan moral dan intelektual semacam ini. Bisa dicantumkan Mohamad Imam Aziz, Pengasuh Syarikat Indonesia dan R. Setyadi Kordinator Divisi Informasi dan Dokumentasi Syarikat Indonesia.” Mereka juga mencantumkan alamat lengkap: Syarikat Indonesia, Perum Demakan Baru, Gang Kamboja No. 757 TR III, Yogyakarta.

Sejarawan Asvi Warman Adam, yang jadi ujung tombak protes pembakaran buku, Kamis lusa, 9 Agustus 2007 pukul 13-14.30, akan berdebat dengan Jaksa Agung Abdul Rachman Saleh, yang melarang buku-buku tertentu pelajaran anak sekolah di Kedai Utan Kayu, Jalan Utan Kayu 68 H, Jakarta. Debat ini akan disiarkan langsung oleh Kantor Berita Radio 68H.

Saya cantumkan nama-nama orang, maupun identifikasi mereka, yang ikut mendukung protes terhadap pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membakar buku-buku pelajaran sekolah. Nama-nama lembaga hanya untuk keperluan identifikasi, penandatangan ini tak ada kaitan dengan lembaga:

A. Supardi Adiwidjaya (wartawan harian Rakyat Merdeka di Belanda)
Bismo D. Gondokusumo (ekonom tinggal di Praha, Republik Czech)
Chan CT (ketua Hong Kong Society For Indonesian Studies)
Christianto Wibisono (chairman The Global Nexus Institute - Jakarta)
Dandhy Dwi Laksono (koordinator liputan RCTI, dari Ohio)
Darmaningtyas (Institute for Transportation and Development Policy)
Dominggus Oktavianus (Partai Persatuan Pembebasan Nasional)
Erwanto (warga Aceh, bantu ICCO dan KerkinActie di Belanda)
Estu Fanani (aktivis LBH APIK Jakarta)
Fadjar Sitepu (penyair, tinggal di Stockholm)
Fransisca Ria Susanti (wartawati, tinggal di Hong Kong)
Frfiya Andina Radio (wartawan, Nederland Wereldomroep, Hilversum)
Gunawan Hartono (anggota PDI Perjuangan, Yogyakarta)
Hadi Winarto (produser program dokumenter Oasis Metro TV)
Asahan Alham Aidit (novelis "Perang dan Kembang")
Ignatius Haryanto (wartawan, menulis buku harian Indonesia Raja)
Imron Rosyid (asal Boyolali, reporter Tempo di Solo)
Joss Wibisono (wartawan Amsterdam, menulis fasisme Indonesia)
N.D Arini (anggota Solidaritas Perempuan Jogjakarta)
Pandu Ganesa (editor buku-buku Karl May versi Indonesia)
Putu Oka Sukanta (direktur Yayasan Taman Sringanis Jakarta)
Siti Faiza Mardzoeki (sutradara Nyi Ontosoroh, tinggal di Jakarta)
Wielsma DK. Baramuli (dosen Universitas Pelita Harapan, Tangerang)
Yuyun Mega Lestari (translator, PT Ina Publikatama Jakarta)

Gus Dur Kecam Pembakaran Buku
Pertemuan Pers Melawan Pembakaran Buku
Pernyataan Sikap atas Pembakaran Buku
Dukungan Mengalir, Melawan Pembakaran Buku
Arif Harsana dari Vorstand South East Asia Information
Sonny Mumbunan dari Universität Leipzig
Aliansi Jurnalis Independen Protes Pembakaran
Kritik Arya Gunawan terhadap Pernyataan Sikap
Wandy Tuturoong Menjawab Arya Gunawan
Linda Christanty Menjawab Arya Gunawan
Jane Pangemanan dari Universitas Sam Ratulangi
Arya Gunawan Menjawab Linda Christanty
Arya Gunawan soal Nurmahmudi Ismail
Aboeprijadi Santoso Menanggapi Arya Gunawan

Jurnalis Desak Jaksa Berhenti Bakar Buku

ALIANSI JURNALIS INDEPENDEN

Nomor : 022/AJI-Adv/Siaran/VIII/2007
Perihal : Siaran Pers untuk disiarkan

URGENT : STOP Pembakaran dan Pemusnahan Buku Sejarah

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) MENGUTUK KERAS tindakan pembakaran buku sejarah yang dilakukan aparat pemerintah di sejumlah kota di Indonesia. Seperti tampak pada rekaman berita SCTV yang disiarkan dalam ajang pertemuan peminat sejarah dan jurnalis di Taman Ismail Marzuki (7/8), aparat kejaksaan dan pegawai negeri di kota Semarang dan Samarinda sedang membakar buku. SCTV merekam gambar aparat pemerintah menghancurkan, membakar dan merobek-robek buku sejarah yang sebagian isinya dinilai "tidak benar". Yakni diantaranya karena tidak memuat tulisan "G-30-S/PKI" , melainkan hanya menulis "G-30-S" (tanpa PKI) pada tulisan peristiwa Gerakan 30 September 1965 di Indonesia.

Penyitaan buku sejarah kurikulum 2004 didasarkan pada Surat Keputusan Kejaksaan Agung Nomor 019/A-JA/10/ 2007 tanggal 5 Maret 2007 tentang pelarangan buku sejarah tahun 2004 dan Surat Perintah Kejaksaan Agung Nomor Ins. 003/A-JA/03/ 2007 tentang instruksi penarikan buku sejarah kurikulum 2004 dari wilayah Indonesia. Padahal buku sejarah itu ditulis dan diterbitkan oleh sejarawan dan perusahaan yang jelas dan bertanggung jawab. Buku-buku itu juga disusun berdasarkan kurikulum 2004, dimana pemerintah ikut bertanggung jawab karena dalam kurikulum tidak mengatakan harus menyebut G30S/PKI.

SK pelarangan Kejakgung ini kemudian dieksekusi oleh kantor-kantor kejaksaan negeri (Kejari) di sejumlah kota. Kejaksaan Negeri Kota Depok misalnya telahmemusnahkan 1.247 buku sejarah kurikulum 2004 hasil penyitaan dari lima SMP dan tiga SMA di wilayah Depok. Demostrasi pemusnahan buku sejarah itu dilakukan oleh Kepala Kejaksaan Negeri Depok Bambang Bachtiar, Walikota Depok Nurmahmudi Ismail, dan Kepala Dinas Pendidikan Depok Asep Roswanda dengan cara dibakar.

AJI menilai penyitaaan dan pembakaran buku-buku pendidikan yang "tidak sesuai dengan selera penguasa" merupakan bentuk kebodohan struktural dan vandalisme yang nyata. Tindakan itu juga bertentangan dengan hak-hak dasar warga negara seperti kebebasan menyatakan pikiran dan pendapat (secara lisan/tulisan) , juga kebebasan memperoleh, memiliki, dan mengolah informasi (Pasal 28E dan 28F, UUD 1945).

Sederet tokoh seperti Asvi Warman Adam (sejarawan), Goenawan Mohamad (jurnalis dan penulis), Franz Magnis Suseno (dosen ilmu filsafat), Ariel Heryanto (kolumnis dan dosen ilmu politik), Marco Kusumawijaya (arsitek/ketua DKJ), Ganjar Pranowo (politisi PDI-P), M Ridha Saleh (Komnas HAM), Setia Dharma Madjid (ketua IKAPI), dan banyak lagi, sebelumnya telah memprotes tindakan perampasan dan pemusnahan buku sejarah kurikulum 2004 oleh aparat Kejaksaan Negeri.

AJI mengutuk penyitaan buku dari sekolah-sekolah, karena tindakan itu merupakan teror terhadap dunia pendidikan, sama dengan memberangus isi pikiran seseorang, menyerimpung kebebasan pendapat dan kebebasan akademik yang dijamin Konstitusi.

AJI mengecam tindakan penggerebekan terhadap kantor penerbit buku sejarah 2004 seperti halnya pemberangusan terhadap bandar narkoba. Tindakan yang mengklaim sebagai nasionalis dan anti-komunis itu sejatinya telah meniru cara pemberangusan buku ala rejim komunis di Cina atau tokoh penguasa fasis seperti Mussolini dan Adolf Hitler yang membakar buku-buku di Berlin pada masa Perang Dunia Pertama.

AJI menilai negara telah melanggar hak warga negara untuk mendapat informasi dan melanggar hak warga negara untuk memperoleh pendidikan secara demokratais dan manusiawi. Pada saatnya, bukan tidak mungkin negara akan memberangus kebebasan berpikir dan mungkin kebebasan pers.

Untuk itu, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menyatakan sikap sbb :

- Meminta Presiden RI agar menegur aparatur pemerintah terkait agar tidak melakukan tindakan represif-inkonstitusional, yang tidak mencerminkan citra pemerintahan yang demokratis dan mampu melindungi hak-hak dasar warga negara

- Menuntut Kejaksaan Agung RI berikut aparat di bawahnya untuk menghentikan tindakan penyitaan dan pembakaran buku pelajaran sejarah secara demonstratif dan tidak manusiawi, serta mencabut Surat Keputusan tentang pelarangan buku sejarah nasional yang "tidak sesuai dengan selera penguasa".

- Mengajak jurnalis dan kalangan masyarakat Indonesia untuk kembali kepada falsafah negara Pancasila, semangat Bhineka Tunggal Ika, dan UUD 1945 yang telah terbukti menyatukan bangsa, mengakui dan melindungi perbedaan, serta mengakui demokrasi sebagai sistem pemerintahan negara Indonesia.

Jakarta, 8 Agustus 2007

Ketua Umum Heru Hendratmoko
Koordinator Divisi Advokasi Eko Maryadi


Pernyataan Sikap atas Pembakaran Buku
Pertemuan Pers Melawan Pembakaran Buku
Dukungan Mengalir, Melawan Pembakaran Buku
Arif Harsana dari Vorstand South East Asia Information
Sonny Mumbunan dari Universität Leipzig

Book burning a 'bonfire of liberty'

The Jakarta Post
Wednesday, August 8, 2007

While the recurrence of book burnings across the country shows the mind-set of Indonesia's past dictatorship lingers on, activists have joined forces to show that the spirit of reform, too, is not yet dead.

Politicians, publishers and academics banded together Tuesday to protest the government-backed burning of school textbooks questioning the official narrative of the failed 1965 coup, an event long blamed on Communists by Soeharto's regime and used as a stepping stone in his own rise to power.

Academics blasted the burnings, aimed at reinforcing the official line, as coming at a time when thousands of school children could not even afford school text books.

The books had been singled out for destruction for failing to clearly identify the so-called Sept. 30 Movement, comprising members of the Indonesian Communist Party (PKI), as the sole perpetrator of the 1965 coup.

In the last two months, over 30,000 junior high and high school textbooks were put to the torch by local Attorney General's Offices in West Java, South Sulawesi and Central Java, with the blessing of the national Attorney General's Office.

Activists, grouped under the moniker the Community of Book and Democracy Lovers, used a Tuesday meeting to denounce the burnings as a "bonfire of liberty".

Article 27 of the 1999 law on crimes against the state empowers the Attorney General's Office to confiscate and destroy books and other materials which are perceived to either support the PKI or propagate Marxist teachings.

Ganjar Pranowo, secretary of the Indonesian Democratic Party of Struggle (PDI-P) faction in the House of Representatives, said the burnings were an act of government "stupidity".

"Why do they have to be burned?" he asked.

Franz Magnis-Suseno of the Driyarkara School of Philosophy said the public had to be given the freedom to work out historical events for themselves, saying it was a key component of nation-building.

Magnis-Suseno called for "bravery" in dealing with the ambiguities of the country's darkest moments, including the events surrounding Sept. 30, 1965.

He warned against omitting important voices, noting that "history is often written by those who are in power".

"The book burnings show us (the government) is incapable of dealing with events intellectually.

"Leaders are supposed to set examples, but instead they have approached this in a very primitive manner," Magnis-Suseno said.

National Commission on Human Rights (Komnas HAM) member M. Ridha Saleh said the book burning violated the people's right to the truth.

Setia Dharma Madjid, chairman of the Association of Indonesian Publishers (IKAPI), said the government could deal with the situation in better ways than burning books.

"The government could have just asked the publishers to correct the mistakes," he said.

He said the government itself should also bear responsibility for the textbooks failing to toe the Soeharto-era line because "the 2004 curriculum did not mention the PKI (as the instigator of the 1965 coup)".

Marco Kusumawijaya, chairman of the Jakarta Arts Council, said the burnings were a form of terror against the fundamental rights of free thought and expression.

"This can be categorized as state violence," he said.

Buku Sejarah: Pelarangan Perlu Dihentikan

Jakarta, Kompas - Pelarangan dan pembakaran buku-buku yang dinilai "bermasalah" oleh pemerintah harus dihentikan. Pemerintah seharusnya memberi contoh baik dalam mengatasi perbedaan pemikiran dan pendapat dengan mengutamakan akal sehat. Ini bermanfaat untuk membangun budaya bangsa yang menghargai kebebasan berpikir atau berekspresi.

Pernyataan yang didorong kejadian pelarangan dan pembakaran buku-buku teks Sejarah untuk SMP/SMA/sederajat di berbagai kota itu disampaikan Masyarakat Pencinta Buku dan Demokrasi di Jakarta, Selasa (7/8). Mereka, antara lain Franz Magnis-Suseno dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Ganjar Pranowo Sekretaris Fraksi PDI- P DPR, Ayu Utami mewakili penulis, Ketua Ikatan Penerbit Buku Indonesia Setia Darma Madjid, Marco Kusumawijaya sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta, dan M Ridha Saleh dari Komnas HAM.

Marco mengatakan, tindakan pembakaran buku merupakan kekerasan negara terhadap kebebasan mengekspresikan seni, pikiran, dan budaya. Franz Magnis mengatakan, kontroversi dalam sejarah itu hal biasa. Yang dibutuhkan, yaitu kebesaran hati untuk mau menerima kebenaran sejarah. "Sejarah itu memang pro-kontra. Bangsa ini harus belajar menghargai hal yang tak disetujui dengan cara baik. Ini akan mendidik anak bangsa untuk dewasa mengambil sikap di tengah perbedaan," katanya.

Mereka geram melihat pembakaran buku Sejarah yang masih dilakukan pada era Reformasi ini, apalagi itu dilakukan pejabat kejaksaan, dinas pendidikan, dan wali kota yang seharusnya bisa mendidik masyarakat untuk menghargai demokrasi.

Atas dasar akal sehat dan demokrasi, mereka menuntut permintaan maaf secara terbuka dari para pelaku pembakaran buku Sejarah di berbagai kota. Tindakan itu bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. Pemerintah di semua tingkatan diminta membuka dialog.(ELN/NWO)

Tuesday, August 07, 2007

Pertemuan Protes Pembakaran Buku di Jakarta

Oleh Andreas Harsono


JAKARTA -- Lebih dari seratus orang hadir di Taman Ismail Marzuki Selasa ini untuk protes penyitaan dan pembakaran ratusan ribu buku-buku pelajaran sekolah oleh pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dengan ujung tombak kejaksaan-kejaksaan negeri, di seluruh Indonesia.

Franz Magnis Suseno, dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, mengatakan kepada hadirin bahwa tindakan membakar buku adalah perbuatan barbar, perbuatan yang anti peradaban. “Barbarisme ini jangan dibiarkan tanpa ditantang,” kata Suseno.

Dibakarnya buku-buku pelajaran sejarah, menurut Suseno, merusak upaya dibangunnya suatu pemahaman akan “bangsa Indonesia” dengan benar, tanpa kebohongan. Nation-building, mengutip almarhum Presiden Soekarno, takkan jalan baik bila ingatan akan sejarah dimanipulasi. “Kalau sejarah itu bohong, kebangsaan itu akan terganggu serius,” kata Suseno.

Novelis Ayu Utami (separuh terlihat), arsitek Marco Kusumawijaya, pastor Franz Magnis Suseno, politikus Ganjar Pranowo, penerbit Setia Darma Madjid dan M. Ridha Saleh dari Komnas HAM protes pembakaran buku-buku sekolah.


Suseno mengatakan penulisan sejarah memang ada ambiguitas namun orang muda harus belajar. “Apakah PKI terlibat, itu belum jelas. Namun yang objektif, nama Gerakan 30 September adalah nama yang dipilih oleh gerakan (Letnan Kolonel Untung) itu sendiri,” kata Suseno.

Salah satu alasan pelarangan dan pembakaran buku adalah tak dicantumkannya kata "PKI" dalam idiom "G30S/PKI." Gerakan 30 September adalah penculikan dan pembunuhan beberapa jenderal Angkatan Darat oleh Letkol Untung dan kawan-kawan pada dini hari 1 Oktober 1965. Rencananya, mereka dibawa ke Presiden Soekarno dengan tuduhan hendak melakukan kudeta. Partai Komunis Indonesia dituduh secara luas terlibat dalam gerakan ini. Ia lantas jadi perdebatan ketika bukti-bukti lain muncul, yang mempertanyakan "sejarah" resmi versi Orde Baru.

Pertemuan dilakukan dalam satu ruangan luas, yang biasa dipakai untuk pertunjukan sandiwara. Ada satu meja panel dimana duduk Suseno, novelis Ayu Utami, politikus Ganjar Pranowo (sekretaris Fraksi PDI-Perjuangan DPR), penerbit Setia Darma Madjid (ketua Ikatan Penerbit Buku Indonesia), arsitek Marco Kusumawijaya (ketua Dewan Kesenian Jakarta), serta M. Ridha Saleh dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia.

Dekat panel ada satu layar lebar menayangkan gambar-gambar rekaman SCTV tentang pembakaran buku di Semarang, Samarinda dan sebagainya. SCTV merekam para pegawai negeri merobek-robek buku sejarah. Ada yang dihancurkan lewat mesin penghancur kertas. Ada yang diletakkan dalam tong kosong, dibelah separuh, lalu disulut dengan api. Ada juga keterangan pers yang direkam dan disiarkan SCTV. Kebanyakan para pembakar berseragam coklat muda, seragam kejaksaan Indonesia.

Penerbit Setia Darma Madjid menyatakan kekesalannya pada pembakaran ini. Madjid mengatakan larangan buku-buku, yang tak mencantumkan kata “G30S/PKI,” baru muncul pada Maret lalu oleh Jaksa Agung Abdul Rachman Saleh. Pada bulan April, organisasinya mengirim surat kepada Jaksa Agung namun tak ditanggapi karena Presiden Yudhoyono lebih dulu memberhentikan Abdul Rachman Saleh.

Pada bulan Juni, organisasinya kembali mengirim surat, kali ini Jaksa Agung Hendarman Supandji, minta agar keputusan itu diralat. Hal yang dianggap memberatkan, bisa saja, ditempeli kertas kecil, atau kalau memang tak tertolong, para penerbit bisa menyimpannya di gudang. Madjid mengatakan perusahaan-perusahaan bisa menyimpan di gudang masing-masing.

Madjid mengatakan buku-buku itu ditulis dan diterbitkan oleh sejarawan dan perusahaan, yang jelas dan bertanggungjawab terhadap karya mereka. Buku-buku itu dibuat juga berdasarkan kurikulum 2004. “Pemerintah juga bertanggungjawab karena kurikulum itu tak mengatakan harus menyebut G30S/PKI,” katanya.

“Penerbit sekarang ini digerebek kayak bandar narkoba, ditayangkan di TV. Kesannya penerbit ini insan yang membelokkan sejarah,” kata Madjid.

Pertemuan dibuka oleh Marco Kusumawijaya, ketua Dewan Kesenian Jakarta, yang menyambut kedatangan cendekiawan, wartawan, seniman dan semua orang dalam protes terhadap pembakaran buku-buku pelajaran sejarah. Marco menyerukan orang-orang yang prihatin dengan pembakaran buku ini untuk bergerak dan menggunakan jalur-jalur hukum mencegahnya. DI layar juga ditunjukkan gambar-gambar ketika rezim Adolf Hitler membakar buku-buku di Berlin.

Pertemuan ini didahului oleh dibuatnya satu pernyataan protes pembakaran buku, yang ditandatangani oleh puluhan orang, antara lain, mantan presiden Abdurrahman Wahid, penulis Goenawan Mohamad maupun orang-orang yang bicara dalam pertemuan.

Di deretan pengunjung hadir orang-orang yang ikut mendukung petisi agar pemerintahan Yudhoyono minta maaf atas tindakan pembakaran buku ini. Di antaranya ada Daniel Dhakidae (penulis buku Cendekiawan dan Kekuasaan dalam negara Orde Baru), Hamid Basyaib (Freedom Institute), Hilmar Farid (sejarawan, Jaringan Kerja Budaya), Ariel Heryanto (kolumnis Kompas, dosen Universitas Melbourne) dan lainnya.

Ariel Heryanto didaulat bicara. Dia mengatakan pembakaran ini merupakan simbol bahwa reformasi sebenarnya "belum mulai." Mungkin hanya ilusi bila orang-orang beranggap reformasi sistem politik di Indonesia sudah terjadi sejak jatuhnya Presiden Soeharto pada Mei 1998. Dia juga bilang ada teori bahwa orang-orang ini, yang membakar buku, sudah baca sejarah rezim komunis Tiongkok. Rezim itu membakar banyak sekali buku, bukan hanya buku pelajaran tapi juga sastra dan lainnya. “Jangan-jangan yang membakar ini (di Indonesia) terlalu kagum pada komunis?” kata Ariel, tersenyum.

Ridha Saleh mengatakan pembakaran buku ini, dimana pemerintah menggerebek sekolah-sekolah guna mencari buku sejarah, adalah teror terhadap dunia pendidikan di Indonesia. “Negara telah melanggar hak orang untuk mendapat informasi yang benar,” kata Ridha.

Inilah peristiwa yang pertama kali terjadi di Indonesia dimana buku pelajaran sekolah dirampas dan dibakar negara. Dulu juga terjadi pembakaran, namun bukan buku pelajaran.

Ganjar Pranowo menilai pembakaran ini adalah “kebodohan pemerintah.” Tiap hari, politisi di Dewan Perwakilan Rakyat mendorong kenaikan anggaran pendidikan. Tapi di sisi lain, buku-buku pendidikan dibakar. “Ini tindakan yang bodoh,” kata Pranowo.

Laporan ini saya buat sambil saya duduk menikmati pembicaraan orang-orang di Taman Ismail Marzuki. Saya sendiri termasuk orang yang tak setuju pembakaran buku.

Gus Dur Kecam Pembakaran Buku
Pernyataan Sikap atas Pembakaran Buku
Dukungan Mengalir, Melawan Pembakaran Buku
Arif Harsana dari Vorstand South East Asia Information
Sonny Mumbunan dari Universität Leipzig

Aliansi Jurnalis Independen Protes Pembakaran
Kritik Arya Gunawan terhadap Pernyataan Sikap
Wandy Tuturoong Menjawab Arya Gunawan
Linda Christanty Menjawab Arya Gunawan
Jane Pangemanan dari Universitas Sam Ratulangi

Arya Gunawan Menjawab Linda Christanty
Arya Gunawan soal Nurmahmudi Ismail
Aboeprijadi Santoso Menanggapi Arya Gunawan
Putu Oka Mohon Memberikan Fakta
Goenawan Mohamad soal Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Menggugat Tuduhan Bakar Buku
Arya Gunawan Menjawab Bukti Bakar Buku
Roysepta Abimanyu soal Film Lekra
Arya Gunawan dan Prahara Budaya
Coen Husain Pontoh dari New York
Budi Setiyono Memberi Referensi soal Lekra

Pernyataan Sikap atas Pembakaran Buku Sejarah

"Where books are burned, human beings are destined to be burned too..."

-- Heinrich Heine


Pada 20 Juli lalu, Kejaksaan Negeri Depok membakar 1.247 buku sejarah, bahan pelajaran sekolah menengah pertama dan atas, karya guru-guru sejarah. Pembakaran ini dilakukan Kepala Kejaksaan Negeri Bambang Bachtiar, Kepala Dinas Pendidikan Asep Roswanda dan Walikota Nurmahmudi Ismail.

Penyitaan maupun pembakaran buku-buku sejarah ini juga terjadi di Bogor, Indramayu, Kendari, Kuningan, Kupang, Pontianak, Purwakarta dan kota-kota lain di Indonesia. Dasar hukumnya, menurut para jaksa, adalah keputusan Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh pada Maret 2007 dimana Kejaksaan Agung melarang buku-buku itu, yang dibuat dengan dasar kurikulum pendidikan tahun 2004. Mereka dituduh tak mencantumkan kata “PKI” dalam menerangkan Gerakan 30 September 1965. Penelitian terhadap isi buku-buku sejarah itu dilakukan Kejaksaan Agung atas permintaan Menteri Pendidikan Bambang Sudibyo.

Kami prihatin menyaksikan peristiwa ini. Kami belum tentu setuju dengan isi dari buku-buku itu. Namun kami tidak setuju pembakaran. Pembakaran buku ini mengingatkan kami pada pembakaran buku-buku yang dilakukan di Berlin dan berbagai kota lain di Jerman pada Mei 1933. Ketika itu, sambil menyanyikan lagu-lagu Nazi, para pendukung Adolf Hitler tersebut menghanguskan buku-buku karya Sigmund Freud, Albert Einstein, Thomas Mann, Jack London, HG Wells serta berbagai penulis lain. Buku-buku itu dianggap musuh Nazisme.

Kami menyayangkan peristiwa pelarangan dan pembakaran buku ini, yang bukan pertama kali terjadi di Indonesia. Membakar dan merusak buku, dengan dalih apapun, merupakan tindakan yang lebih berbahaya dan lebih biadab daripada sensor atau pelarangan. Sulit untuk tak menyamakan pembakaran buku-buku ini dengan apa yang telah dilakukan kaum Nazi. Sulit juga bagi kami untuk menyamakan tindakan pembakaran ini dengan semangat fasisme, yang anti demokrasi dan anti hak asasi manusia.

Pembakaran buku menunjukkan bahwa pelaku pembakaran tak dapat menerima perbedaan pandangan, sesuatu yang niscaya dalam demokrasi. Lebih dari itu, pembakaran buku juga merupakan bentuk teror, tindakan menakut-nakuti bagi orang yang hendak menulis buku, dalam perspektif yang berbeda dengan penguasa.

Membakar buku merupakan tindakan kaum fasis yang tak pernah toleran kepada pendapat lain. Benito Mussolini, tokoh Itali yang memperkenalkan fasisme, merangkan bahwa fasisme adalah segala sesuatu untuk memerangi sistem dan ideologi demokrasi, serta melawannya dalam aras teori maupun praktek.

Oleh karena itu, atas dasar akal sehat dan demokrasi, kami menyatakan:

PERTAMA, menuntut permintaan maaf secara terbuka para pelaku pembakaran buku sejarah di Depok dan kota-kota lain, atas tindakan mereka yang bertentangan dengan sila kedua dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

KEDUA, menuntut kepada pemerintah Indonesia di semua tingkatan, terutama jajaran kejaksaan, untuk tak lagi menyikapi perbedaan pendapat dengan teror dan tindakan menakut-nakuti atau membakar buku --melainkan dengan membuka dialog ataupun debat publik demi melindungi demokrasi.

KETIGA, menuntut dihentikannya tindakan pelarangan buku atas alasan apapun. Bila terdapat perbedaan pandangan, yang diwakili sebuah buku, hendaknya dijawab dengan menerbitkan buku baru, yang mencerminkan pandangan yang berbeda --bukan dengan larangan.

Demikian pernyataan kami. Semoga demokrasi di negeri ini tetap abadi.

LAWAN FASISME, REBUT DEMOKRASI!

Jakarta, 7 Agustus 2007
Masyarakat Pencinta Buku Dan Demokrasi

Abdul Malik (aktivis Garda Kemerdekaan)
Abdullah Alamudi (Dewan Pers)
Abdurrahman Wahid (mantan presiden Republik Indonesia)
Aboeprijadi Santoso (wartawan, pensiunan Radio Nederland di Hilversum)
Agus Suwage (pelukis, tinggal di Jogjakarta)
Ahmad Taufik (wartawan majalah Tempo, seorang deklarator Aliansi Jurnalis Independen)
Alex Asriyandi Mering (wartawan, Borneo Tribune di Pontianak)
Amalia Pulungan (aktivis Institute Global Justice)
Andreas Harsono (wartawan, ketua Yayasan Pantau)
Andy Budiman (wartawan SCTV)
Anick H.T. (Jaringan Islam Liberal)
Anugerah Perkasa (wartawan, harian Bisnis Indonesia)
Asiah (koordinator Kontras Aceh)
Asvi Warman Adam (sejarawan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)
Ayu Utami (novelis “Saman” dan “Larung”)
Bekti Nugroho (wartawan, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia, Dewan Pers)
Bonnie Triyana (sejarawan, Masyarakat Indonesia Sadar Sejarah)
Budi Putra (sejarawan, wartawan, Asia Blogging)
Budi Setiyono (sejarawan, Masyarakat Indonesia Sadar Sejarah)
Coen Husain Pontoh (penulis, aktivis, tinggal di New York)
Daniel Dhakidae (penulis “Cendekiawan dan Kekuasaan dalam negara Orde Baru”)
Eko Endarmoko (penyusun “Tesaurus Bahasa Indonesia”)
Elias Tana Moning (Pendidikan Luar Sekolah, Outreach International)
Eva Danayanti (direktur eksekutif Yayasan Pantau)
Eva Sundari (anggota DPR, Fraksi PDI-Perjuangan)
Fadjroel Rahman (kolumnis harian Kompas)
Faisal Basri (ekonom tinggal di Jakarta)
Frans Anggal (pemimpin redaksi harian Flores Pos di Ende)
Franz Magnis Suseno (dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara)
Gandrasta Bangko (redaktur majalah Le Mariage)
Diana Kertamihardja (stylist majalah Le Mariage)
Eric Liem (visual designer majalah Le Mariage)
Andanari Triadi (stylist majalah Le Mariage)
Indhika Irasada (accountant majalah Le Mariage)
Ganjar Pranowo (sekretaris Fraksi PDI-Perjuangan DPR)
Garda Sembiring (People's Empowerment Consortium)
Garin Nugroho (sutradara)
Goenawan Mohamad (kolumnis “Catatan Pinggir” majalah Tempo)
Hairul Anwar (wartawan, Pantau Aceh)
Hamid Basyaib (Freedom Institute)
Hans Luther Gebze (penulis, aktivis Papua, kelahiran Merauke)
Hasif Amini (editor jurnal kebudayaan Kalam)
Hendra Fadli (aktivis hak asasi manusia, Kontras Aceh)
Hilmar Farid (sejarawan, Jaringan Kerja Budaya)
Ignas Kleden (Center for East Indonesian Affairs, Komunitas Indonesia untuk Demokrasi)
Imam Syuja (anggota DPR dari Partai Amanat Nasional, Banda Aceh)
Iqbal Farabi (Sekretaris Jendral Asosiasi Advokat Indonesia, Aceh)
J.J. Rizal (sejarawan, Komunitas Bambu, Jakarta)
Jeni Putri Tanan (aktivis gereja, penulis buku “Tangan Pernyertaan Tuhan”)
Kaka Suminta (wartawan Harian Terbit, tinggal di Subang)
Linda Christanty (penulis “Kuda Terbang Maria Pinto”, editor sindikasi Pantau Aceh)
Longgena Ginting (aktivis lingkungan hidup, Amsterdam)
Luthfi Assyaukanie (Universitas Paramadina)
M. Chatib Basri (ekonom)
M. Ridha Saleh (Komisi Nasional Hak Asasi Manusia)
Marco Kusumawijaya (ketua Dewan Kesenian Jakarta)
Melani Budianta (dosen Universitas Indonesia)
Mellyana Frederika Silalahi (penyiar radio, penulis, Bandung)
Moeslim Abdurrahman (PP Muhammadiyah, Ma’arif Institute for Culture and Humanity)
Mohamad Guntur Romli
(menulis buku ”Ustadz, Saya Sudah di Surga”)
Muhlis Suhaeri (penulis, tinggal di Pontianak)
Mulyani Hasan (Sekretaris Jendral Aliansi Jurnalis Independen, Bandung)
Mustawalad (Redelong Institut, Aceh)
Ninuk Kleden-Probonegoro (anthropolog, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)
Nirwan Dewanto (Teater Utan Kayu)
Nong Darol Mahmada (Jaringan Islam Liberal)
Nurani Soyomukti (aktivis Yayasan Komunitas Taman Katakata, Jakarta)
Rebeka Harsono (direktur Lembaga Anti Diskriminasi Indonesia)
Riri Riza (sutradara)
Rizal Mallarangeng (Freedom Institute)
Rosiana Silalahi (direktur pemberitaan SCTV)
Saiful Haq (Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia)
Saiful Mujani (Lembaga Survei Indonesia)
Samiaji Bintang (wartawan, Pantau Aceh)
Santoso (direktur Kantor Berita Radio 68H)
Sapariah Saturi-Harsono (wartawan, Ikatan Perempuan Pelaku Media, Pontianak)
Sari Safitri Mohan (penulis, tinggal di New York)
Setia Darma Madjid (ketua Ikatan Penerbit Buku Indonesia)
Siti Maemunah (Jaringan Advokasi Tambang)
Siti Musdah Mulia (direktur Indonesian Conference on Religion and Peace)
Siti Nurrofiqoh (ketua Serikat Buruh Bangkit Tangerang)
Sonny Tulung (presenter televisi “Famili 100”)
Subro (aktivis Madura, Sekolah Mitra Masyarakat di Pontianak)
Suciwati (Tifa Foundation, isteri almarhum Munir)
Syamsudin Harris (peneliti, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)
Teguh Santosa (wartawan, Rakyat Merdeka, mahasiswa University of Hawaii)
Titarubi (perupa, tinggal di Jogjakarta)
Todung Mulya Lubis (pengacara)
Tony Prabowo (komposer)
Ucu Agustin (novelis “Being Ing” dan membuat dokumentasi Pramoedya Ananta Toer)
Ulil Abshar Abdalla (Jaringan Islam Liberal, mahasiswa Universitas Harvard, Cambridge)
Wandy N. Tuturoong (Komunitas Utan Kayu)
Winston Rondo (koordinator Perkumpulan Relawan CIS Timor, Kupang)
Yeni Rosa Damayanti (Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika)

Saturday, August 04, 2007

Gus Dur Kecam Pembakaran Buku Sejarah


Jakarta, gusdur.net

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengecam pembakaran dan penyitaan sejumlah buku sejarah yang tidak menuliskan kata "PKI" di belakang "G30S". Pembakaran ini adalah tindak lanjut dari pelarangan buku-buku tersebut oleh Kejaksaan Agung atas desakan Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo di beberapa daerah, antara lain di Bogor dan Depok.

“Pendapat seperti itu pendapat goblog.” Demikian dikatakan Gus Dur dalam acara Kongkow Bareng Gus Dur dengan tema Pembakaran Buku Sejarah (04/08). Sebagai panelisnya adalah sejarawan Asvi Warman Adam dari LIPI.

Pendapat itu dikemukakan Gus Dur, karena ada berbagai versi peristiwa berdarah pada 30 September 1965. “Ketika menjadi presiden, saya pernah didatangi Ketua Umum Legiun Veteran Achmad Tahir. Waktu itu beliau belum meninggal. Dia ngomong sama saya kalau PKI itu begini, begini. Saya ngomong, "Lho Pak, sekarang ini ada tiga pendapat mengenai peristiwa ‘65 itu,” terang Gus Dur, yang pagi itu mengenakan batik coklat.


Tiga versi G30S tersebut adalah, pertama, bahwa yang membuat peristiwa itu Soeharto dan kawan-kawan. Kedua, dibuat oleh tentara seperti dikemukakan oleh Benedict Anderson dari Cornell University. Ketiga, PKI merupakan rancangan Soekarno sebagaimana pendapat Prof Dr Antonie CA Dake (intelektual Belanda). Versi ketiga ini disimpulkan dengan melihat proses verbal di Mahmilub.

Melalui cerita ini Gus Dur hendak menekankan bahwa perlu bijaksana dalam membaca sejarah Indonesia. “Membaca sejarah itu jangan emosional,” tegas Gus Dur.

Karena itu, Gus Dur menyebut tindakan pembakaran buku itu sebagai cerminan dari cara berpikir yang tidak karuan. “Memangnya kalau dibakar lalu selesai? Orang malah ingin tahu buku yang dibakar itu. Yang penasaran itu malah ingin mencari buku-buku tersebut untuk dibaca,” kata Gus Dur.

Di akhir acara, Pak Imron dari Bekasi menanyakan peristiwa pembantaian kyai di Madiun yang amat masyhur itu. “Kalau peristiwa Madiun 1948, bagaimana Gus? Itu kyai-kyainya disembelih sampai darahnya sedengkul (selutut). Kemudian ayah saya difitnah dan ditawan. Paman saya dibunuh,” rinci lelaki kelahiran 1950 itu.

Gus Dur menjawab pertanyaan tersebut dengan sebuah cerita yang didapatnya dari mantan Deputi Bakin Yono Suwoyo. “Dia dulu ajudannya paman saya, Mayor Jenderal Khalik Hasyim (adik Wahid Hasyim). Katanya, Pak Khalik berangkat dari Jombang ke Takeran, Madiun naik jip. Pak Yono jongkok dan bersembunyi di belakangnya,” rinci Gus Dur.

Sampai di Takeran, yang berlokasi di sebelah timur Madiun itu, terdapat sebuah sumur. “Di sumur itu dulunya 72 orang kyai dikubur hidup-hidup oleh PKI,” tambah Gus Dur.

Waktu itu, Pak Khalik menangis lalu mengeluarkan sumpah. “Saya akan habiskan PKI,” tutur Gus Dur menirukan kerabatnya itu. Keterangan Pak Yono ini menunjukkan bahwa peristiwa pembantaian itu memang terjadi alias bisa dipercaya. “Pak Yono orang Katolik. Jadi enggak mungkin mbelani begitu saja,” tutur Gus Dur.

Walaupun Gus Dur meyakini kisah tersebut, namun dia tak setuju dengan membalas dendam terhadap orang-orang eks-PKI. “Pertanyaan saya satu: apakah obatnya itu dengan merepresi PKI?” pancing Gus Dur.

Oleh sebab itu, Gus Dur berharap semua komponen bangsa menghentikan aksi saling mengumbar kekerasan. “Jangan lalu kita marah-marah terus saja pada PKI. Ada masanya marah. Ada masanya tidak marah,” saran Gus Dur.

Acara Kongkow Bareng Gus Dur ini ditutup dengan pemotongan tumpeng berkaitan dengan ulang tahun Gus Dur yang ke-67 yang jatuh pada 4 Agustus. Gus Dur pun diminta para hadirin menyampaikan harapannya. “Permintaan saya, negara kita menjadi negara yang besar dan kuat. Juga menjadi bangsa yang kuat,” ucap Gus Dur diamini para hadirin.

Friday, August 03, 2007

Aboeprijadi Santoso Pensiun


Aboeprijadi "Tossi" Santoso adalah seorang wartawan, warga negara Indonesia, yang terhormat. Bulan ini dia pensiun dari radio Nederlands. Kami sering bertemu saat liputan, terutama di daerah-daerah yang bergolak di seluruh Indonesia. Dia juga pernah sekali mampir di rumah saya di Jakarta. Saya membaca naskah-naskahnya, siaran radionya, maupun bukunya Jejak Jejak Darah: Tragedi dan Pengkhianatan di Timor Timur.

Saya tahu bagaimana dia mendapatkan liputan eksklusif, terutama soal Timor Leste dan Acheh, dan sering sekali saya kalah dari dia. Ini pertemanan wajar dua wartawan. Saling mengolok, saling bersaing, namun juga saling membantu, saling berbagi tips. Kami juga sama-sama sedih ketika tahu Ersa Siregar dari RCTI mati tertembak. Sebelum pergi ke Lhokseumawe, Siregar, Tossi dan saya menginap di Hotel Sultan, Banda Aceh.

Salah satu prestasi Tossi adalah membongkar kepalsuan Deklarasi Balibo dimana beberapa pemimpin Timor Leste teken dan minta integrasi dengan Indonesia pada November 1975. Tossi mewawancarai para penandatangan itu dan menemukan bahwa mereka dipaksa, setidaknya ditipu, agen-agen Bakin, A. Soegiyanto dan Luis Taolin, untuk teken di hotel milik Soegiyanto di Denpasar. Deklarasi inilah yang lantas dipakai Indonesia untuk menyerbu dan menduduki Timor Timur antara 1975 dan 1999.

Henry Sandee, kepala radio Nederlands, benar ketika menulis bahwa pensiunannya Tossi berarti hilangnya satu "institut" dalam lembaga ini. Kini Tossi sudah pensiun resmi dari Wereldomroep dan akan kembali ke Pulau Jawa --mungkin Blitar, mungkin Jakarta, mungkin Jogjakarta.

Saya juga akan kehilangan seorang pesaing yang tangguh. Saya tak percaya umurnya sudah 60 tahun. Tapi saya percaya, seorang wartawan macam Tossi, dalam arti yang sebenar-benarnya, tak pernah pensiun. Saya percaya dia akan terus menulis, terus bergerak. Kita harus memanfaatkan kehadiran Tossi di tanah air!
-- Andreas Harsono





Ia berada di Manila kala berlangsung revolusi kuning, di Moskow ketika berlangsung perlawanan terhadap Gorbhachov, di Phnom Penh saat perebutan kekuasan berkecamuk. Ia terkenal dengan laporannya yang "panas" dan berpihak tentang Timor Leste.

Enam puluh tahun
Pada tanggal 2 Agustus, Aboeprijadi Santoso -biasa dipanggil Tossi, berusia 60 tahun. Ia memutuskan untuk mengambil pensiun dan meninggalkan Wereldomroep. Sejak tahun 1985, Tossi bekerja sebagai jurnalis di bagian Redaksi Indonesia Wereldomroep. Sebelumnya ia aktif di bagian kami sebagai freelancer. Tossi adalah seseorang yang mengenal betul sejarah politik Indonesia, jurnalis yang penuh semangat, pembangun jaringan, seorang bohemian, penduduk dunia, dan pekerja yang melintasi batas teknologi di bidangnya.

Karenanya kepergian Tossi ini, kami sebut sebagai perginya satu "institut": perpustakaan hidup, kamus berjalan.

Datang ke Belanda
Tossi lahir di Blitar, sebuah kota di Propinsi Jawa Timur, yang juga kota kelahiran Presiden pertama Indonesia, Soekarno. Pada tahun 1967, ia pindah ke Eropa. Ayahnya kala itu menjabat sebagai Duta Besar Indonésia di Brussel. Tossi menjadi pelajar di Sekolah Indonésia di Wassenaar, dan akhirnya memutuskan melanjutkannya di Universiteit van Amsterdam.

Ia merasa betah di sana, layaknya ikan di dalam air, dan memfokuskan diri dalam bidang politik, masyarakat, dan sejarah Ásia Tenggara. Pada saat itu, Tossi berhubungan erat dengan banyak orang, antaranya Frans Hüsken, Henk dan Nico Schulte Nordholt, Sjef Theunis, dan lain sebagainya.

Kelak kala ia bekerja sebagai jurnalis di Wereldomroep, jaringan tersebut sangat berguna untuk Redaksi Indonésia. Tossi bertemu dengan istrinya, Mutia Samoen -yang juga berasal dari Indonésia, di Amsterdam. Mutia pernah kuliah di Rietveld Academie. Mereka mempunyai 3 orang anak : Putri, Asri, dan Ilham.

Dari Freelancer sampai Pekerja Tetap
Pada saat ia masih mahasiswa, Tossi mengalami saat-saat yang penuh gejolak dan hingar bingar. Dia tinggal di kraakpanden --rumah atau apartemen kosong yang diduduki, dan aktif dalam berbagai gerakan dunia ketiga, dan memegang peran penting sebagai oposisi melawan rejim Soeharto. Selama masa pemerintahan Soeharto, dia terus bersitegang dengan pemerintah, dan tidak selamanya bisa masuk ke Indonésia dengan leluasa.

Selama dan setelah menyelesaikan studinya, Tossi pun bekerja serabutan di sana-sini. Antaranya sebagai tukang pos, hingga akhirnya pada tahun 80-an bekerja sebagai freelancer di Wereldomroep. Dan pada tahun 1985 ia menjadi pekerja tetap.

Tossi kemudian berkembang sangat cepat, dan memiliki ciri khas sendiri dalam memandang dimensi suatu peristiwa. Ia banyak memfokuskan diri pada berbagai laporan dari medan perang dan daerah konflik. Tahun demi tahun berlalu, semakin banyak laporannya tentang berbagai situasi krisis. Dengan muatan yang sangat tajam.

''Imigran" Daerah Konflik
Ia berada di Manila kala berlangsung revolusi kuning, di Moskow ketika berlangsung perlawanan terhadap Gorbhachov, di Phnom Penh saat terjadi perebutan kekuasaan. Dan tentu saja, Tossi pun membuat berbagai laporan dari berbagai area konflik di Indonesia sendiri. Ia sangat terkenal dengan laporannya yang "panas" kala Indonesia masih berkuasa di Timor Leste. Opininya yang tajam, dan kepedasannya dalam mengkritik, kerap bikin pemerintah gerah. Setelah Timor Leste merdeka, Tossi pun "bermigrasi" ke daerah konflik lain : Aceh, Papua, Ambon, dan Poso.

Simpul jaringan
Jaringan yang dibangun Tossi sangat baik, dan ini amat membantu dinamika kerja. Kami, misalnya dengan mudah dapat menghubungi orang-orang macam Bisschop Belo, atau Presiden Xanana Gusmao dari Timor Leste, mantan Presiden Abdurracman Wahid, para aktivis GAM, dan puluhan lain. Sebagian dari mereka, suaranya pernah mengudara di Wereldomroep.

Terutama pada Zaman Orde Baru, rumah kediaman Tossi dan keluarganya, layaknya rumah penampungan. Bukan cuma para aktivis politik macam Henry Sirait --salah satu korban penculikan aktivis zaman Soeharto-- yang ikut 'ngamar' di ruang tamu mereka, tetapi juga Gus Dur pernah jadi tukang pijat sesama 'orang tampungan'.

Nara sumber
Tossi pun sangat menikmati kerjanya dalam jurnalistik tulis. Dengan senang hati ia menulis kolom-kolomnya dalam Situs Redaksi Indonesia, dan berbagai media massa Indonesia seperti Jakarta Post.

Tulisan-tulisan, dan wawancara-wawancaranya banyak disitat oleh para pemerhati Indonesia di pelbagai negara. Ia pun kerap menjadi nara sumber penting dalam berbagai seminar tentang Indonesia, baik di Belanda maupun pelbagai negara Eropah.


Lamban tapi pasti, Tossi akhirnya dapat juga menguasai hal-hal teknik yang berkaitan dengan radio. Yah itulah Tossi. Jika ia tengah dalam perjalanan dinas, maka Redaksi Indonesia dan Bagian Automatisering akan melakukan berbagai persiapan, dan bersiaga untuk diganggu oleh pertanyaan dan kepanikan.

Kamis pekan lalu (26/7), kami mengadakan pesta perpisahan yang hangat bersama Tossi dan keluarga. Tetapi ini bukan berarti suatu akhir, kami berharap di masa depan akan terus bekerja sama dengan Tossi.

Selamat Jalan.

Thursday, August 02, 2007

Nurmahmudi Membakar Buku, Hugo Chavez Membagi Sejuta Buku!

LAWAN PEMBAKARAN BUKU!
LAWAN FASISME!
TEGAKKAN DEMOKRASI!

Nurani Soyomukti
Penulis Buku Revolusi Bolivarian: Hugo Chavez dan Politik Radikal berkhidmat di Jaringan Kebudayaan Rakyat; pendiri Yayasan Komunitas Teman Katakata (Koteka) Jakarta



Sungguh menyedihkan membaca berita tentang seorang Walikota, pimpinan masyarakat perkotaan, berada di depan mempelopori penghancuran terhadap peradaban buku. Adalah Nurmahmudi Ismail, walikota depok, berada di paling depan aksi pembakaran buku-buku sejarah. Secara simbolis pemusnahan buku dengan cara dibakar tersebut dilakukan Nuramahmudi bersama Kepala Kejaksaan Negeri Depok Bambang Bachtiar dan Kepala Dinas Pendidikan Depok Asep Roswanda (Koran Tempo, 21/7.2007).

Yang ada dalam pikiran saya saat baca berita itu: Oh, kenapa masih ada saja pemimpin rakyat yang memundurkan kebudayaan dan peradaban bangsa, berada di depan untuk menghambat dan menghancurkan budaya ilmiah dan kebebasan berimajinasi dan berekspresi rakyatnya. Saya bertanya, adakah pemimpin-pemimpin di negeri terdahulu juga melakukan hal yang sama? Presiden-presiden Indonesia saja banyak yang menghargai buku, karya ilmiah, dan karya kesusatraan—kecuali Soeharto!

Karena saya telah melakukan penelitian tentang pribadi pemimpin besar bernama Hugo Chavez, presiden Venezuela, yang juga saya publikasikan dalam buku saya Revolusi Bolivarian: Hugao Chavez dan Politik Radikal, maka saya mulai tertarik menyelidiki hubungan Chavez dengan Buku.

Ternyata personality politic Chavez sungguh luar biasa, ia adalah pengagum buku. Saya bayangkan, Nurmahmudi Ismail, yang walikota saja, secara jahat memusuhi kebebasan buku-buku mewarnai peradaban Indonesia, bagaimana kalau saja ia menjadi Presiden seperti Chavez, Gus Dur, Soekarno, Megawati, atau lain-lainnya?

Karena kecintaan akan sastra itu, Chavez memperbanyak dicetaknya karya-karya sastrawan Amerika Latin, ia membagi-bagikan secara gratis satu juta naskah buku sastra (novel) Don Quixote, yang dirayakan ulang tahunnya yang ke-400 di seluruh dunia pada tahun 2005. Don Quixote de la Mancha (bahasa Sepanyol: Don Quijote) adalah sebuah novel karya Miguel de Cervantes Saavedra, yang dianggap secara meluas sebagai karya bahasa Spanyol yang terbaik di dunia dan kini merupakan lambang karya kesusasteraan Spanyol. Diterbitkan pada tahun 1605, ia adalah salah satu novel paling awal dalam bahasa Eropa modern. Chavez membagikan sejuta naskah karya sastra tersebut dalam rangka merayakan kemenangan program melek huruf yang keberhasilannya dipuji oleh UNICEF.

Buku dan Manusia Besar
Adakah keterkaitan antara membaca sastra dengan karakter kepemimpinan seorang presiden? Mungkin pertanyaan ini tidak begitu penting karena hendak mengkhususkan pertanyaan tentang apa pengaruh sastra bagi manusia? Dan jawaban atas pertanyaan tersebut sebenarnya telah banyak dijawab oleh berbagai macam pengamat.

Pertanyaan tersebut, bagi saya, cukup masih relevan bagi kita, terutama pada saat kehidupan kesusastraan dan peradaban literer di negeri ini mundur. Saya membayangkan bahwa kemunduran kebudayaan literer inilah yang menjadi salah satu penyebab kemunduran bangsa ini. Budaya membaca dan menulis di negeri ini masih minimal. Kebebasan membaca dan menulis juga terpasung. Membaca dianggap sebagai tindakan yang asosial, pekerjaan pemalas, dan tiada guna. Hal ini berbeda dengan di negara-negara maju, seperti Eropa dan Jepang, di mana orang terbiasa melakukannya (membaca) di ruang tunggu, di dalam kereta api bawah tanah, yang penumpangnya tidak bertegur sapa karena membaca, tidak saling tersenyum. Bukan berarti mereka terasing atau individualis, tetapi tulisan memang menyerbu masuk dan menghantam lingkaran hubungan langsung satu-satu secara familiar, ramah, hangat, dan membahagiakan.

Menulis juga belum menemukan ruang kebebasannya. Tidak ada orang yang bebas menuliskan apa yang dianggapnya sebagai ungkapan, harus berhadapan dengan pembakaran buku, sweeping, juga pelarangan dari negara dan sebagian kelompok sektarian yang memaksakan "kebenaran tunggal" atas nama pertahanan dan keamanan, moral, dan agama. Tidak ada wacana yang bebas berkontestasi diiringi dengan infantilitas pemaknaan budaya. Lontaran wacana dilawan dengan pedang dan aksi massa, dan itulah yang membuat kebebasan mendekam dalam ruang kepengecutan, ketakutan, dan sempitnya imajinasi masyarakat.

Negeri ini juga tidak lagi beruntung karena pemimpin (presidennya) kurang menghargai imajinasi dan ekspresi literer rakyatnya. Bahkan kita juga miskin pemimpin yang menyukai karya sastra, peradaban buku, habitus baca-tulis, dan pembudayaan bangsa melalui budaya membaca dan menulis. Saya tidak tahu bagaimana pengaruh sastra terhadap presiden Susilo Bambang Yudoyono dan atau wakilnya Jusuf Kalla.

Tetapi mungkin kita masih (pernah) punya Gus Dur, seorang yang, menurut saya, sangat menyokong imajinasi manusia-manusia Indonesia dengan menghargai kebebasan berpikir, mendukung budaya baca-tulis. Bahkan dalam hal ini pribadi Gus Dur sangat menarik (unik) karena ia sendiri juga penikmat dan penulis sastra, pengarang buku, dan juga pandai mengulas karya sastra dan karya intelektual. Tak heran jika hal itu juga berpengaruh pada wataknya yang pluralis, mencintai kedaulatan bangsa, progresif, dan tidak hitam-putih dalam melihat persoalan.

Kita, selain Gus Dur, juga pernah mempunyai Soekarno, presiden pertama Republik yang banyak membaca karya-karya pemikir dan sastrawan besar. Soekarno juga seorang perenung, pengarang dan pencipta, menulis dan melukis. Tak heran jika kemudian ia menjadi tokoh besar yang dikenang oleh rakyat dan masyarakat dunia. Jatuhnya beliau juga sekaligus menandai matinya peradaban literer bangsa ini karena pemberangusan terhadap karya secara intensif dikonsolidasikan melalui gerakan militeristik, yang memperalat negara di era Orde Baru.

Hugo Chavez, Buku, dan Sastra
Untungnya di luar negeri kita, hari-hari belakangan kita masih bisa menjumpai pemimpin yang kharisma dan terobosannya mirip Bung Karno di tahun 1960-an, seorang presiden yang membangun bangsanya dengan prinsip kedaulatan, dengan suara yang sama nyaringnya dengan presiden pertama Indnesia dalam hal anti penjajahan global, anti-imperialisme. Terpilih dua kali (pemilu 1998 dan 2006) dengan suara yang meningkat dan dukungan semakin kuat dari rakyatnya, Hugo Chavez presiden Venezuela memberikan demokrasi dan kesejahteraan berbasiskan pada demokrasi partisipatoris: bukan demokrasi komunis-diktator yang memasung kebebasan berekspresi, juga bukan demkrasi liberal-borjuis yang mengagung-agungkan kebebasan tetapi hanya kosong dengan formalitas dan proseduralitas demokrasi pemilu lima tahun sekali.

Demokrasi partisipatoris (participatory democracy) telah membuat rakyat berpartisipasi aktif terlibat dalam pengambilan kebijakan, mengontrol dan bahkan mengeksekusi sendiri program-program kerakyatan. Chavez dan rakyatnya mengakses kesehatan dan pendiikan gratis. Chavez berhasil membebaskan Venezuela dari buta huruf di tahun 2005 lalu (data UNICEF) dan meluluskan 900.000 orang yang drop out sekolah dasar di tahun 2004. Mission Ribas menyekolahkan orang-orang yang drop out SLTA, dan Mission Sucre memberi beasiswa untuk orang miskin masuk ke Perguruan Tinggi. Secara simultan juga membangun 200 Universitas Simon Bolivar di kota-kota. Selama 102 tahun rakyat tak pernah membayangkan program-program sosial ini dapat dinikmati dengan gratis (Soyomukti, 2007: 134).

Komunitas-komunitas baca-tulis dijumpai di berbagai tempat, karya Gabrielle Garcia Marquez, Pablo Neruda, Giconda Belli, Marti, dan para sastrawan Amerika Latin dapat diakses oleh rakyat. Untuk melawan media-media kaum oposisi (borjuis) yang menguasai 90% media, pendukung Chavez membangun dan memperluas media komunitas sehingga peradaban baca-tulis dan kesusatraan dapat meluas ke masyarakat banyak. Banyak yang keheranan, ketika semua media (TV, radio, surat kabar) terus saja menyerang Chavez, tokoh ini bukannya kekurangan legitimasi tetapi malah semakin didukung rakyat.

Meskipun berlatarbelakang seorang tentara, humanisme dan jiwa kerakyatan Chavez bertolak belakang dengan para pemimpin lain yang berlatar belakang tentara (semacam Soeharto atau Susilo di Indonesia). Sejarah telah membentuk Chavez, sang Hugo (Manusia Besar), menjadi manusia yang cerdas, berkarakter kerakyatan, dan memiliki sensitivitas tinggi. Salah satu yang menonjol adalah karena Chavez membaca, menyukai buku-buku, dan keranjingan sastra.

Ketika menerima pendidikan militer ia tak hanya membaca literatur Clausewitz, Bolivar, Paez, Napoleon, dan Anibal. Dia juga mengunyah karya Mao dan darinya ia mengobsesikan sebuah peran kerakyaan. Ucapan Mao yang sering ia kutip adalah: "Rakyat bagi tentara adalah ibarat air bagi ikan".

Dari situ, sesungguhnya Chavez sejak awal telah berkenalan dengan bacaan-bacaan yang kemudian hari menentukan pandangannya sebagai seorang tentara. Visi militer-sipil yang ada padanya akan mengarahkan dia untuk membangun hubungan kuat antara militer dengan rakyat miskin. Ada buku lainnya yang juga berpengaruh dalam hal itu. Di antaranya adalah buku yang ditulis oleh Claus Heller, berjudul, "Tentara Sebagai Agen Perubahan Sosial" atau, El ejercito como agente de cambio social. Tentu saja buku-buku lainnya.

Selain buku-buku kemiliteran dan strategi-perang, ia juga membaca banyak hal dan Chavez adalah orang yang suka membaca—sebagaimana para pemimpin-pemimpin besar lainnya yang muncul di jagat ini. Buku "Venezuela: Sebuah Demokrasi yang Sakit," atau Venezuela: Una democracia enferma, yang ditulis oleh seorang anggota Partai Aksi Demokratik, juga mempengaruhi cara berpikirnya. Buku itu mendefinisikan demokrasi dengan baik, sebagai sebuah sistem pemerintahan rakyat; siapakah rakyat, hak asasi, dan hak-hak rakyat.

Kecintaan Chavez pada buku dan minatnya untuk mendidik rakyatnya dengan buku-buku dan karya sastra tidak berhenti hingga ia menjadi orang nomer satu di negeri yang kaya minyak itu. Setiap kali ia mengutip puisi-puisi Pablo Neruda (penyair asal Chili) dan dia tetap keranjingan dengan kata-kata indah. Dalam setiap pidato dan tulisannya kata-kata pilihan selalu dikutipnya. Tak mengherankan, karena obsesinya pada kebudayaan literer ini, ia menutup ijin sebuah stasiun TV swasta (RCTV). TV itu hanya menjadi alat propaganda menyerang dirinya dan terlibat dalam kudeta April 2002 untuk menggagalkan program-program kerakyatan, tapi juga TV yang dikenal paling banyak menayangkan telenovela (opera sabun) dan dekadensi gaya hidup borjuis yang tidak mendidik rakyat, yang membuat rakyat hanya terilusi dengan gaya hidup yang tak bisa diraihnya, iming-iming konglomerat negeri itu, segelintir orang yang pernah (dan masih akan) memusuhi dirinya.***